Jumat, 7 Agustus 2020
News & Nature

Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut

Kamis, 9 April 2020

Pola tanam campuran antara tanaman kehutanan dengan pinang akan lebih mampu mendorong peningkatan penghidupan keluarga petani di sekitar lahan gambut

Dr. Darwo Dr. Darwo Peneliti Silvikultur di Pusat Litbang Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 6dfce763-5b52-4f4b-ba47-4bdca97e8c34.jpg
dok pribadi

Sebagian hutan dan lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan dan terdegradasi akibat pembersihan lahan dan peristiwa kebakaran. Kedua hal ini memang saling terkait, pembersihan lahan yang menerapkan metode pembakaran menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan dan lahan.

Metode pembakaran yang dilakukan untuk membersihkan lahan, bersama dengan masuknya musim kemarau, membuat api sering kali sulit dikendalikan. Lahan gambut yang telah terbakar dan terdegradasi ini sering kali menjadi tidak produktif dan terlantar, sehingga lebih rentan kebakaran dan dapat memicu peristiwa kebakaran lebih lanjut.  

Indonesia mencatat kebakaran besar pada 2015 dan terulang kembali pada 2019 yang berdampak pada ganguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernafasan, serta dampak perekonomian lebih besar. Aktivitas keseharian terganggu, sekolah diliburkan, hingga penerbangan yang ditunda atau dibatalkan.

___________________________________________________

Baca juga: Inovasi Mikorhiza Dukung Restorasi Gambut

___________________________________________________

Pemerintah memang tidak tinggal diam dengan meluncurkan program rehabilitasi terutama di daerah yang sering mangalami kebakaran lahan gambut, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Akan tetapi, program rehabilitasi lahan gambut yang digulirkan menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam mengurangi kebakaran di lahan gambut, dan secara optimal memulihkan lahan gambut terdegradasi.

 

Multi-aspek rehabilitasi

Menurut Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) nomor P.16 tahun 2017, rehabilitasi lahan gambut merupakan upaya memulihkan dan meningkatkan fungsi ekosistem gambut melalui penanaman vegetasi agar produktivitas dan peranan ekosistem gambut dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

Mengacu pada peraturan tersebut, program pemulihan lahan gambut yang terdegradasi harus memperhatikan beberapa aspek, yaitu biofisik, sistem silvikultur, jauh-dekat jaraknya  dengan pemukiman, pola tanam dan komoditasnya. Aspek tersebut betul-betul harus diperhatikan agar pelaksanakan rehabilitasi tepat sasaran.

Apabila lahan gambut jauh dari pemukiman, rehabilitasi dilakukan dengan cara menanam jenis-jenis asli gambut setempat. Teknik silvikultur yang diterapkan  menggunakan permudaan alami atau permudaan buatan dengan penanaman di areal-areal kosong.

Sementara pada, area yang dekat dengan lahan masyarakat diterapkan pola tanam agroforestry berbasis tanaman perkebunan bernilai ekonomi. Pola ini diperlukan  sebagai upaya pemulihan ekosistem lahan gambut, sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat sekitar hutan.

_____________________________________________________

Baca juga: Geronggang, Penyelamat Gambut Bengkalis

_____________________________________________________

Hasil penelitian Darwo dan Darmanti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan-KLHK, menyatakan jenis tanaman kehutanan yang potensial untuk dikembangkan di lahan gambut antara lain jenis jelutung rawa (Dyera lowii), balangeran (Shorea balangeran), geronggang (Cratoxylon sp.), jambu-jambu (Eugenia sp.), dan bintangur (Callophyllum soulatri).  

Sementara, untuk tanaman perkebunan bernilai ekonomi dan adaptif di lahan gambut antara lain adalah pinang (Areca sp.). Pinang mampu tumbuh baik di lahan gambut dangkal, dengan kedalaman gambut kurang dari satu meter. 

Potensi ekonomi pinang

Pada lahan gambut dangkal terdegradasi yang dekat dengan lahan masyarakat, pola tanam yang baik diterapkan adalah sistem agroforestry berbasis tanaman pinang. Pola tanam agroforestry merupakan pola tanam campuran antara tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dan perkebunan.

Pola agroforesty dengan penanaman pinang ini, misalnya telah diterapkan di kawasan Hutan Lindung Bram Itam Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Di Bram Itam, penanaman pinang dilakukan dengan sistem jalur yang diseling di antara tanaman kehutanan dengan jarak tanam tiga kali tiga meter.

Setelah pinang berumur lima tahun, masyarakat setempat mulai bisa memetik buahnya. Panen dapat dilakukan dua kali setiap bulan, dengan rata-rata produksi buah satu kali panen per pohon mencapai setengah kilogram biji pinang kering. Dalam satu bulan, setiap pohon mampu menghasilkan satu kilogram biji pinang kering. 

_____________________________________________________

Baca juga: Faloak untuk Obati Hepatitis, Mitos atau Fakta?

_____________________________________________________

Jika dalam satu hektar terdapat 400 batang pohon pinang, potensi pendapatan dari menanam pinang adalah Rp 4,8 juta per bulan, dengan menghitung harga pinang kering saat ini sekitar Rp 12.000 per kilogram.

Hasil ini lebih tinggi dibanding dengan panen kelapa sawit di lahan gambut yang hanya mampu memproduksi antara setengah sampai satu ton per hektar per bulan. Dengan kisaran harga buah tandan sawit di kebun sebesar Rp 700 per kilogram, hitungan hasil panen dalam satu hektar akan berkisar antara Rp 350.000–Rp 700.000 per bulan. 

Dari perhitungan tersebut, pendapatan dari menanam pinang di lahan gambut bisa lebih menguntungkan daripada kelapa sawit. Pola tanam campuran antara tanaman kehutanan dengan pinang akan lebih mampu mendorong peningkatan penghidupan keluarga petani di sekitar lahan gambut.

Oleh karena itu, agroforestry berbasis tanaman pinang bisa menjadi salah satu solusi program rehabilitasi lahan gambut, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Dengan menanam tanaman produktif, masyarakat diharapkan turut serta menjaga kelestarian lahan gambut serta menghindari kebakaran hutan dan lahan.

Upaya ini merupakan salah satu bentuk menggeser titik berat pengelolaan, dari hanya keuntungan finansial ke arah peningkatan produk dan jasa hutan untuk kemakmuran masyarakat. Tanpa mengabaikan fungsi hutan terhadap perlindungan lingkungan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR