Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

Senin, 30 November 2020

Ancaman yang menghantui masyarakat Dieng, bukan saja letusan gunung api dan hembusan gas beracun, namun juga bahaya ekologis

bc473692-009c-4c58-a441-71788771c6a2.jpg
T Bachtiar
Gunung Sundoro dilihat dari Gunung Pakuwaja, Dieng

 

Oleh T Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

 


 

SEMULA, hutan yang lebat di kawasan ini berfungsi sebagai danau yang tak nampak, menyimpan air ribuan meter kubik di dalam tanah, yang kemudian dikeluarkan secara teratur di mata air, lalu mengalir ke cekungan-cekungan yang membentuk telaga. Alam Dieng seluas 84 km persegi itu dikaruniai pula mata air panas.

Pesona Dieng dengan titik tertingginya 2.565 m. dpl., semakin mengagumkan dengan telaga-telaganya. Kekaguman akan keindahpermaian menjadi dasar pemberian nama kawasan. Konon, Dieng berasal dari kata di dan hyang, yang artinya tempat suci, tempat bersemayamnya dewata.

Dataran Tinggi Dieng merupakan kompleks gunungapi yang memanjang barat daya – tenggara, dengan kerucut-kerucut yang tersebar di dalamnya, danau-danau kawah, rona bumi yang rata dan bergelombang, menjadikan kawasan ini terasa atraktif untuk dinikmati.

Rupa bumi kawasan ini tidak lepas dari kegiatan gunung-apinya dari waktu ke waktu yang terus dinamis sampai saat ini. Kegiatan kegunungapiannya dapat dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama dikenal dengan Periode Pra Kaldera yang terjadi pada Kuarter Bawah, dicirikan dari kegiatan kegunungapian dari Rogojembangan (Jimat), Tlerep, dan Prau.

Periode kedua berupa periode terbentuknya kaldera, yang di dalamnya berkembang kerucut-kerucut dan kawah, seperti: Gunung Bisma, Gunung Seroja, Gunung Nagasari, Gunung Palangonan dan Merdada, Gunung Pagerkandang, Gunung Sileri, Gunung Igirbinem, dan Kompleks Gunung Dringo - Petarangan.


 

BACA JUGA: Di atas Mega-mega Dieng

 


Periode ketiga menghasilkan beberapa titik letusan dan kubah lava, seperti: Kawah Sikidang, Kubah Sikidang, Gunung Pakuwaja, Kubah Prambanan, Kubah Kunir, Kubah Kendil, Kubah Watusembul, dan Kawah Sikunang.

Bagaimana Dataran Tinggi Dieng itu terbentuk, van Bemmelen berpendapat bahwa Pegunungan Dieng itu berada pada titik pertemuan dua jalur gunung api, yaitu jalur Gunung Ungaran – Gunung Dieng – Gunung Rogojembangan yang berarah timur – barat, dan jalur Gunung Sumbing – Gunung Sundoro – Gunung Dieng yang berarah tenggara – barat laut. Kerucut-kerucut muda yang berkembang di Pegunungan Dieng terbentuk pada bagian barat yang runtuh/turun dari tubuh gunung api tua Prau.

Sukhyar mengemukakan bahwa Gunung Prau itu merupakan sisa gunungapi Dieng Tua bagian timur yang telah terpatahkan/tersesarkan, sehingga bagian baratnya relatif turun. Pegunungan Dieng merupakan daerah yang banyak terdapat patahan/sesar.

Struktur runtuhan kompleks Dieng pada akhir Plistosen menghasilkan zona sesar/patahan yang luas yang berarah timur-barat dan sesar yang berarah utara-selatan yang membentuk struktur graben, yang turun di bagian tengahnya.

Karena di Dataran Tinggi Dieng terdapat banyak sesar/patahan, maka di sepanjang jalur sesar itulah terdapat lubang-lubang letusan gunungapi, seperti Kawah Candradimuka, Sileri, dan Sikidang.

Kawah Sinila dan Kawah Timbang merupakan titik potong dua jalur sesar, sehingga dua kawah ini merupakan titik lemah dari jalur tempat keluarnya gas racun, dan akan terpicu bila terjadi letusan dari kawah-kawah utama, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1979 di Kawah Sinila.

Halaman berikutnya: Tanah dan gas kesuburan...

 

Kesuburan tanah di kawasan gunung api aktif ini telah memikat para petani untuk mengolah tempat kahyangan menjadi kawasan pertanian. Selain kesuburan tanahnya, gunung api pun melepaskan lebih dari 130 juta ton CO2 setiap tahunnya.

Gas ini menjadi tidak berbahaya bila langsung dilepaskan ke udara secara teratur dan terus menerus. Kandungan karbon dioksida di udara segar bervariasi antara 300 ppm sampai 600 ppm dan ambang batasnya 5.000 ppm.

Para petani akhirnya mengetahui bahwa hembusan gas gunung api yang keluar dari rekahan-rekahan di sekitar kebun mereka menyebabkan tanamannya tumbuh lebih subur. Memang, tumbuhan dapat menyerap CO2 dengan cara fotosintesis, kemudian diolah menjadi gula yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Itulah yang menjadi magnet bagi petani untuk terus mengolah lereng di keterjalan, yang sesungguhnya tidak cocok lagi untuk diolah menjadi daerah pertanian musiman.

Namun, karena nilai ekonomis kentang yang tinggi, telah menyedot para petani untuk terus mengolah lahan, dan tidak menghiraukan lagi larangan untuk menanam tanaman musiman di lereng dengan kemiringan di atas 60%. Kondisi lingkungan yang sangat kritis itu menyebabkan tanah pucuk yang tergerus mencapai lebih 180 ton/ha/tahun.

Tanah subur itu terbawa aliran permukaan saat hujan turun, menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun, yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas lahan, sehingga hasil kentangnya akan terus menurun pula.  Tanah subur itu akhirnya berpindah mengisi lembah dan telaga.

Pelumpuran itu telah mendangkalkan telaga, bahkan ada beberapa yang mengering. Telaga yang tersisa warnanya berubah menjadi coklat gelap, menjadi butek. Inilah ancaman paling berbahaya yang menghantui masyarakat Dieng, bukan saja ancaman letusan gunung api dan hembusan gas beracun, namun juga bahaya ekologis.


 

BACA JUGA: Partitur Jejak Lava Gunung Batur

 


Pepohonan yang semula berdiri tegak memayungi alam Dieng, meredam energi Matahari berlebih, menyaring air hujan, kini pohon itu telah menghilang, padahal, tumbuhan itu dapat mengurangi kadar karbon dioksida di udara dengan cara fotosintesis.

Dampak lainnya, pada bulan-bulan tertentu, ketika suhu mencapai -20 C, langsung membekukan embun yang bergelantungan di dedaunan. Embun yang mematikan tanaman ini disebut bun upas, embun racun, berbahaya bagi tanaman.

Dataran Tinggi Dieng yang terletak di 7,200 LS dan 1900 LS itu laksana lemari pendingin raksasa. Bila pagi menjelang, atau saat matahari beranjak ke peraduan, Dieng menjadi putih berselimut kabut. Embun yang menyerpih dan mengeras, menyebabkan daun sayuran itu layu, kemudian mati.*  



BAGIKAN

BERI KOMENTAR