Jumat, 7 Agustus 2020
News & Nature

Purun dan Pemberdayaan Perempuan Desa

Rabu, 27 Mei 2020

Pemilihan usaha perlu mempertimbangkan kemampuan petani, kebiasaan petani, ketersediaan bahan baku, dan potensi pasar.

Dr. Ir. Niken Sakuntaladewi, M.Sc. Dr. Ir. Niken Sakuntaladewi, M.Sc. Peneliti Madya bidang Sosial Ekonomi pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan c476e2c6-8c39-42f2-b7d0-6ad51136cb5d_2.jpg
Kemitraan 2020
Ibu-ibu pengrajin sedotan purun

Pemberdayaan masyarakat banyak diusulkan sebagai salah satu kegiatan pada berbagai program pembangunan. Pemberdayaan masyarakat dipercaya dapat menyadarkan dan menjadikan individu dan masyarakat lebih produktif, tangguh, serta mampu meningkatkan penghasilan mereka.

Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, terletak di sepanjang Sungai Kahayan. Menurut laporan Badan Restorasi Gambut pada 2018, wilayah desa ini sekitar 90% berupa lahan gambut. Pada musim kemarau, desa ini sering ditutupi asap pekat akibat kebakaran gambut. Sumber api dapat berasal dari desa tetangga atau dari desa itu sendiri.

_____________________________________________________________________

ENGLISH EDITION: Purun Story: Village and Women Empowerment

_____________________________________________________________________

Perekonomian masyarakat desa Tumbang Nusa sekitar 80% bersumber dari menangkap ikan di sungai Kahayan. Jumlah ikan sungai yang ditangkap oleh masyarakat bervariasi dari hari ke hari sehingga pendapatannya tidak selalu dapat diandalkan.

Masyarakat juga banyak yang memiliki kebun karet dan kebun rotan.  Namun selama 5 tahun ini hasilnya tidak dapat diandalkan. Mengutip laporan dari Yayasan Tambuhak Sinta pada 2019, harga jual karet dan rotan sangat rendah di pasaran, sekitar Rp 4.000/kuintal untuk rotan dan Rp 6.000/kuintal untuk getah karet.

Desa Tumbang Nusa telah menerima dukungan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir melalui program pembangunan dari pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, dan LSM. Program diberikan kepada individu atau sekelompok masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan penghasilan keluarga.   Program pembangunan tersebut bisa dalam bentuk pemberian peralatan untuk usaha, pelatihan, pemberian ternak, juga pemberian lapangan kerja.

_______________________________________________________________________

Baca juga: Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut
_______________________________________________________________________

Banyak kelompok dibuat untuk mensukseskan program tersebut. Tetapi keberadaan kelompok-kelompok ini seringkali tidak bertahan lama dan begitu program berakhir mereka dengan cepat kembali ke kehidupan asli mereka dan mengharapkan bantuan dari luar.

Hamparan Purun di Desa Tumbang Nusa/Dok. Kemitraan 2020

 

Peluang bagi perempuan

Ide kreatif muncul dari seorang fasilitator desa Tumbang Nusa, Febrianti dari Kemitraan, setelah melihat sedotan ramah lingkungan yang berkembang di luar negeri melalui youtube dan potensi bahan baku yang sangat melimpah di desa. Febrianti mengenalkan produk usaha baru berupa pembuatan sedotan ramah lingkungan berbahan baku tanaman purun (Lepironia articulate) dan perumpung (Phragmites karka) sebagai pengganti sedotan sekali pakai dari plastik.

Di tengah upaya dunia mengurangi limbah plastik, produk lokal ini mempunyai peluang besar berkembang pesat di pasar. Dengan dukungan teknologi pemasaran online, Febrianti bermaksud membawa produk ini menembus pasar dalam negeri maupun internasional.

Purun dan perumpung melimpah di desa Tumbang Nusa, di lahan gambut yang telah terdegradasi. Purun juga banyak tumbuh di lahan mineral pasang surut. Perumpung sebelumnya tidak dimanfaatkan karena tidak laku di pasaran, sedangkan purun hanya dimanfaatkan oleh sekelompok kecil keluarga.

_______________________________________________________________________

Baca juga: Cara Leuit Menghadapi Krisis Pangan

_______________________________________________________________________

Pemanenan purun dilakukan bila ada permintaan pembeli yang berasal dari luar desa. Kegiatan pemanenan hingga penjualan ini dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Penjualan dilakukan setelah tanaman tersebut dicuci di sungai dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Harga purun sangat rendah, Rp 3.500/ikat.

Usaha pembuatan sedotan ramah lingkungan dipercaya akan memberikan nilai tambah yang signifikan untuk purun dan perumpung. Usaha ini ditargetkan untuk wanita, terutama ibu rumah tangga, untuk melatih mereka dalam kegiatan yang dapat memberikan penghasilan tambahan.

Banyak ibu rumah tangga di desa ini setelah menyelesaikan kegiatan rutin rumah tangga (membersihkan rumah, mencuci dan memasak) memiliki waktu luang yang dapat digunakan untuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan, ketika mereka biasanya berkumpul untuk bersosialisasi dan mengobrol dengan tetangga. Waktu luang inilah yang dilirik oleh fasilitator desa untuk dimanfaatkan guna menambah penghasilan keluarga.

Usaha pembuatan sedotan ramah lingkungan ini sangat ideal untuk wanita di Tumbang Nusa karena mudah diproduksi, memerlukan modal yang rendah, meskipun memang membutuhkan ketekunan. Usaha ini dapat dilakukan kapan saja, baik secara individu, atau dalam kelompok, juga dapat dilakukan di rumah atau saat mengobrol dengan tetangga.

Bila usaha ini berhasil, bagai pepatah ‘sekali dayung tiga pulau terlampaui’, ibu-ibu rumah tangga akan mendapat tambahan penghasilan, gambut akan dinilai sebagai asset penting warga desa karena berisi bahan baku yang mendukung usaha mereka, dan manfaat sampingannya adalah mereka akan tertarik untuk melindungi lahan gambut di desa Tumbang Nusa agar tidak terbakar sehingga sumber bahan baku usaha mereka tetap tersedia untuk panen.

Ibu-ibu mengolah purun menjadi sedotan/Dok. Kemitraan 2020

 

Aspek penting pemberdayaan

Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan untuk memberdayakan masyarakat.  K. Widjajanti pada penelitian berjudul “Model Pemberdayaan Masyarakat” yang diterbitkan Jurnal Ekonomi Pembangunan pada 2011, mengemukakan bahwa pemberdayaan masyarakat yang sukses membutuhkan pengembangan modal fisik, modal sosial, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung proses pemberdayaan.

Modal fisik yang dibutuhkan dalam pembuatan sedotan adalah oven. Oven digunakan untuk mengeringkan sedotan purun dan sedotan. Kemitraan menyediakan 14 oven untuk komunitas Tumbang Nusa, dan kepala desa menempatkan oven di rumah-rumah para wanita yang terlibat dalam memproduksi sedotan. Oven sengaja diberikan ke desa untuk menghindari klaim pribadi atas barang-barang tersebut.

Modal manusia berupa ketrampilan membuat sedotan purun yang berkualitas diberikan melalui pelatihan. Ketrampilan tersebut sudah dikuasai ibu-ibu dengan baik. Produk mereka bahkan telah lolos dari uji laboratorium bebas kandungan merkuri, bakteri E.coli dan Salmonella.

_______________________________________________________________________

Baca juga: Kearifan Lokal Penjaga Hutan

_______________________________________________________________________

Guna menjaga kualitas produk, seleksi terhadap produk sedotan ramah lingkungan ditangani langsung oleh fasilitator desa. Kualitas produk meliputi ukuran panjang dan diameter sedotan, kebersihan, tingkat kekeringan, warna dan aroma. Ibu-ibu pembuat sedotan selalu diingatkan untuk selalu fokus pada kualitas produk agar bisa tetap bersaing dengan produk sedotan lainnya.

Modal sosial masyarakat desa Tumbang Nusa masih perlu dikembangkan. Mereka cenderung untuk bekerja secara mandiri dan jaringan mereka masih terbatas. Jaringan lokal mereka dibutuhkan untuk memperluas usaha, dan jika permintaan meningkat, kerja sama antara mereka yang terlibat akan sangat penting untukkelestarian usahanya.

Saat ini, fasilitator desa sedang bekerja keras untuk menemukan dan menghubungkan desa dengan pasar. Badan Usaha Milik Desa Tumbang Nusa telah membuka toko online 'nusastraws'. Dia telah melengkapi seorang wanita muda yang paham teknologi dari desa dengan pengetahuan pemasaran online untuk  menangani pemasaran sedotan ramah lingkungan.

Salah satu aspek penting yang ditekankan oleh fasilitator desa adalah bahwa semua sedotan harus dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa. Dengan cara ini, desa akan mendapatkan penghasilan yang dapat digunakan untuk pembangunan desa.

Anak-anak muda yang melek teknologi dibekali dengan pengetahuan pemasaran secara online. Kini BUMDes Tumbang Nusa sudah mempunyai toko online ‘Nusastraws’ dan telah ditunjuk satu orang generasi muda untuk menangani pemasaran sedotan organik ramah lingkungan secara online.

Salah satu hal penting di sini, semua produk dipasarkan atas nama desa, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Strategi ini diharapkan akan menambah penghasilan desa.

Robert T. Kiyosaki, seorang investor, pengusaha, dan motivator, menekankan antara lain pentingnya mengatasi kegagalan sebagai pelajaran untuk meningkatkan kehidupan, termasuk meningkatkan pendapatan. Onggy Hianata, pakar kelas dunia dalam bidang mental, karakter, pola pikir, kepemimpinan, dan pendidikan spiritual, lebih secara langsung menyerukan perubahan pola pikir dalam berbisnis untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Diperlukan perubahan pola pikir untuk membantu seseorang tidak mudah menyerah atau putus asa, tetap termotivasi, terus berusaha, mencari dan memanfaatkan berbagai peluang untuk mencapai tujuan mereka. Mengubah pola pikir tidak selalu mudah dilakukan tetapi dimungkinkan. Hal ini membutuhkan pengetahuan, kemauan kesadaran serta kadang-kadang perjuangan dan kesulitan.

Para wanita yang memproduksi jerami belum sepenuhnya mengubah pola pikir mereka untuk serius menangani bisnis ini. Tidak semua wanita yang mengikuti pelatihan pembuatan sedotan ramah lingkungan masih terus memproduksi sedotan. Mereka menganggap bahwa Bumdes membeli sedotan dengan harga yang terlalu rendah, hanya Rp 150/batang.

Mereka juga masih berupaya menghasilkan produksi sedotan yang berkualitas, dan memahami bahwa Badan Usaha Milik Desa perlu mempertahankan kualitas hasil dengan menolak sedotan yang tidak memenuhi kualitas yang ditentukan. Terlepas dari kendala-kendala tersebut, salah satu wanita yang rajin menjalankan bisnis ini dapat memperoleh tambahan hingga ratusan ribu rupiah dalam sebulan.

Sedotan dijual oleh Badan Usaha Milik Desa seharga Rp 200/batang, dan ketika dipasarkan secara online harganya bisa mencapai Rp 1.000/batang. Keuntungan dari bisnis ini dikembalikan ke desa. Baru-baru ini, produk jerami ramah lingkungan dari desa Tumbang Nusa telah diekspor ke luar negeri termasuk Norwegia dan Australia.

Penulis melakukan pindah ladang saat melakukan penelitian/Dok. Niken Sakuntaladewi

 

Peran Fasilitator & Pemilihan usaha

Pemberdayaan masyarakat pedesaan memerlukan pendampingan yang efektif dan tak kenal lelah dan dilakukan melalui proses pembelajaran sosial. Kemitraan menganggap penting untuk menempatkan seorang fasilitator di desa Tumbang Nusa yang mampu memberikan kepentingan terbaik bagi masyarakat, termasuk para pengrajin purun.

Dalam proses mengembangkan usaha masyarakat, fasilitator desa tersebut membantu mereka untuk melihat potensi dalam diri mereka sendiri dan potensi di lingkungan mereka untuk dikembangkan.

Dalam proses pemberdayaan masyarakat di desa Tumbang Nusa, fasilitator desa memainkan peran yang sangat penting dari menemukan potensi desa, menemukan peluang bisnis, membangun kapasitas di masyarakat, menjaga kualitas produk, dan menemukan pasar untuk menghubungkan produsen dengan pembeli.

Peran fasilitator tersebut sedang dalam proses pemindahan ke komunitas desa Tumbang Nusa sehingga pada waktunya mereka akan dapat mengembangkan dan mempertahankan kepentingan usaha mereka sendiri. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat meningkatkan dan mempertahankan mata pencaharian mereka.

Dalam proses pemberdayaan masyarakat, fasilitator desa adalah bagian yang sangat penting.  Pendampingan perlu diberikan kepada masyarakat secara terus menerus sampai mereka mampu mempertahankan bisnis mereka sendiri.

Pemilihan usaha perlu mempertimbangkan kemampuan petani, kebiasaan petani, ketersediaan bahan baku, dan potensi pasar. Bisnis yang dipilih tidak hanya dapat memberikan tambahan pendapatan rumah tangga tetapi pada akhirnya dapat membantu mengubah pandangan masyarakat untuk menghormati dan melestarikan lingkungan sekitar mereka.

Meningkatkan modal sosial, mengubah pola pikir, dan mentransfer peran yang masih dilakukan oleh fasilitator desa perlu diupayakan untuk melanjutkan perjalanan pemberdayaan desa.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR