Jumat, 23 Juli 2021
News & Nature

Zona Ekologi Masyarakat Adat Tepra

Jumat, 16 April 2021

Tulisan ini, adalah bentuk penghargaan saya terhadap dedikasi istri saya Maria F. Suwae yang telah membangun wawasan mengenai zona ekologi tradisional Masyarakat Adat Tepra di Batas Utara Cagar Alam Pegunungan Cycloop Kabupaten Jayapura Papua.

Richard R. Kalilago Richard R. Kalilago Pemerhati Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat Papua cab7ff6c-1164-484c-b4f2-c3d2242bf7e8.jpg
Dok. Richard R. Kalilago
Zona ekologi masyarakat adat Tepra di pantai utara Pegunungan Cycloop

Hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya memang kompleks dan rumit. Hubungan itu, bersifat saling pengaruh. Manusia berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga terjadi perubahan-perubahan ekosistem, sebaliknya lingkungan sekitar mempengaruhi kebudayaan manusia.

Sepanjang sejarah umat manusia, kebudayaan-kebudayaan yang dikembangkan di berbagai ekosistem yang berbeda mengalami perubahan-perubahan, meskipun perubahan-perubahan itu tidak selalu sama antara satu komunitas ekosistem dengan komunitas ekosistem lainnya.

Implikasinya ialah pada ekosistem-ekosistem tertentu terjadi perubahan-perubahan yang sedemikian besarnya sehingga berbalik mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Akan tetapi di samping itu terdapat pula komunitas-komunitas dengan ekosistem yang mengalami perubahan kecil sampai yang hampir tidak mengalami perubahan.

Ekosistem Cycloop

Pegunungan Cycloop, merupakan perwakilan tipe hutan pantai utara papua yang terisolir dari pegunungan lainnya. Dengan posisi Pegunungan Cycloop seperti ini, maka dalam penilaian konservasi, kawasan ini memiliki potensi keanekaragaman hayati yang potensial bagi pembangunan konservasi di Tanah Papua.

Penetapan kawasan ini sebagai kawasan perlindungan atas tanah pertama kali pada 1954 oleh pemerintah Belanda dengan luas 6.300 ha. Pada 1974 Pemerintah menetapkan kawasan seluas 4.197 ha sebagai kawasan perlindungan terhadap sumber air bagi penduduk Jayapura, Abepura dan Sentani.

_________________________________________________________________________

 

BACA JUGA: 

Pendekatan Hutan Budaya untuk Papua

________________________________________________________________________

Status perlindungan ditingkatkan menjadi Cagar Alam dengan luas 22.500 ha dengan alasan perlindungan terhadap tanah, air, ekosistem dan habitat serta tumbuhan dan satwa. Status ini kemudian ditegaskan kembali dengan SK Menteri Kehutanan No: 365/Kpts-II/87. Saat ini luas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop menjadi 31.479,89 ha berdasarkan SK Menteri kehutanan No:SK.782/Menhut-II/2012.

Meskipun manfaat kawasan ini sangat strategis dalam menopang kehidupan penduduk di sekitarnya, namun ironis, kawasan ini belum memiliki data dan informasi potensi yang valid dan akurat mengenai, jenis-jenis satwa, jenis-jenis tumbuhan dan jenis-jenis ekosistem yang ada di kawasan ini, meskipun kawasan ini telah lama dikelola oleh pemerintah dan beberapa lembaga NGO.

Secara umum, ada empat tipe ekosistem yang besar di Pegunungan Cycloop, seperti yang digambarkan  Geoffrey Hope dan Jim Tulip dalam esainya A long Vegetation History from Lowland Irian Jaya, Indonesia  dalam Jurnal Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 109 (1994) 385-398, yaitu Upper Montane, Beech-Ericaceous low forest, Montane, Araucaria – mixed Forest, Forest, partly cleared, dan Grassland atau alang-alang

Terdapat pula beberapa ekosistem lainnya yang rata-rata belum teridentifikasi dan terdokumentasi secara baik, seperti ekosistem gua, ekosistem air tawar, ekosistem ultrabasa, ekosistem rawa air tawar dan payau dan lain-lain.

Masyarakat adat Tepra

Masyarakat adat Tepra atau orang Tepra hidup di pantai utara Kabupaten Jayapura, menyebar dari timur hingga ke barat, mulai dari distrik Ravenirara hingga ke distrik Yokari di sebelah barat. Kampung-kampung Tepra, rata-rata dibangun menyusuri garis pantai mulai dari kampung Yongsu Desoyo di sebelah timur hingga ke kampung Bukisi, distrik Yokari di sebelah barat.

Secara umum, Tepra hidup pada dua tipe lingkungan utama, yaitu seascape (Samudera Pasifik) di utara dan landscape pada kaki bukit dan gunung. Pegunungan Cycloop di selatan. Meskipun mereka hidup pada dua tipe lingkungan utama, namun masyarakat Tepra sebagian besar hidup dan bergantung pada landscape di sekitarnya. 

Dalam sistem sosial-budaya orang Tepra, seperti kelompok suku lainnya di Papua memiliki seorang pemimpin yang disebut Deutro Yarise dan dibantu oleh beberapa pembantu yang disebut Yarse sebagai pemimpin marga dalam sebuah kampung atau Yo.  

Dalam strata sosial, orang Tepra mengenal kelompok suku laut dan kelompok suku darat. Kelompok suku laut, memiliki seorang pemimpin yang disebut Yarse yang bertugas dan bertanggungjawab mengelola sumber daya alam di darat, seperti tanah, dusun sagu, perburuan. Begitu pula dengan kelompok suku laut.

 

Tanah & Laut adalah Ibu

Persepsi Orang Tepra terhadap lingkungan alam sekitarnya, nampak pada ungkapan adat Tepra sarat makna, yaitu “Kani nekewena delrei Nameng. Nau  su plre Dalri supre, nemeng nei kong bwo. De dalrite telrena de walri, de naute telrena de wari.” (“Tanah adalah ibuku. Laut dan Darat adalah ke dua belah susu Ibu. Aku pergi ke Laut aku hidup, aku pergi ke Darat aku hidup.” )

Pandangan ini dimanifestasikan sebagai seorang Ibu, dan sumber daya alam yang tersedia adalah “Air susu ibu” yang terus-menerus memberi hidup bagi Orang Tepra. Berdasarkan persepsi Orang Tepra di atas, maka dalam interaksinya dengan sumber daya alam dalam lingkungan alam sekitarnya juga dibagi dalam empat (4) zona-zona pengelolaan dan pemanfaatan tradisional, yaitu 1. Zona Ekologi Tradisional Sena,  2. Zona Ekologi Tradisional Sena Seke,  3. Zona Ekologi Tradisional Yo, dan 4. Zona Ekologi Tradisional Nau.

Interelasi dan koneksitas

Zona ekologi tradisional Sena, merupakan kepala seorang ibu. Kepala seorang Ibu merupakan area yang tabu untuk dipegang atau dielus oleh anak-anak. Oleh karena itu, Orang Tepra tidak pernah melakukan aktifitas di zona ekologi tradisional ini, karena zona ini, merupa rumah para leluhur Deutro Depon Way  (Tuan Penjaga Gunung Deponsero).  Secara ekologis, zona ekologi tradisional Sena, terletak pada ketinggian 800 - 1.000 m dpl. dan saat ini telah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

Zona ekologi tradisional Sena Seke, merupakan bagian badan seorang ibu,  terdapat payudara dan kandungan seorang ibu. Hal ini pertanda, pada zona ini merupakan zona yang ideal bagi Orang Tepra untuk melangsungkan kehidupannya, karena dekat dengan air susu dan kandungan ibu. Pada zona ekologi tradisional ini, terdapat aktifitas perladangan dan perburuan, karena tanah yang subur untuk dusun-dusun serta satwa buruan yang cukup banyak. Secara ekologis, letak zona ekologi tradisional pada ketinggian 200 – 750 m dpl. 

Zona ekologi tradisional Yo, masih berada pada bagian badan seorang ibu. Zona ekologi tradsional yo merupakan zona yang ideal bagi Orang Tepra untuk melangsungkan kehidupan bersama kerabat keluarga sekampung dan meneruskan keturunan mereka. Zona ekologi tradisional yo terletak pada ketinggian wilayah 0 – 200 m dpl, dimana terdapat kampung, dan kebun-kebun pekarangan.

Zona ekologi tradisional Nau, berada pada bagian pinggul hingga ke telapak kaki seorang ibu. Bagian ini juga merupakan bagian yang tabu dari seorang ibu, namun merupakan tempat mencari makan, karena banyak sumber daya alam di zona ekologi tradisional ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun tidak bisa menetap di zona ekologi ini.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR