Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Solusi Mikroba untuk Reklamasi Lahan Tambang

Kamis, 11 Juni 2020

Suksesi alami pada lahan dengan kerusakan parah membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan sulit untuk terjadi.

Ramdana Sari S.Si Ramdana Sari S.Si Peneliti Pertama Bidang Mikrobiologi Tanah, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan d74534f1-0c94-4707-a19d-e31ab7a3cbf6.jpg
Dok. penulis
penyapihan semai Sengon laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)

SEKTOR pertambangan merupakan salah satu pundi-pundi primadona yang mampu meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Bahan mineral yang memiliki nilai tinggi dan terkandung dalam perut bumi Indonesia di antaranya adalah nikel.

Sebenarnya apa manfaat nikel sehingga menjadi salah satu mineral favorit untuk diproduksi? Yulinda Ambar Sari pada 2017 melaporkan bahwa nikel dimanfaatkan dalam pembuatan stainless steel, pembuatan logam campuran (alloy), dimanfaatkan dalam industri kimia,  serta pada industri peralatan rumah tangga. Melihat begitu banyaknya manfaat dari nikel dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, bisa dipastikan cadangan sumber daya nikel ini akan semakin dikeruk.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Melawan Epidemi Karat Tumor Sengon sejak Benih

________________________________________________________________________

Sayangnya, meskipun memiliki banyak kelebihan, proses penambangan bahan-bahan alam meninggalkan banyak masalah lingkungan. Penggalian dan pengerukan tanah yang menghasilkan lubang-lubang raksasa serta terjadinya pemadatan tanah akibat penggunaan alat-alat berat saat proses penambangan. Semua ini merupakan fenomena yang umum ditemukan di lokasi pertambangan.

Dampak negatif yang paling nyata dari aktivitas pertambangan adalah kerusakan lingkungan. Bentang alam menjadi berubah, dari bukit menjadi daratan bahkan kubangan. Erosi tanah pun menjadi tidak terelakkan akibat dari penebangan pohon. Penuturan Basuki Wasis pada Tempo edisi 21 Mei 2020 bahwa kerusakan tanah pada lahan bekas tambang nikel bersifat irreversible, yaitu tidak atau sulit untuk bisa pulih kembali seperti sebelumnya

Penelusuran Kumparan.com pada 31 Desember 2009 di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, mendapatkan kenyataan yang miris. Hutan yang awalnya asri berubah menjadi hamparan kering dan gersang. Pohon-pohon bak dicabut dari tanah dan tercampakkan. Bukit-bukit yang sebelumnya indah menjulang sekarang menjadi kolam genangan air tambang.  Tekstur dan struktur tanah sungguh menjadi rusak dan memprihatinkan.

Lahan bekas tambang nikel yang tandus berbatasan dengan hutan lindung  (Dok. Albert D. Mangopang)

 

Tanah yang terdegradasi juga akan mempengaruhi populasi mikroba potensial di dalam tanah. Adanya kerusakan fisik, kimia dan biologi tanah pada suatu lahan bekas tambang menyebabkan kegiatan reklamasi umumnya mengalami kendala. Hal ini disebabkan karena tanaman tidak mampu tumbuh dan survive sampai dewasa.

 

Rhizobia Indigenous

Untuk memperbaiki kualitas tanah seperti sedia kala, tentunya membutuhkan input teknologi yang relevan. Penggunaan pupuk kimia dengan kandungan unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat menjadi pilihan. Akan tetapi, pupuk kimia harganya mahal akibat dari pembatasan subsidi. Selain itu,  pupuk kimia yang digunakan terus-menerus pada suatu lahan justru akan meninggalkan efek negatif. 

Residu bahan-bahan kimia pada tanah dapat menjadi permasalahan baru. Tahukah Anda bahwa tanaman tidak mampu menyerap semua unsur-unsur hara yang dikandung pupuk kimia? Nah unsur hara yang tidak terserap akan tertinggal di dalam tanah.

Apabila terkena air hujan, unsur hara tersebut akan mengikat tanah dan memadat. Hal ini tentu akan mempengaruhi keberadaan populasi mikroba tanah potensial. Pada akhirnya, tanah tidak akan menjadi subur setelah diberi pupuk kimia berlebihan, tapi justru membuat tanah menjadi tambah rusak.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19​​​​​​​

________________________________________________________________________

Pada dasarnya, alam telah menyediakan solusi atas setiap permasalahan yang terjadi di muka bumi. Meskipun kondisi tanah sangat rusak, tetapi faktanya kita masih bisa menemukan mikroba potensial, seperti bakteri dan jamur. Mikroba tersebut dikenal sebagai mikroba indigenous yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati (biofertilizer).

Salah satu mikroba yang umum dimanfaatkan sebagai bahan pupuk hayati adalah bakteri penambat nitrogen. Bakteri rhizobia indigenous adalah salah satu anggota dari kelompok bakteri penambat nitrogen.

Peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Ramdana Sari dan Retno Prayudyaningsih 2019, mengaplikasikan bakteri rhizobia pada semai Sengon laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen). Media tanam yang digunakan adalah tanah bekas tambang nikel. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa mampu bakteri dalam meningkatkan pertumbuhan semai pada media tanam yang kahat unsur hara.

Pemberian inokulum rhizobia indigenous pada lubang tanam/Dok. Penulis

 

Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan kualitas pertumbuhan antara semai yang diinokulasi bakteri dengan semai tanpa inokulasi, khususnya pada pertambahan diameter batang dan biomassa semai. Meskipun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pertumbuhan, tapi aplikasi rhizobia indigenous tetap memberikan hasil yang terbaik dibandingkan dengan tanaman kontrol yang tidak diberikan bakteri.

Rupanya kekahatan unsur hara pada media tanam menyebabkan isolat tunggal bakteri tidak optimal dalam merangsang pertumbuhan tanaman. Berdasarkan penelitian Dhanni Devi pada 2016 dapat diketahui bahwa kombinasi bakteri penambat nitrogen dengan bakteri pelarut fosfat ternyata lebih efektif dibandingkan inokulasi tunggal. Selain itu, kombinasi dengan pupuk organik juga dapat menstimulasi kinerja dari bakteri rhizobia.

Pertumbuhan semai Sengon laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) umur 6 bulan/Dok. Ramdana Sari)

 

Reklamasi Lahan Tambang

Alam yang sakit, seperti yang terjadi pada lahan bekas tambang, akan berusaha menyembuhkan dirinya sendiri melalui proses suksesi. Suksesi alami pada lahan dengan kerusakan parah membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan sulit untuk terjadi.  Untuk membantu proses pemulihan lahan terdegradasi, maka pemanfaatan bakteri Rhizobia indigenous dapat menjadi salah satu alternatif.

Rhizobia dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman sehingga mendukung program reklamasi. Akan tetapi pada kondisi-kondisi tanah tertentu yang boleh dikatakan sangat marginal, sebaiknya inokulasi bakteri rhizobia dikombinasikan dengan jenis mikroba potensial lain atau dengan pupuk organik.

________________________________________________________________________

BACA JUGA: Pertanian Polybag, Menjawab Tantangan Lahan Gambut

________________________________________________________________________

Kajian  yang dilakukan Ceng Asmarahman dan Indra Gumay Febryano 2012 pada lahan bekas tambang semen menunjukkan bahwa Rhizobia memberikan efek yang baik terhadap pertumbuhan semai sengon laut. Kombinasi bakteri rhizobia dengan mikoriza atau dengan bakteri pelarut fosfat juga banyak dilaporkan memberikan dampak baik terhadap beberapa reklamasi lahan bekas tambang, seperti emas dan batu bara.

Tuhan telah menyediakan mikroba hayati potensial yang terhampar luas di muka bumi ini, mengapa tidak kita manfaatkan?

Pengamatan karakteristik mikroskopik bakteri Rhizobia/Dok. penulis 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR