Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Transformasi Hutan Kemasyarakatan di Kalibiru

Selasa, 23 Juni 2020

Perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat telah mampu menciptakan transformasi positif bagi hutan Kalibiru.

Evita Hapsari S.Sos, MA Evita Hapsari S.Sos, MA Peneliti Sosiologi Lingkungan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar 3349ef54-fd2f-4e1c-8c9a-a4c5e6c41aa7.jpg
Evita Hapsari
Salah satu penginapan yang dikelola warga di Kalibiru

Sekitar 40 kilometer ke arah barat Yogyakarta, hutan Kalibiru berada. Lokasinya tidak jauh dari Waduk Sermo yang berada di Dusun Kalibiru, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Waktu kami berkunjung ke Kalibiru, Pak Parjan banyak bercerita tentang sejarah hutan Kalibiru. Kondisi hutan Kalibiru sekitar tahun 1950-an, masih hutan lindung dan belum terusik. Seiring berjalannya waktu, penebangan liar terjadi. Hutan akhirnya mengalami kerusakan yang amat parah tahun 1997 saat krisis ekonomi melanda.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Kearifan Lokal Penjaga Hutan

_________________________________________________________________________

Melihat kondisi hutan yang sangat memprihatinkan, beberapa tokoh masyarakat saat itu, antara lain Pak Parjan, Pak Kamijan, Pak Sudadi, Pak Sukidal dan Pak Nasir berinisiatif untuk menghijaukan hutan dan mengembalikan alam.

Membutuhkan waktu tidak sebentar, hutan menjadi hijau dan sejuk kembali. Kemudian diikuti munculnya kesadaran, perubahan pola pikir dan perubahan perilaku masyarakat.

Interaksi manusia dalam ekosistem

Hutan memang bukan sekadar flora dan fauna, tetapi sebagai tempat pertemuan berbagai makhluk, baik bersifat biotik maupun abiotik. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda yang tidak bernyawa saling berelasi dan berinteraksi satu sama lain. Hamparan hijau, udara sejuk dan suara binatang bersahutan menyatu dengan alam.  

Hutan adalah karunia alam yang memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Hutan terjaga dan lestari karena ulah manusia dan hutan rusakpun karena ulah manusia pula. Manusia menjadi aktor penentu keberadaan ekosistem hutan.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Cara Leuit Menghadapi Krisis Pangan

_________________________________________________________________________

Dalam buku Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, paradigma perilaku sosial memusatkan perhatian pada hubungan antara individu dengan lingkungannya, baik obyek sosial maupun obyek non sosial.

Intinya perilaku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan akan menimbulkan akibat-akibat dan perubahan faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap perilaku.

Perilaku masyarakat menjaga hutan mewujudkan ekosistem seimbang. Ekosistem dicirikan dengan berlangsungnya pertukaran materi dan transformasi energi. Pertukaran ini berlangsung di antara berbagai komponen dalam sistem itu sendiri atau dengan sistem lain di luarnya. Ketika manusia menjaga alam maka alam pun akan berimbal balik.

Odum dalam bukunya Fundamentals of Ecology mendefinisikan ekologi adalah ilmu yang mengkaji hubungan timbal balik antara makhluk hidup atau kelompok makhluk hidup dengan lingkungannya.

Transformatif

Hutan Kalibiru pernah mengalami hijau, rusak dan hijau kembali. Kondisi ini tidak terlepas dari perilaku masyarakat, tokoh masyarakat, dukungan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat pendamping. Keberhasilan menjaga hutan sudah diakui oleh khalayak dengan munculnya Wisata Alam Kalibiru.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

_________________________________________________________________________

Pada 2008 pemerintah memberikan izin pemanfaatan HKm selama 35 tahun seluas ±200 ha. Bagi kelompok tani hutan kemasyarakatan (KTHKm), proses ini jadi sebuah peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan. Hutan dikelola menjadi wisata alam dan diklaim pertama lahir dari program HKm.

Penerapan strategi kelola kawasan, kelola kelembagaan, dan kelola usaha menjadi unsur utama keberhasilan program HKm. Pertama, KTHKm berhasil mengembalikan kawasan hutan yang gundul menjadi kawasan bertegakan cukup rapat. Kedua, KTHKm berhasil menyusun dan mengaplikasikan aturan internal kelompok secara mandiri. Ketiga, KTHKm berhasil melakukan terobosan memanfaatkan izin definitif HKm berupa pemanfaatan jasa lingkungan areal HKm menjadi wisata alam.  

Dusun Kalibiru menjadi salah satu daerah di Indonesia yang berhasil melaksanakan program HKm. KTHKm berhasil menjadi juara I tingkat nasional lomba wana lestari untuk kategori kelompok masyarakat pengelola HKm. Sehingga menjadi percontohan nasional program HKm.

Dalam upaya mempertahankan keindahan alam Kalibiru sekaligus menambah pendapatan, KTHkm mengembangkan tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species). Tanaman MPTS memiliki beragam fungsi seperti menghasilkan buah-buahan, dedaunan untuk pakan ternak, dan ranting untuk kayu bakar. Tentu banyak manfaat diperoleh dari hutan.

_________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

_________________________________________________________________________

Akses menuju Wisata Alam Kalibiru dapat melalui dua rute. Rute pertama melewati Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates, ke arah Waduk Sermo kemudian melalui jalan menanjak ke arah Kalibiru. Sedang rute kedua melalui Pengasih, Pemandian Clereng kemudian ke arah utara, sampailah Kalibiru.

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR