Jumat, 7 Agustus 2020
News & Nature

Penanganan Covid-19 dalam Perspektif IAS

Senin, 6 April 2020

Perlu upaya memutus rantai penularan melalui pemetaan jalur penyebaran dan tindakan pengurungan

Dr. Titiek Setyawati Dr. Titiek Setyawati Peneliti Ekologi Hutan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Penelitian Kehutanan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. merremia-peltata.jpg
Merremia peltata, salah satu invasive alien species di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan/dok Titiek Setyawati

Pemerintah dan masyarakat Indonesia dibuat kalang kabut ketika virus corona jenis baru Covid-19 masuk ke Indonesia awal Maret 2020. Pada awalnya, Covid-19 yang diduga berasal dari pasar perdagangan satwa liar di kota Wuhan sempat dipandang sebagai masalah lokal.

Namun, dalam waktu kurang dari tiga bulan jumlah orang terinfeksi dan meninggal mencapai ribuan orang. Apalagi dalam hitungan minggu, virus ini menjangkiti ratusan negara dengan penderita terinfeksi melampaui satu juta orang. 

____________________________________________

Baca juga: Iklim Tropis Hambat Covid-19

____________________________________________

 “Kondisi penyebaran virus corona saat ini sudah cukup untuk dikategorikan sebagai pandemi," kata Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus ketika itu. 

Semula pemerintah bersikeras bahwa tidak ada orang yang terpapar virus, hingga temuan kasus pertama diumumkan di awal Maret 2020.  Kurang dari satu bulan jumlah orang terpapar mencapai lebih dari 1500 dan kematian lebih dari 130 orang. 

Sebagian besar orang terpapar pernah berpergian ke luar negeri dan bahkan datang dari Tiongkok, sebagai negara pertama ditemukannya Covid-19.  Hal yang cukup mengagetkan adalah rata rata tingkat kematian di Indonesia yang sangat tinggi yakni mencapai 10 persen, sementara laju kematian tingkat dunia tidak lebih dari 3%. 

Kenapa kita perlu khawatir? Jumlah penduduk Indonesia sekitar 260 juta dan saat ini hampir semua pulau sudah terpapar kecuali Nusa Tenggara Timur, Bengkulu dan Gorontalo (berita hingga akhir bulan Maret 2020).  Fasilitas kesehatan di daeran umumnya kurang dibandingkan dengan kota besar sehingga pemerintah daerah perlu melakukan tindakan pencegahan dini.

Perspektif ekologi IAS

Tindakan pencegahan dini merupakan salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan jenis asing invasif atau invasive alien species (IAS).  Dalam perspektif ekologi, IAS merupakan jenis tumbuhan, hewan, mikroorganisma dan organisme hidup lainnya yang diintroduksi secara sengaja maupun tidak sengaja.

Spesies ini berasal dari habitat alaminya dan pada habitat baru mereka berkembang biak, menyerang, dan berkompetisi dengan spesies asli dan mengambil alih lingkungan barunya.  Spesies bisa menjadi invasif jika ada ketersediaan sumber daya untuk hidup dan berkembang, tidak ada pesaing, tidak ada musuh alami, dan tidak ada tekanan terhadap spesies. 

IAS mampu menyebar cepat melalui empat jalur atau dikenal dengan 4T, Travel, Trade, Tourism and Transportation. International Union for Conservation Nature (2014) menyebutkan bahwa IAS menjadi ancaman terbesar kelangsungan biodiversitas asli di suatu wilayah, mengancam keamanan pangan serta berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesehatan manusia di seluruh dunia.  CBD (2007) mencatat jumlah kerugian akibat rusaknya ekosistem alam di seluruh dunia mencapai 1,4 triliun dolar AS per tahun. 

______________________________________________________________

Baca juga: Disinfektan dari Cuka Kayu & Bambu Lebih Efektif

______________________________________________________________

IAS bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain mengikuti pembawanya (media). Untuk mampu menguasai suatu wilayah, IAS harus melalui beberapa tahapan.  Berawal muncul di suatu tempat, beradaptasi di lingkungan baru, dan menyebar ke beberapa wilayah di dekatnya.  Setelah mapan dengan kepadatan cukup luas, mereka sulit dilacak dan akhirnya mendominasi. 

Memang, beberapa artikel menyatakan bahwa virus corona masuk kategori bukan organisme hidup - RNA terbalut protein - yang tentunya sedikit berbeda dengan IAS.  IAS masuk kategori organisme hidup karena mampu bergerak melalui media air, angin, udara, dan lain-lainnya.  Meski bukan organisma hidup, Covid-19 mampu menempel pada organisma hidup sebagai inangnya dan memicu inang menjadi lebih agresif. 

Patrick Galey (diunduh dari Jakarta Post, 8 Maret 2020) mengulas konsep virus yang menurutnya sudah ada sejak dahulu kala.  Namun para peneliti bahkan belum yakin apakah virus berukuran nano ini masuk kategori makhluk hidup karena tidak memiliki sel dan tidak bernafas. 

Galey juga mengutip tulisan Profesor Biologi dari University of Winsonsin Oshkosh, AS, yakni Prof. Teri Shors yang mengatakan bahwa virus merupakan paket molekul yang cukup kecil untuk bisa masuk ke dalam sel dan menyebabkan infeksi serius. 

Containment

Dari perspektif ini, penanganan pola penyebaran Covid-19 bisa dianalogikan dengan penanganan IAS pada ekosistem. Pada pengelolaan IAS, jika jumlah dan sebaran masih sedikit, eradikasi melalui pemusnahan akan efektif. 

Jika belum menyebar ke lokasi lain dan masih terbatas maka secepatnya dilakukan pengurungan (containtment) untuk mencegah penyebaran lebih luas. Jika sudah meluas pengendalian hanya melalui musuh alami (biological control) yang berada di tempat asalnya.

Virus tidak bisa bergerak bebas tanpa bantuan manusia atau hewan sebagai media sehingga memutus pergerakan atau penyebaran memerlukan strategi.  Analisis Resiko, Deteksi Dini dan Respon Cepat (DDRC) adalah langkah awal dalam strategi mencegah dan memutus penyebaran.

_____________________________________________________

Baca juga: Experiencing Innovation of Sericulture

_____________________________________________________

Memutus rantai penularan memerlukan upaya pemetaan jalur penularan (pathway) dan tindakan pengurungan (containment) bagi orang yang sudah terpapar -- saat ini orang menyebut dengan lockdown.  Jika containment berhasil, selanjutnya dilakukan upaya restorasi - istilah pada IAS tumbuhan -  atau pemulihan atau recovery terhadap orang yang terpapar. 

Upaya pemulihan harus dilakukan secara tuntas agar Covid-19 tidak kembali. Jangan menunda hingga virus corona mampu bermutasi menjadi Covid20 atau 21.  

Apakah kita akan mampu menghentikan laju penularan dan penyebaran Covid-19 ini? Tentu saja hal ini,  akan tergantung dari disiplin, keseriusan dan kesadaran semua lapisan masyarakat akan bahaya jangka panjang bagi ekonomi, lingkungan dan kesehatan kita.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR