Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

Senin, 30 November 2020

Ancaman yang menghantui masyarakat Dieng, bukan saja letusan gunung api dan hembusan gas beracun, namun juga bahaya ekologis

bc473692-009c-4c58-a441-71788771c6a2.jpg
T Bachtiar
Gunung Sundoro dilihat dari Gunung Pakuwaja, Dieng

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

SEMULA, hutan yang lebat di kawasan ini berfungsi sebagai danau yang tak nampak, menyimpan air ribuan meter kubik di dalam tanah, yang kemudian dikeluarkan secara teratur di mata air, lalu mengalir ke cekungan-cekungan yang membentuk telaga. Alam Dieng seluas 84 km persegi itu dikaruniai pula mata air panas.

Pesona Dieng dengan titik tertingginya 2.565 m. dpl., semakin mengagumkan dengan telaga-telaganya. Kekaguman akan keindahpermaian menjadi dasar pemberian nama kawasan. Konon, Dieng berasal dari kata di dan hyang, yang artinya tempat suci, tempat bersemayamnya dewata.

Dataran Tinggi Dieng merupakan kompleks gunungapi yang memanjang barat daya – tenggara, dengan kerucut-kerucut yang tersebar di dalamnya, danau-danau kawah, rona bumi yang rata dan bergelombang, menjadikan kawasan ini terasa atraktif untuk dinikmati.

Rupa bumi kawasan ini tidak lepas dari kegiatan gunung-apinya dari waktu ke waktu yang terus dinamis sampai saat ini. Kegiatan kegunungapiannya dapat dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama dikenal dengan Periode Pra Kaldera yang terjadi pada Kuarter Bawah, dicirikan dari kegiatan kegunungapian dari Rogojembangan (Jimat), Tlerep, dan Prau.

Periode kedua berupa periode terbentuknya kaldera, yang di dalamnya berkembang kerucut-kerucut dan kawah, seperti: Gunung Bisma, Gunung Seroja, Gunung Nagasari, Gunung Palangonan dan Merdada, Gunung Pagerkandang, Gunung Sileri, Gunung Igirbinem, dan Kompleks Gunung Dringo - Petarangan.


 

BACA JUGA: Di atas Mega-mega Dieng

 


Periode ketiga menghasilkan beberapa titik letusan dan kubah lava, seperti: Kawah Sikidang, Kubah Sikidang, Gunung Pakuwaja, Kubah Prambanan, Kubah Kunir, Kubah Kendil, Kubah Watusembul, dan Kawah Sikunang.

Bagaimana Dataran Tinggi Dieng itu terbentuk, van Bemmelen berpendapat bahwa Pegunungan Dieng itu berada pada titik pertemuan dua jalur gunung api, yaitu jalur Gunung Ungaran – Gunung Dieng – Gunung Rogojembangan yang berarah timur – barat, dan jalur Gunung Sumbing – Gunung Sundoro – Gunung Dieng yang berarah tenggara – barat laut. Kerucut-kerucut muda yang berkembang di Pegunungan Dieng terbentuk pada bagian barat yang runtuh/turun dari tubuh gunung api tua Prau.

Sukhyar mengemukakan bahwa Gunung Prau itu merupakan sisa gunungapi Dieng Tua bagian timur yang telah terpatahkan/tersesarkan, sehingga bagian baratnya relatif turun. Pegunungan Dieng merupakan daerah yang banyak terdapat patahan/sesar.

Struktur runtuhan kompleks Dieng pada akhir Plistosen menghasilkan zona sesar/patahan yang luas yang berarah timur-barat dan sesar yang berarah utara-selatan yang membentuk struktur graben, yang turun di bagian tengahnya.

Karena di Dataran Tinggi Dieng terdapat banyak sesar/patahan, maka di sepanjang jalur sesar itulah terdapat lubang-lubang letusan gunungapi, seperti Kawah Candradimuka, Sileri, dan Sikidang.

Kawah Sinila dan Kawah Timbang merupakan titik potong dua jalur sesar, sehingga dua kawah ini merupakan titik lemah dari jalur tempat keluarnya gas racun, dan akan terpicu bila terjadi letusan dari kawah-kawah utama, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1979 di Kawah Sinila.

Halaman berikutnya: Tanah dan gas kesuburan...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR