Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Zona Tradisional, Kearifan Lokal dan Konservasi

Minggu, 18 April 2021

Resistensi kelompok nelayan tradisional terhadap illegal fishing di beberapa tempat di TN Sebangau sangat luar biasa

Hidayat Turrahman, S.Hut Hidayat Turrahman, S.Hut PEH Muda Taman Nasional Sebangau 86428b4c-266e-4722-9bde-6c730c78c920.jpg

Beberapa saat lalu saya berkesempatan mengikuti nelayan tangkap tradisional mengambil rawe, sejenis alat tangkap ikan menggunakan tali dengan panjang berkisar antara 50 – 100 meter, per 2 meter dipasang pancing dengan ukuran tertentu, sehingga jika panjang rawe 100 meter maka ada 50 pasang kail yang terpasang.

Ini merupakan keisengan kelima kalinya bagi saya, sebelumnya saya lakukan namun berbeda alat dan tempat. Saya pernah mengikuti mereka me-rengge (menjala), me-lunta (sejenis jala namun penggunaannya dilempar dari atas perahu atau jalan/tebing sungai), mem-bubu, alat tangkap yang dijalin dari bambu bentuknya memanjang dan biasa dipasang pada air dangkal.

_________________________________________________________

 

BACA JUGA: 

Policy Space dalam Pengelolaan Taman Nasional

 

________________________________________________________

Terdapat beberapa alat tradisional lainnya yang biasa digunakan diantaranya rambat yaitu alat tangkap dengan bentuk kubus terbuat dari jalinan tali nylon dengan ukuran menengah, yang lebih besar disebut kalang sejenis rambat namun bahannya dari bambu alat sejenis lainnya disebut tempirai sama dengan rambat dan kalang hanya bahannya terbuat dari kawat dan ukurannya kecil.

 

Pola memasang alat tangkap ini juga berbeda, Jika air sedang tinggi maka rawe dan rambat menjadi alat yang dipasang namun jika surut maka bubu, lunta dan lainnya yang akan digunakan. Keterampilan dan pengetahuan ini membuat siklus tersendiri bagi masyarakat terutama jenis ikan yang akan ditangkap sesuai musim yang sedang berjalan.

Memperhatikan jenis alat yang digunakan dan cara membuatnya, seluruh pekerjaan ini mempunyai makna tentang ketelitian dan kesabaran. Jika kita yang tidak terbiasa, atau hanya sesekali melihat cukup kebingungan melihat bagaimana jala itu dijalin dengan sebegitu detil dan panjang, memperhatikan bubu diraut dengan ukuran yang sama dan dijalin sempurna. Bagaimana menata mata kail rawe agar tidak kusut semuanya memerlukan keterampilan dan pengalaman bisa karena terbiasa dan memang benar pengalaman adalah ilmu terbaik.

Di atas adalah cerita saya tentang nelayan dan alat tangkap tradisionalnya yang intinya agar sama-sama kita pahami bahwa nelayan tradisional adalah nelayan yang menggunakan perangkat sama dengan yang digunakan oleh generasi sebelum mereka, saya menyebutnya warisan kearifan manusia terhadap alam.

Kemurnian pengetahuan biasanya akan tetap memihak pada nurani untuk memenuhi kebutuhan dengan menjunjung tinggi nilai kehidupan, pergeseran terapannya sering dipengaruhi oleh ambisi, keserakahan dan ingin menguasai sehingga mempunyai kecenderungan mengeksploitasi semua tujuan besarnya keuntungan bukan tentang kehidupan.

Di era millennial, ada hal yang unik dan menarik mengamati aktivitas sungai dan beberapa zona tradisional di TN Sebangau. Hutan rawa gambut yang hampir selalu tergenang dengan warnanya yang hitam menjadi magnet tersendiri bagi para “penipu ikan” saya menyebutnya demikian untuk para komunitas kegemaran yang  kebanyakan datang dari luar kota dan bukan penduduk domisili.

Mengambil data hasil wawancara dengan masyarakat Nelayan Sebangau, dalam seminggu rata-rata kunjungan komunitas ini dua hingga tiga kelompok, atau 8 s/d 12 kelompok dalam sebulan. Sempat terhenti diawal-awal pandemi 2021 namun tiga bulan pertama 2021 mengalami peningkatan.

Yang menarik tidak semua kunjungan dengan tujuan memancing namun mulai bergeser untuk memburu materi konten, mengambil gambar foto dan video semua aktivitas yang masyarakat nelayan lakukan kemudian diolah dan ditayangkan dalam dunia “sebelah” eksistensi nelayan dalam era ide dan kreativitas belum mengalami pergeseran.

Akan tetapi, aktivitas ini memberikan dampak positif kepada nelayan, melalui jasa penyediaan perahu, bersedia diikuti untuk diliput aksi dramatis menangkap ikan yang sungguh luar biasa. Beberapa konten vlog terkait aktivitas ini banyak terlihat di laman internet.

Kemanfaatan terbesar

Kita semua mungkin telah hafal UUD 1945 BAB XIV Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial sebelum diamandemen berbunyi Kesejahteraan Sosial dalam Pasal 33 ayat 3 menyatakan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Kalimat “dikuasai” saya artikan sebagai bentuk kewenangan yang diberikan kepada negara dalam hal ini pemerintah untuk menata dan mengatur, sehingga mempunyai kewenangan dalam menata suatu kawasan, memberikan ijin, meminjam pakai kawasan, menelaah status dan fungsi sebuah kawasan hutan atau melakukan penyesuaian sesuai dengan kaidah dan kriteria yang telah ditetapkan kebijakan.

Era 1990-2000 an pengelolaan kawasan pelestarian alam seperti Taman Nasional sedikit kaku dan mutlak, apapun aktivitas di kawasan konservasi adalah “haram”. Padahal UU no. 5 tahun 1990 telah mensiratkan bahwa ada ruang yang diperkenankan dilakukan aktivitas dengan pertimbangan-pertimbangan sejarah serta kearifan masyarakat. Pada 2006, untuk mengakomodir amanah ini diterbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional.

Peraturan Menteri LHK P.56/2006, berjalan dalam bayang-bayang masa lalu, masyarakat dan petugas di lapangan berada dalam lingkar, tidak memeiliki pemahaman yang sama. Sosialisasi dan penyusunan berjalan lambat hal ini tentu dipengaruhi oleh kecepatan informasi saat itu, beberapa taman nasional di pulau jawa berjalan cukup baik. Hal ini terlihat dari terbit dokumen-dokumen zona pengelolaan taman nasional meskipun masih sangat dinamis untuk dilakukan review atau penyesuaian.

Menurut American Dictionary, konservasi diartikan sebagai: “The use of natural resources for the greatest good to greatest number of people for the longest time” atau dapat diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam untuk kebaikan manusia dalam jangka waktu panjang. Disederhanakan, oleh Theodore Rosselvelt tahun 1902 yang memaknai konservasi sebagai pemanfaatan secara bijaksana (wise to use).

__________________________________________________________

 

BACA JUGA: 

Pemberdayaan yang Mengubah Curiga jadi Partisipasi

 

__________________________________________________________

Pada 2018 makna terdalam dari upaya konservasi dan manusia dikenalkan oleh Wiratno dalam buku 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi. Salah satunya dengan menjadikan masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai subyek pengelolaan, dengan memberi ruang keterlibatan dan mendorong partisipasi masyarakat.

Memfasilitasi aktivitas-aktivitas dalam pengelolaan kawasan hutan salah satunya dengan program perhutanan sosial di dalam kawasan konservasi, memberikan akses kelola masyarakat dengan mempertimbangkan kesejarahan dan katerkaitannya dengan alam selama berpuluh-puluh tahun lalu, istilah ini disebut Kemitraan Konservasi.

Menafsir kalimat kebijakan, jika diimplementasikan biasanya mengalami bias dalam interpretasi sehingga dalam tahun 2018 dalam rangka memberikan guidelines diterbitkan Perdirjen KSDAE Nomor: P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada KSA dan KPA yang merupakan turunan dari Peraturan Menteri LHK Nomor: P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 tentang Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar KSA dan KPA.

Zona tradisional

Penjelasan singkat tentang hutan dan riwayat pemberdayaan di zona tradisional ini diharapkan menjadi titik balik pemahaman kita bahwa taman nasional bukan sebuah kawasan yang membatasi seluruh aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Zona tradisional adalah ruang kelola yang disediakan pemerintah dalam hal ini Taman Nasional, Ditjen KSDAE Kementerian LHK untuk menghormati dan menjamin usaha-usaha berkearifan turun temurun masyarakat.

Di TN Sebangau, dukungan pemerintah daerah terhadap pemanfaatan lestari ini sangat baik, larangan dan himbauan menggunakan cara-cara yang merusak alam selalu disampaikan. Resistensi kelompok nelayan tradisional terhadap illegal fishing di beberapa tempat di TN Sebangau sangat luar biasa. Kita tidak akan dapat dengan mudah memasuki sungai tanpa komitmen atau kontribusi turut menjaga apalagi dengan membawa alat setrum dan racun.

__________________________________________________________

 

BACA JUGA: 

Zona Ekologi Masyarakat Adat Tepra

 

__________________________________________________________

Beberapa nelayan tangkap tradisional sebangau merupakan eks pekerja kayu karena sejarah kawasan ini merupakan hutan produksi periode tahun 1990-2000. Tentu tidak mudah menyesuaikan diri dengan perubahan dan keadaan, dahulu ekonomi mereka tercukupi dengan baik dengan mudahnya mengeluarkan kayu dan menerima hasilnya, kini keterampilan turun temurun menjadi penopang tak berbatas, tanpa kenal pandemi dan tak kenal resesi.

Dalam pelaksanaan rencana kerja jangka menengah tahun 2015-2019 TN Sebangau telah mencapai pijakan awal pengelolaan dengan pengesahan dokumen zonasi dan penyediaan ruang-ruang pengelolaan termasuk zona tradisional yang luasnya ±45.769,84 hektar (8,52%) dari total luas kawasan ±537.126 hektar. Secara umum zona tradisional ini berada di sungai-sungai yang dari dulu hingga sekarang menjadi tempat mencari ikan dan HHBK dengan variasi jarak antara 2–4 km dari sisi sungai, tahun 2020 telah dikerjasamakan melalui skema kemitraan konservasi seluas 396 hektar.*


Kata kunci:

BAGIKAN

BERI KOMENTAR