Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Berburu Api Biru di Kawah Gunung Ijen (1)

Senin, 6 Juli 2020

Ketika gulita, panas uap belerang itu mengalir menjilati malam, laksana sungai api berwarna biru.

3718afd5-4190-4ce2-9d3d-ffc90eed193b.jpg
T Bachtiar

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai dari sisi edukasi dan membantu mendorong upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan serial artikel perjalanan ke Taman Wisata Alam Ijen. Artikel ini merupakan bagian pertama dari tiga tulisan. 

_______________________________________________________

Oleh: T. Bachtiar (Redaktur Senior Kabaralam.com)

AROMA belerang sudah tercium jauh sebelum sampai di bibir kawah. Malam tak berbintang, angin dingin bertiup kecang. Para pendaki berkelompok, mempersiapkan diri sambil menanti giliran menuruni dinding bagian dalam kawah Gunung Ijen.

Lampu-lampu senter dan perlengkapan diperiksa. Berjalan menuruni lereng bebatuan dalam gulita malam, memerlukan kehati-hatian.

Api biru, blue fire, atraksi alam yang menjadi magnet, yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Pancaran api biru itu merupakan pembakaran sulfur yang bereaksi dengan udara. Gejala alam inilah yang yang menjadi buruan para wisatawan.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Langkah Pertama Rawa dan Mama Rawa di Tanagupa

_________________________________________________________________________

Hanik Humaida, Kepala BPPTKG Yogyakarta melalui komunikasi melalui pesan whatsapp, Selasa  (3/7/2020), menjelaskan, gas sulfur itu keluar dari dinding-dinding kawah. Api biru atau blue fire secara umum dapat dilihat setelah matahari terbenam. Mulai jam 18.00, blue fire sudah tampak.

Makin malam, api birunya akan semakin jelas. Api biru akan terlihat dengan bagus bila terdapat angin di dalam kawah. Bila tidak ada angin, blue fire menjadi tidak kelihatan karena tertutup asap. Pagi hari sampai jam 04.00, api biru masih dapat dilihat dengan bagus. Tapi pada jam 05.00, api birunya mulai nampak tipis.

Bila wisatawan memiliki waktu yang terbatas, tapi ingin menyaksikan jilatan api biru di dasar kawah, maka perlu mengatur jadwal perjalanan dengan baik, agar saat fajar sudah berada di tubir kawah.

Sesuai kemampuan berjalan dalam suhu dinihari yang mencapai sembilan derajat celsius, rombongan itu harus sudah meninggalkan Paltuding pada jam yang sudah ditentukan. Dorongan untuk menyaksikan jilatan api biru dari dekat, mengalahkan kantuk dan dingin. Atraksi alami api biru di dasar kawah telah menyedot minat banyak wisatawan.

Paltuding yang berada di lembah antara Gunung Ijen dan Gunung Rante, menjadi tempat akhir berkendara, baik dari arah Bondowoso maupun dari Banyuwangi, dan menjadi titik awal pendakian. Dari sini, bibir kawah Gunung Ijen akan dicapai dengan berjalan kaki selama dua setengah sampai tiga jam. 

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Meredam Pulau Bahang di Kota Kita

_________________________________________________________________________

Paltuding dicapai melalui jalur utara maupun jalur selatan. Bila melalui jalur utara, ditempuh melalui Situbondo - Bondowoso - Wonosari - Desa Sempol – Paltuding, dengan jarak sekitar 93 km, ditempuh selama dua sampai dua setengah jam. Kalau melalui jalur selatan, ditempuh melalui Kota Banyuwangi -  Desa Licin – Paltuding, dengan jarak 40 km, dengan medan jalan berkelok dengan lembah yang curam. 

Sebelum waktu fajar, rombongan pemburu keajaiban alam di kawah Gunung Ijen, mereka yang berminat menyaksikan jilatan api biru, mulai menuruni lereng berbatu di bagian dalam kawah sampai di dasarnya, dengan kemiringan yang sangat terjal ini memerlukan waktu 30-45 menit.

halaman selanjutnya ... 

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR