Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Tiga Jenis Pohon Lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

Jumat, 25 September 2020

Jika konsisten dilakukan pada lahan-lahan yang tak produktif setidaknya ada beberapa dampak positif yang berpeluang diperoleh.

Ahmad Junaedi, S.Si, M.Sc Ahmad Junaedi, S.Si, M.Sc Ahli Peneliti Madya, BP2TSTH Kuok skubung.jpg
Dok Penulis
Skubung

DALAM kurun waktu 1990 – 2015, Keenan dkk (2015) melaporkan bahwa luas deforestasi di wilayah tropika mencapai 195,4 juta ha. Dari luasan tersebut, menurut FAO (2015) sebanyak 14% atau 27,5 juta disumbangkan oleh Indonesia. Berbagai upaya untuk menekan laju deforestasi tersebut terus dilakukan oleh Indonesia, terutama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Hasilnya, KLHK (2018) mencatat bahwa telah terjadi penurunan laju deforestasi yang mana laju nettonya untuk kurun 2016 – 2017 sudah di bawah angka 0,5 juta ha/tahun. Keberhasilan diapresiasi dunia, antara lain dalam bentuk pemberian dana dari pemerintah Norwegia. Keberhasilan yang bukan sekedar kebangggaan, tetapi juga merupakan salah satu pendorong untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan berbasis rehabilitasi hutan dan lahan.

Rehabilitasi berbasis pembangunan hutan tanaman pada hutan dan lahan terdegradasi merupakan metode yang powerfull dan layak untuk terus dipromosikan untuk mengurangi deforestasi. Jika konsisten dilakukan pada lahan-lahan yang tak produktif (kuantitas tegakan kurang 20 m3/ha) maka setidaknya ada dua dampak positif yang berpeluang diperoleh.

Dampak positif pertama akan meningkatnya pasokan kayu maupun non kayu dari non hutan alam, sehingga celah antara permintaan dan penawaran kayu/non kayu bisa diperkecil. Dampak positif yang kedua adalah berkurangnya tekanan terhadap hutan alam karena beberapa jenis kayu bisa diperoleh dari pasokan hutan tanaman, sehingga deforestasi pun bisa semakin ditekan. Artinya peluang menyelamatkan lebih banyak hutan alam  akan semakin besar.

Hutan Tanaman di Indonesia

Secara luasan, Indonesia termasuk 10 besar negara dengan hutan tanaman terluas di dunia (Indufor 2014 dalam Barua, 2015). Namun, persentasenya terhadap luas lahan dan hutan terdegradasi, nampaknya relatif masih belum tinggi, sehingga penambahan hutan tanaman harus terus digesa dan direalisasikan. Adapun total hutan tanaman yang dilaporkan KLHK (2018) sampai tahun 2017 adalah sekitar 4,6 juta ha.

Praktik hutan tanaman telah dikenal cukup lama dalam pengelolaan hutan di Indonesia. Praktik ini sudah ada jauh sebelum kemerdekaan, yakni pada zaman kolonial Belanda berupa pengelolaan hutan tanaman Jati dan Pinus di Pulau Jawa. Jejak-jejak hutan jati dan pinus ini pun masih ada sampai sekarang dan dikelola oleh PT Perhutani.

_________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Kayu Geronggang, Sumber Serat di Lahan Gambut

_________________________________________________________________________________________

Pembangunan hutan tanaman terbaru adalah dalam bentuk hutan tanaman industri (HTI). Berbeda dengan hutan tanamannya perhutani, HTI lebih banyak dibangun di luar Jawa dan dominan diarahkan sebagai penyedia bahan baku pulp dan kertas (HTI-pulp). Tidak sedikit dari HTI-pulp ini, pembangunannya dilakukan di lahan gambut, seperti di wilayah Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

HTI-pulp di lahan gambut menanam pohon pengkasil kayu pulp dari jenis eksotik, yakni Acacia crassicarpa (krassikarpa). Jenis ini bukan termasuk pohon asli Indonesia dan juga bukan termasuk pohon asli ekosistem hutan rawa gambut. Krassikarpa mengalami penurunan performa produktivitas karena standing stock pada saat akan panen mengalami penurunan yang drastis. Junaedi (2018) mencatat bahwa pada umur 5 tahun persen hidup tanaman yang tersisa kurang dari 30%.

Adanya serangan penyakit diduga merupakan salah satu penyebabnya. Upaya perbaikan performa jenis eksotik yang dikembangkan, terus dilakukan pihak manajemen HTI-pulp, namun sampai saat ini upaya tersebut nampakny belum mendapatkan hasil yang optimal.  Pada lain sisi lain, jika terus mengandalkan jenis eksotik atau jenis bukan asli gambut, justru akan menghadapi resiko yang lebih besar karena adanya PP. No. 57 Tahun 2016 yang secara tersirat mensyaratkan kedalaman muka kurang dari 40 cm untuk budidaya di hutan tanaman gambut.

Nampaknya, jenis eksotik akan sulit beradaptasi dengan maksimal pada kedalaman muka air tersebut, karena dengan kedalaman muka air yang relatif dangkal akan menyebabkan zona perakarannya semakin lembab dan berdampak akan semakin rentan serangan penyakit.  Kenyataan ini medorong minat besar untuk mulai membangkitkan kembali keinginan mengeksplorasi jenis lokal (native species) lahan gambut untuk hutan tanaman.

_________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Pertanian Polybag, Menjawab Tantangan Lahan Gambut

_________________________________________________________________________________________

Jenis lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

Balai litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH), Badan Litbang dan Inovasi LHK (BLI) sejak tahun 2011 telah melakukan riset terhadap jenis-jenis lokal potensial untuk hutan tanaman. Secara spesifik untuk di lahan gambut terpilih tiga jenis pohon lokal yang telah diteliti lebih serius kemungkinannya untuk hutan tanaman. Ketiga jenis pohon ini adalah mahang (Macaranga pruinosa), skubung (Macaranga gigantea) dan geronggang (Cratoxylum arborescens). 

Jenis geronggang (kiri) dan mahang (kanan) 

Walaupun hasil dari penelitian tersebut masih dikategorikan penelitian awal dan belum dapat merekomendasikan secara pasti jenis mana yang terbaik untuk dipilih. Namun, dari hasil penelitian tersebut dan hasil-hasil penelitian lainnya terkait ketiga jenis lokal gambut tersebut memberikan beberapa catatatan penting yang bisa ditindaklanjuti dalm mendorong pemanfaatan ketiga jenis lokal tersebut. 

Halaman selanjutnya: Catatan penting...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR