Senin, 10 Mei 2021
News & Nature

Policy Space dalam Pengelolaan Taman Nasional

Senin, 5 April 2021

Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengamanan hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan

Hapsari, S.Hut, MAP Hapsari, S.Hut, MAP Analis Kebijakan Muda, Pusat Kebijakan Strategis KLHK 0df34ef0-7a9e-4fef-a940-8d52f96b9484.jpg
Dok. Penulis

Peucang, sebuah pulau kecil di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon Banten, Merupakan kawasan konservasi paling ujung barat pulau Jawa. Pulau dengan luas kawasan ±450 hektare ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. 

Perjalanan pembinaan menuju ke pulau ini memang cukup jauh dan menghabiskan waktu ± 8 jam dengan kendaraan mobil dari Jakarta kemudian menyeberang dengan kapal sekitar satu jam mengangkut staf Pusjakstra yang berjumlah 20 orang untuk untuk sampai di pulau. Jaket merupakan pakaian wajib dikenakan selama di kapal untuk dapat menahan kuatnya hembusan angin laut, dan juga memakai pelampung selama kapal berlayar di lautan agar safety.


BACA JUGA: Orang-Orang Handil dan Kenangan Kejayaan Pangan


Lamanya perjalanan menuju ke Pulau Peucang Ujung Kulon terbayar saat kita menginjakkan kaki di dermaga dengan sajian pemandangan alam yang menakjubkan, pantai dengan pasirnya yang putih. Pantai di Pulau Peucang memiliki karakteristik yang khas yaitu pasir putih dan hamparan yang luas serta terdapat banyak monyet yang dibiarkan hidup liar sampai bermain-main ke tepi pantai. Setiap sudut pantainya merupakan tempat untuk mengeksplore spot-spot selfie yg sangat instagramable. 

Di Pulau Peucang, pegawai Pusjakstra menginap di resort Nikki Peucang yang sengaja dibangun sederhana dan ramah lingkungan ala hotel bintang lima namun memuaskan di tengah hutan belantara Taman Nasional Ujung Kulon. Karena resortnya menghadap ke pantai, ketika kita membuka pintu langsung menghirup udara segar aroma laut, bisa juga langsung menyelam di air biru kehijauan, atau tidur di resort mendengarkan suara alam yang membuat kita merasa terhubung dengan alam. Berbaring di tengah lingkungan yang masih asri adalah cara terbaik untuk berhenti sejenak dan menyembunyikan diri dari kehidupan kota yang penuh tekanan.

Menurut Kepala Resort Peucang Taman Nasional Ujung Kulon, Mumu Muawalah, objek wisata alam yang dapat dinikmati di pulau ini antara lain berenang, snorkeling, diving dan mancing, tracking ke Karang Copong dan kawasan konservasi lainnya. Saya dan beberapa teman Pusjakstra memilih berkisah tentang keindahan pemandangan bawah laut didampingi Pak Irfan Efensi instruktur yang sudah berpengalaman. 

Sangat puas melihat pesona bawah laut kawasan konservasi pulau ini dengan terumbu karang yang masih alami, ikan warna-warni dan juga tanaman khas bawah laut memanjakan mata selama menyelam. Habis snorkeling setelah menyapa ikan nemo & sahabatnya ikan dori, saya kembali ke kapal dengan gelantungan saja di perahu. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyenangkan.

Pulau Peucang Ujung Kulon sebagai Taman Nasional tertua di Indonesia bukan hanya bercerita tentang serunya aktivitas bahari, tapi juga menyediakan pusat konservasi satwa dan tumbuh-tumbuhan liar terlindungi. Pohon kiara, keanekaragaman satwaliar seperti rusa (Cervus timorensis), babi hutan (SusScrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan berbagai jenis burung. Pulau Peucang merupakan pusat lokasi untuk konservasi Badak Jawa cula satu dan agak sukar ditemui. 


BACA JUGA: 67 Ekor Badak Jawa Masih Huni TN Ujung Kulon


Bersama Kepala Pusat dan semua pegawai Pusjakstra didampingi Bapak Firmanto (Penyuluh Kehutanan Muda, TN Ujung Kulon) untuk Wildlife viewing yang dapat dinikmati dengan menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon. Untuk menuju ke sana memakan waktu ±15 menit dengan menggunakan Kapal yang dapat memuat ±20 orang.  

Di Cidaun ini biasanya kita dapat mengamati atraksi satwa seperti banteng, merak, rusa, dan babi hutan, akan tetapi hari itu tidak kesampaian karena rombongan yang datang banyak orang dan berisik sehingga mungkin hewan-hewan liar tersebut lari bersembunyi sebelum kami sampai.

Halaman berikutnya: Isu & kebijakan...

 

Isu & kebijakan

Pusjakstra KLHK dan Tim tidak hanya melakukan pembinaan pegawai dengan melakukan jelajah di Pulau Peucang, tetapi juga untuk menghimpun isu-siu strategis sebagai bahan masukan terhadap kebijakan bidang lingkungan hidup dan kehutanan dan memberikan rekomendasi kebijakan pengeloaan Pulau Peuchang Taman Nasional Ujung Kulon. 

Menurut Penyuluh Kehutanan Muda, TN Ujung Kulon, Firmanto persoalan dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah perambahan kawasan, perburuan liar, illegal logging dan kurangnya dukungan dari stakeholders lokal. Permasalahan tersebut seringkali berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar taman nasional yang rendah.

Permasalahan klasik seperti hal tersebut hampir dihadapi semua Taman Nasional di Indonesia. Persoalan taman nasional memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Tindakan represif yang sering diambil tidak dapat menyelesaikan permasalahan sampai ke akarnya.

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan pengelolaan taman nasional merupakan permasalahan sosial kemasyarakatan. Permasalahan sosial hanya dapat dipecahkan melalui perubahan struktur kelembagaan yang mengatur alokasi sumberdaya untuk mencapai kinerja yang dikehendaki. Rekomendasi kebijakan dalam pengelolaan Pulau Peucang Tanam Nasional Ujung Kulon adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar sebagai salah datu tujuan penetapan taman nasional.


BACA JUGA: Pemberdayaan yang Mengubah Curiga jadi Partisipasi


Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan mungkin akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengamanan hutan, sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan mereka, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan taman nasional. Sistem pengelolaan seperti ini dilakukan agar masyarakat sekitar merasakan manfaat dari adanya Taman Nasional Ujung Kulon. 

Daya dukung efektif / Effective Carrying Capacity (ECC) Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di resort Pulau Pecang yang berjumlah ±10 orang masih belum memadai ketika angka kunjungan meningkat pada waktu tertentu seperti waktu akhir pekan, dan musim libur. peningkatkan kapasitas petugas pengelola dalam melayani pengunjung perlu ditunjang dengan kapasitas manajemen pengelolaan berdasarkan aspek-aspek seperti dasar hukum, kebijakan dan peraturan, peralatan, personil, pembiayaan, infrastruktur dan fasilitas.

Kompetensi personil juga perlu ditingkatkan adalah kemampuan untuk menginterpretasikan objek daya tarik wisata untuk meningkatkan kualitas kunjungan bagi para pengunjung seperti kesan dan pengalaman yang didapat selama berkunjung ke Pulau Peucang.

Yang harus menjadi perhatian juga bagi pengelola Pulau Peucang TNUK adalah nilai daya dukung Pantai Peucang. Hal ini untuk mengantisipasi penurunan kapasitas manajemen terutama pada musim puncak kunjungan wisata (peak-season) dimana jumlah pengunjung melebihi kapasitas daya dukung. Kemampuan menampung pengunjung dalam sehari agar tidak melewatu daya dukung, karena daya dukung kawasan pantai juga harus memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengunjung serta kelestarian sumberdaya pantai.


BACA JUGA: Menjumpa Orangutan di Taman Nasional Sebangau


Berdasarkan hasil pengamatan saya selama beberapa hari di sana, ditemukan sampah plastik seperti botol minum, gelas air mineral serta barang lain seperti sendal ditemukan di jalur trekking menuju Padang Penggembalaan Cidaon. Hal tersebut disebabkan perilaku pengunjung yang dapat mengancam kondisi tumbuhan dan hewan liar di sekitar jalur.

Terlihat juga perubahan perilaku satwaliar seperti perilaku makan babi hutan, rusa dan monyet ekor panjang yang sudah mulai memakan makanan tidak alami seperti sisa makanan serta sampah pengunjung. Terlihat beberapa monyet sedang mencari makan di sekitar penginapan pengunjung. Monyet ekor panjang menjadi lebih berani unutk merebut makanan secara langsung dari pengunjung. perilaku monyert ekor panjang yang agresif menimbulkan kecemasan bagi kami sebagai pengunjung.

Berdasarkan informasi dari pengelola, bahwa terdapat kebiasaan pengunjung memberikan makan secara sengaja kepada satwaliar yang berada di sekitar penginapan walaupun sudah dilarang oleh pengelola dan pengunjung juga meninggalkan banyak sampah di penginapan. Pemberian makan tidak alami ini menyebabkan monyet ekor panjang lebih agresif. 

Perubahan perilaku satwa liar juga terlihat pada rusa. Keberadaan manusia ternyata tidak lagi menjadi salah satu gangguan yang menyebabkan rusa tersebut pergi menjauh sehingga rusa mudah ditemukan di sekitar penginapan dan jalur trekking.


BACA JUGA: Mari Berburu "Tudung Pengantin"


Rabbany et al (2013) menjelaskan bahwa aktivitas pengunjung dapat menyebabkan adanya perubahan kebiasaan pola makan dan perilaku secara langsung dan tidak langsung. Pola makan satwaliar dapat berubah secara langsung karena adanya aktivitas pemberian pakan oleh pengunjung, dan secara tidak langsung karena adanya aktivitas membuang sampah sembarangan mendorong satwaliar untuk mencari-cari makanan.

Rekomendasi kebijakan dari semua permasalah di atas bagi pengelola adalah mengurangi adanya dampak kunjungan terhadap satwa liar yaitu pihak pengelola selalu memberikan himbauan kepada pengunjung untuk tidak memberikan makan kepada satwaliar, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan membawa kembali sampah yang dibawa keluar dari Pulau Peucang.

Pembuatan papan peringatan dapat menjadi upaya preventif yang dapat dilakukan. Pihak pengelola juga mewajibkan kepada pelaku usaha tour dan travel untuk melakukan kegiatan rutin bersama membersihkan sampah di Pulau Peucang. 

Ingin merasakan langsung keseruan wisata ditengah keindahan alami Pulau Peucang Taman Nasional Ujung Kulon Banten? Maka yang harus dilakukan adalah jadilah pengunjung yang baik dengan tidak mengganggu aktivitas satwa yang memang hidup liar di Pulau Peucang, maka satwa juga tidak akan menjadi ancaman bagi pengunjung.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR