Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

Senin, 20 April 2020

Bahan aktif pestisida nabati adalah produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder terutama dari famili Meliaceae

Dra.Wida Darwiati, M.Si Dra.Wida Darwiati, M.Si Peneliti Perlindungan Hutan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mahoni.jpg
Dok pribadi
Mahoni

Salah satu wujud komitmen sektor kehutanan dalam mendukung program ketahanan pangan diantaranya melalui penyediaan kawasan hutan dengan pola agroforestri. Kontribusi pola agroforestri ini terhadap ketersediaan pangan nasional sangat besar yaitu mencapai 3,4 juta ton per tahun.

Namun demikian pola ini dapat memberikan dampak negatif, salah satunya disebabkan karena penggunaan pestisida kimia yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada banyak kasus, penggunaan pestisida sering kali dilakukan dengan dosis yang berlebihan.

____________________________________________________________

Baca juga: Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut

____________________________________________________________

Untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida kimia pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 24/Permentan/SR.140/4/2011 tanggal 8 April 2011 melarang penggunaan 42 jenis bahan aktif pestisida sintetis, termasuk dieldrin, endosulfan, dan klordan (Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, 2012).

Biji suren

Penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan tersebut mengakibatkan meningkatnya akumulasi residu pestisida di alam. Residu tersebut berdampak tidak hanya terhadap menurunnya kualitas lingkungan hidup namun juga kesehatan masyarakat.

Salah satu upaya dalam mengurangi penggunaan pestisida kimia sintetik yaitu dengan subtitusi menggunakan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan. Kelebihan pestisida nabati yaitu bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan.            

Pemanfaatan pestisida nabati dalam kegiatan bertani dianggap sebagai salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan. Namun demikian dalam pengembangannya di Indonesia, terdapat beberapa kendala antara lain, pertama pestisida nabati tidak bereaksi cepat (knockdown) atau relatif lambat membunuh hama.

______________________________________________________________

Baca juga: Potensi Kayu Ules untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh

______________________________________________________________

Sementara pestisida kimia sintetik relatif bereaksi secara lebih cepat. Kondisi ini lebih disukai petani, sehingga mereka lebih memilih pestisida kimia sintetik dalam kegiatan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Pohon mimba

Kedua, membanjirnya produk pestisida ke Indonesia, salah satunya dari Tiongkok, yang harganya lebih murah serta longgarnya peraturan pendaftaran dan perizinan pestisida di Indonesia kondisi ini membuat jumlah pestisida yang beredar di pasaran semakin bervariasi.

Hingga saat ini tercatat sekitar 3.000 jenis pestisida yang beredar di Indonesia. Hal ini membuat para pengguna/petani mempunyai banyak pilihan dalam penggunaan pestisida kimia sintetik karena bersifat instan sehingga menghambat pengembangan penggunaan pestisida nabati.

Ketiga, bahan baku pestisida nabati relatif masih terbatas karena kurangnya dukungan pemerintah dan kesadaran petani terhadap penggunaan pestisida nabati masih rendah, sehingga enggan menanam atau memperbanyak tanamannya. Keempat peraturan perizinan pestisida nabati yang disamakan dengan pestisida kimia sintetik membuat pestisida nabati sulit mendapatkan izin edar dan diperjualbelikan.

Hasil Memuaskan

Beberapa penelitian pemanfaatan pestisida nabati menunjukkan hasil yang memuaskan dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman. Bahan aktif pestisida nabati adalah produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder terutama dari famili Meliaceae yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, dan zat–zat kimia sekunder lainnya.

Biji dan serbuk suren, mimba dan mahoni 

Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi hama dan penyakit, tidak berpengaruh terhadap fotosintesis pertumbuhan ataupun aspek fisiologis tanaman lainnya, namun berpengaruh terhadap sistem saraf otot, keseimbangan hormone, reproduksi, perilaku berupa penarik, anti makan dan sistem pernafasan. Kelompok Tanaman dari famili meliaceace diantaranya adalah tanaman mimba (Azadirachta indica A. Juss), mahoni (Swietenia mahogany Jacq) dan suren (Toona sinensis Merr) dilaporkan memiliki kemampuan untuk mengendalikan hama.

Di beberapa negara pestisida dari biji mimba sudah diaplikasikan ke beberapa hama sasaran seperti hama mirid (Sahlbergella singularis) pada tanaman cokelat di Nigeria, hama kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa decemlineata Say) dan hama kutu busuk padi kecil (Oebalus poecilus) di Guyana dan lebih dari 400 jenis serangga dilaporkan berpengaruh terhadap ekstrak biji mimba tersebut.

______________________________________________________________

Baca juga: Covid-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

______________________________________________________________

Penelitian Karta dan kawan-kawan (2017) menyatakan bahwa senyawa Azadirachtin dapat menghambat pertumbuhan serangga hama, mengurangi nafsu makan, mengurangi produksi dan penetasan telur, meningkatkan mortalitas, mengaktifkan infertilitas dan menolak hama di sekitar pohon mimba.

Begitu juga dengan tanaman Swietenia mahogany Jack yang dikenal dengan mahoni, Heviyanti (2016) dalam penelitiannya melaporkan ekstrak biji mahoni dapat memberikan penghambatan makan pada larva Ptutella xylostella dan larva crocodolomia pevonana.

Zat yang terkandung dalam mahoni yaitu saponin dan flavonoid berperan sebagai repellence dan racun bagi serangga, sedangkan tanaman suren (Toona sinensis Merr) dilaporkan memiliki kandungan bahan surenon, surenin dan surenolakton. Zat-zat tersebut berperan sebagai penghambat pertumbuhan insektisida dan antifeedant terhadap larva serangga uji ulat sutera dan pengendalian hama wereng sangit pada pertanaman padi yang menurut Afifah (2015) hasilnya cukup baik.

Pengembangan jenis dan daya kerja

Insektisida nabati mengandung bahan yang mudah dan cepat terdegradasi dialam serta mempunyai dampak yang kecil terhadap lingkungan sehingga tidak berbahaya. Oleh karena itu insektisida nabati dapat digunakan sebagai alternatif pengganti insektisida sintetik yang mengandung bahan kimia yang dapat merugikan lingkungan.

Gerakan “back to nature” juga diimplementasikan dengan kegiatan pertanian organik, komponen teknologi untuk pengendalian OPT adalah penggunaan pestisida nabati. Konsumen di Indonesia juga mulai mencari dan menghargai produk-produk organik.

Oleh karena itu, melihat prospek ke depan hendaknya teknologi pestisida nabati ini terus digali, baik pencarian jenis tanaman baru yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber pestisida nabati maupun peningkatan daya kerja formula pestisida nabati yang sudah diperoleh.

Sebagai negara agraris, Indonesia tidak dapat menghindari kecenderungan global untuk secara bertahap menurunkan pemakaian pestisida sintetis. Meningkatnya permintaan konsumen terhadap bahan pangan maupun obat-obat herbal yang aman telah membuka peluang penyediaan teknologi produksi yang ramah lingkungan, di antaranya dengan penggunaan pestisida yang ramah lingkungan.*

Hasil ekstraksi pestisida nabati



BAGIKAN

BERI KOMENTAR