Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Banyupahit ke Banyuputih, dari Rasa turun ke Mata

Kamis, 9 Juli 2020

Air danau kawah Gunung Ijen tercatat sebagai air danau gunung api terasam di dunia

feb38c29-360e-4d7f-bf54-b0212f827b2e.jpg
T Bachtiar
Kawah Gunung Ijen

Dalam upaya turut mendorong kegiatan wisata alam yang lebih bernilai dari sisi edukasi dan membantu mendorong upaya konservasi, pekan ini kabaralam.com menurunkan artikel berseri perjalanan ke Taman Wisata Alam Ijen. Artikel ini merupakan bagian ketiga dari tiga tulisan.

___________________________________________________________________

 

Oleh: T. Bachtiar (Redaktur Senior kabaralam.com)

Ketika matahari pagi mulai bersinar terang, danau kawah Gunung Ijen terlihat jelas, bentuknya melingkar indah 910 m x 600 m, yang terbentuk 6.000 tahun yang lalu. Kedalaman danau yang diukur dari muka air ke bawah, sangat berhubungan dengan volume airnya.

Bila diukur kedalaman danau, sekaligus akan diketahui turun atau naiknya permukaan air danau. Tahun 1922 kedalamannya 220 m, tahun 1925 berkurang menjadi 190 m, tahun 1938 bertambah lagi menjadi 200 m, dan pada tahun 1996 bagian terdalamnya 185 m.

Pada 1938, isi air danau kawah sebanyak 36 juta meter kubik (K. Kusumadina, 1979). Setelah 58 tahun berlalu, menurut Takano (1996), volume air kawahnya tinggal 30 juta meter kubik.

___________________________________________________________________

BACA JUGA: Berburu Api Biru di Kawah Gunung Ijen (1)

___________________________________________________________________

Air danau kawah Gunung Ijen tercatat sebagai air danau gunung api terasam di dunia dengan pH 0,2. Sebagai gambaran betapa asamnya air danau kawah Gunung Ijen, kita dapat membandingkannya dengan ph air baku yang dapat dipergunakan dalam kehidupan.

Derajat keasaman, pH dinyatakan dalam angka antara 0-14. PH 7 menunjukkan air yang netral. pH di bawah 7 menunjukkan air bersifat asam, dan pH di atas 7 menujukkan air bersifat basa. PH air permukaan yang normal, pH-nya antara 6,5 sampai 8,5. Dengan mengetahui standar ini, jelaslah betapa asamnya air kawah Gunug Ijen tersebut. 

Pada tahun 1921, Pemerintah Kolonial Belanda membangun bendungan untuk mengatur ketinggian muka air danau. Namun, kini bendungan itu tidak berfungsi lagi karena air danau kawah merembes di bawah bendungan, menjadi hulu sungai yang berair asam, mengalir sejauh 40 km ke utara sampai di dataran pantai dekat Asembagus.

Sungai di bagian hulu dinamai Kali Banyupahit. Di Desa Blawan, dua anak sungai, yaitu Kali Sat, Kali Sengon, dan air dari sumber air panas masuk ke sungai utama, pasti mempengaruhi kandungan kimiawi air sungainya.

___________________________________________________________________

BACA JUGA: Transformasi Hutan Kemasyarakatan di Kalibiru

___________________________________________________________________

Warnanya dasar sungainya berubah menjadi keputih-putihan, karena endapan belerang warna putih-susu. Kenampakan sungai itulah yang menyebabkan Kali Banyupahit di hulu, namanya berubah menjadi Kali Banyuputih.

Air sungai dengan kandungan belerang yang masih sangat asam akan berdampak pada kesehatan masyarakat yang memanfaatkan air sungai dalam pemenuhan kebutuhan hariannya. Dampak yang paling terlihat adalah gangguan dan kerusakan pada gigi, karena zat yang sangat asam itu bersifat korosif.

Di hilir, ketika Kali Banyuputih memasuki dataran pantai dekat Asembagus, air sungai ini digunakan untuk irigasi yang dapat mengairi lahan pertanian padi dan tebu. 

halaman selanjutnya ...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR