Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Tantangan Inovasi Pemanenan Hasil Hutan

Senin, 1 Juni 2020

Pemanenan sebagai kegiatan awal pemanfaatan hasil hutan berupa kayu dan bukan kayu menjadi langkah strategis untuk pengelolaan hutan berkelanjutan

Dr. Sukadaryati, S.Hut., MP Dr. Sukadaryati, S.Hut., MP Peneliti Madya bidang Pemanenan Hasil Hutan, Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi KLHK 87df6bf3-e0cf-43fd-b295-7a11093a9ce3.jpg
https://www.infobaru.id/2012/12/9000-gambar-eksploitasi-hutan-terbaru.html
Trailler traktor

Jauh sebelum peradaban manusia berkembang, pemanfaatan kayu dari dalam hutan dilakukan secara manual. Cara tersebut hanya mengandalkan tenaga manusia ataupun tenaga hewan yang didukung  dengan peralatan sederhana.

Produktivitas yang dihasilkan masih sangat rendah. Kendala banyak ditemui, bahkan pemanenan menjadi terhambat ketika berhadapan dengan ukuran diameter kayu yang besar dan panjang. Belum lagi kondisi area yang terjal atau melewati sungai, makin menyulitkan proses pemanean kayu. Teknik pemanfaatan hasil hutan ini, secara manual terbatas pada asesibilitas dan tenaga yang mudah dijangkau manusia.

Era 1970-an, adalah dimulainya sistem pengusahaan hutan di luar Pulau Jawa dalam bentuk Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada hutan Alam/IUPHHK-HA (dulu HPH). Ukuran tegakan kayu yang besar dan panjang, telah mengubah paradigma teknik pemanenan kayu di Indonesia. Menurut peneliti Puslitbang Hasil Hutan, Sianturi pada 1984, kayu hasil hutan pada waktu itu mencapai ukuran diameter di atas 140cm.

__________________________________________________________

BACA JUGA: Menghitung Untung dari Reduced Impact Logging

__________________________________________________________

Teknik pengambilan kayu yang diterapkan kemudian berkembang pesat dengan menggunakan alat berat yang seluruhnya menggunakan mesin (fully mechanized) dan didatangkan dari luar negeri. Penyaradan kayu menggunakan traktor Caterpillar atau Komatsu berkekuatan 180HP–225HP, muat-bongkar menggunakan log loader berkekuatan 75HP–325HP demikian juga dengan alat angkut kayu menggunakan logging truck dan trailler berkekuatan 200HP.

Crowler tractor/sumber: https://forest4climate.wordpress.com/page/5/

Penggunaan alat modern tentu memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang tidak sedikit. Namun produktivitas yang dihasilkan juga tinggi dan mampu menghadapi segala kondisi lapangan. Tak bisa dipungkiri dengan pemanfaatan alat berat tersebut produksi kayu di Indonesia pada saat itu meningkat bahkan mampu mengekspor kayu dengan dimensi besar.

Di sisi lain, penggunaan alat berat modern menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem hutan, kerusakan tegakan tinggal, keterbukaan tanah, pemadatan tanah, penggusuran lapisan tanah dan erosi tanah. Oleh karena itu, pemilihan penggunaan alat berat harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu bahwa secara teknis memungkinkan, secara ekonomi menguntungkan, secara sosial dapat diterima masyarakat dan secara ekologi harus ramah lingkungan.

Bagaimanapun, eksploitasi memiliki berkonotasi negatif, yaitu cenderung menguras atau memanfaatkan secara berlebihan. Seiring dengan pengembangan riset hasil hutan dan peningkatan efisiensi yang dilakukan dalam proses pemanfaatan sumber daya hutan, istilah pemanenan digunakan. 

___________________________________________________________________

BACA JUGA: KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

___________________________________________________________________

Istilah pemanenan hasil hutan dirasa lebih cocok dan sesuai untuk menggambarkan  pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan. Merujuk pada UU no.41/1999 tentang kehutanan, dijelaskan bahwa hasil hutan meliputi benda hayati dan non hayati. Benda non hayati antara lain berupa air dan udara, sedangkan benda hayati seperti hewan dan tumbuhan.

Pemanenan yang merupakan kegiatan awal pemanfaatan hasil hutan, baik berupa kayu maupun bukan kayu (HHBK) menjadi langkah strategis agar produk hasil hutan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Selama manusia memerlukan kayu dan HHBK untuk kehidupannya, maka selama itu pula gatra pemanenan hasil hutan perlu dikembangkan.

 

Inovasi pemanenan kayu

Teknik pemanenan kayu terus berkembang untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu dan  menurunkan biaya pemanenan. Peneliti senior Puslitbang Hasil Hutan, Maman Mansyur Idris dan Soenarno dalam penelitiannya di tahun 2015 memperkenalkan teknik pemanenan kayu dengan sistem “tree length logging” (TLL).

TLL adalah cara pemanenan kayu dengan proses pengeluaran kayu dilakukan bersamaan antara batang bebas cabang dengan batang di atas cabang pertama sampai diameter minimum 20 cm. Sistem ini lebih efisien dan mampu memberikan nilai Faktor Ekploitasi (FE) 0,93, bahkan dengan kerusakan tegakan yang lebih rendah yaitu 15,43%.

Namun demikian, peralatan modern yang biasa digunakan di hutan alam dirasa kurang pas dengan kondisi lapangan dan dimensi kayu yang dipanen di hutan skala kecil seperti hutan rakyat. Alat berat dengan kekuatan mesin yang besar, biaya investasi, pengoperasian dan pemeliharaan alat yang tinggi menjadi kurang efisien jika digunakan untuk pemanenan kayu berdimensi kecil dan dalam skala luas areal tidak terlalu besar. Dengan kata lain telah terjadi kondisi yang disebut over power.

Hasil penelitian tim P3HH pada pemanenan di areal hutan rakyat menunjukkan bahwa peralatan panen kayu disesuaikan dengan keahlian pekerjanya, alat yang tersedia dan kondisi lapangan. Terkadang modifikasi alat panen dilakukan jika dirasa lebih efektif dan efisien. Seperti kegiatan pengeluaran kayu di hutan rakyat Ciamis dilakukan dengan menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi untuk memuat kayu tebangan.

Modifikasi sepeda motor untuk mengeluarkan kayu di hutan rakyat/dokumen Sukadaryati)

 

Pengembangan HHBK 

Sesuai Permenhut No.19/Menhut-II/2009, pembangunan kehutanan juga mengoptimalkan manfaat HHBK. HHBK tersebut terdiri dari, pertama, HHBK FEM (Food, Energy Medicine), yaitu sebagai sumber bahan pangan (sagu, sukun), bahan energi (kayu bakar, arang dan biofuel), bahan obat dan kosmetika, Kedua, HHBK lainnya (others), seperti getah, biji, buah, gaharu, cendana dan minyak atsiri, sutera, madu, kulit buaya.

Pemanenan HHBK selama ini masih dilakukan secara sederhana sesuai kebiasaan masyarakat setempat sehingga produktivitas yang dihasilkan rendah dan terkadang tidak mampu mencukupi kebutuhan pasar. Pemanenan getah jelutung, kemenyan, agatis, damar mata kucing, minyak kayu putih, biasanya dilakukan oleh masyarakat lokal secara turun temurun.

___________________________________________________________________

BACA JUGA: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

___________________________________________________________________

Para peneliti dan lembaga penelitian juga bergerak untuk mengembangkan inovasi dan menjawab tantangan meningkatkan produktivitas hasil hutan bukan kayu. Salah satu contohnya adalah penelitian pengajar Institut Pertanian Bogor, Gunawan Santosa, yang menyatakan bahwa penggunaan stimulan dalam penyadapan pinusmampu meningkatkan produksi getah. Stimulan anorganik seperti H2SO4 mampu meningkatkan produksi getah lebih tinggi dibandingkan stimulan organik, seperti ETRAT ataupun cuka kayu.

Dalam policy brief (2018) Teknik Penyadapan Pinus dan Jelutung yang Ramah Lingkungan, Sukadaryati dan tim merekomendasikan penggunaan stimulan organik dan anorganik diterapkan secara proporsional. Penggunaan stimulan organik menitikberatkan pada penjaminan kelestarian dengan produksi getah yang dihasilkan lebih rendah. Sedangkan stimulan anorganik lebih disarankan untuk memenuhi persyaratan produksi tinggi sesuai pencapaian target.

___________________________________________________________________

BACA JUGA: Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

___________________________________________________________________

Manusia masih memiliki ketergantungan terhadap hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Material kayu, bambu, maupun rotan juga masih sangat diminati dalam pembangunan perumahan maupun mebel. Di tengah tingginya kebutuhan hasil hutan, kelestarian sumber daya dan lingkungan juga menjadi aspek penting yang harus diperhatikan.

Fakta ini menjadi salah satu indikator pentingnya pengembangan gatra pemananen hasil hutan ke depan. Sekaligus juga tantangan bagi para peneliti agar hasil hutan dapat dimanfaatkan dengan optimal tanpa kekhawatiran timbulnya kemerosotan kualitas lingkungan dan terkurasnya sumberdaya hutan.* 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR