Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Pemberdayaan yang Mengubah Curiga jadi Partisipasi

Selasa, 14 Juli 2020

Kisah mendampingi Kelompok Jasa Wisata Perahu Getek Susur Sungai “Maju Mandiri” Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau

Tatang Suwardi S.Hut Tatang Suwardi S.Hut PEH Muda Taman Nasional Sebangau 20180519-091950.jpg
Dok. Tatang Suwardi

CERITA ini dimulai pada Februari 2016, awal mula mendapat kepercayaan sebagai Kepala Resort Sebangau Hulu Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Sebelumnya penulis bertugas di kantor Balai Taman Nasional Sebangau sebagai koordinator pemetaan dan perlindungan, selama kurang lebih tiga tahun (2013–2015).   

Bergabung dengan Taman Nasional Sebangau sebenarnya sudah sejak 2007 dengan penugasan pertama di kantor balai selanjutnya ke SPTN Wilayah II, SPTN Wilayah I, dan Resort Habaring Hurung Wilayah I, sebelum kembali ke kantor balai sebagai koordinator pemetaan dan perlindungan. 

Meskipun penempatan tugas di Balai, SPTN I dan SPTN II, untuk tugas lapangan semua wilayah resort TN Sebangau pernah dikunjungi. Dari pengalaman bertugas di lapangan diperoleh gambaran situasi dan kondisi dari kawasan TN Sebangau dan sekitarnya seperti potensi, ancaman/tantangan dan peluang untuk pengelolaan TN Sebangau.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

___________________________________________________________________________

Melihat potensi dan peluang yang dapat dikembangkan terutama untuk fungsi pemanfaatan dan solusi mengurangi ancaman terhadap kawasan sekaligus kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan, terpikirkan satu lokasi yang sangat potensial untuk dikembangkan pemanfatannya sebagai obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) yaitu Resort Sebangau Hulu. 

Resort  Sebangau Hulu merupakan wilayah yang paling dekat dan mudah dijangkau dari Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah sehingga peluang untuk pengembangan ekowisatanya sangat besar. Selain itu, terdapat masukan dari salah satu pemilik agen tour ekowisata pada saat kegiatan workshop yang dilanjutkan dengan diskusi informal.

TN Sebangau bukan potensi lagi melainkan sudah menjadi obyek ekowisata.  Selama periode 2007 – 2015 jumlah pengunjung TNS sebagian besar adalah tamu resmi dari kantor atau tamu mitra (WWF) atau bukan wisatawan. Muncul keinginan untuk mengembangkan kegiatan ekowisata di Resort Sebangau Hulu. Atas dukungan Kepala Balai, selanjutnya kepercayaan diberikan untuk  mendapat tugas di Resort Sebangau Hulu.

Pada awal pengelolaan ekowisata yaitu periode tahun 2016 belum melibatkan masyarakat Kereng Bangkirai untuk pelayanan transportasi dan kepemanduannya. Hal ini dilakukan  karena masih adanya kekhawatiran belum siapnya prosedur operasional standar terutama pelayanan transportasi air yang memiliki resiko yang tinggi meskipun masyarakat sekitarnya sudah sering dilibatkan dalam kegiatan lapangan baik sebagai tenaga harian maupun disewa klotoknya.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Berburu Api Biru di Kawah Gunung Ijen

___________________________________________________________________________

Selain itu juga jumlah kunjungan wisatawan tahun 2016 masih rendah yaitu 67 orang untuk WNA dan 92 orang untuk WNI.  Selain melaksanakan tugas utama yaitu perlindungan dan pengamanan kawasan dan tugas tenis lainnya di periode awal  pengelolaan ekowisata masih dilakukan bersama rekan kerja Resort Sebangau Hulu dan staf SPTN Wilayah I yang bersama-sama belajar melayani wisatawan.

Demikian juga kegiatan atraksi wisata seperti treking di hutan masih dipandu sendiri bersama tenaga lapangan Resort Sebangau Hulu dan staf SPTN I.

Kami beranggapan bahwa dengan adanya kegiatan ekowisata  juga sangat membantu intensitas kami ke lapangan. Seperti diketahui ongkos perjalanan ke kawasan melalui sungai membutuhkan biaya besar sementara anggaran untuk kegiatan patroli perlindungan dan pengamanan kawasan terbatas.     

halaman selanjutnya: Belajar kelola wisata...

 

Belajar kelola wisata

Sebagai petugas yang berlatar belakang kehutanan yang akan mengelola kawasan sebagai obyek wisata diperlukan pengetahuan mengenai pariwisata terutama ekowisata karena selama ini hanya berkutat dengan hutan dan isinya yaitu flora dan fauna.

Selain  mempersiapkan lokasi obyek wisata seperti pembuatan jalur treking, penandaan obyek menarik (point of interest), juga belajar mengenai pelayanan wisatawan dari teman-teman pemandu wisata dan agen travel wisata. Seringkali mereka diminta memberikan masukan terkait kekurangan dan apa yang harus dikembangkan.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Solusi Mikroba untuk Reklamasi Lahan Tambang

___________________________________________________________________________

Beberapa strategi awal yang dilakukan adalah melakukan promosi destinasi wisata di media sosial dengan membuat akun Facebook dan Instagram, akun medsos ini dibuat dengan tujuan sosialisasi kawasan TN Sebangau, mengubah mindset terkait pelestarian kawasan konservasi dan promosi destinasi Sungai Koran, Mangkok dan Punggualas.

Strategi lainnya yaitu mengundang pemandu wisata, agen travel wisata dan komunitas photographer untuk survey destinasi wisata Sungai Koran dan aktif di Forum Komunikasi Pekerja Pariwisata Kalteng yang berkomunikasi melalui Whatsapp Group dan pertemuan langsung serta berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan Forum Pekerja Pariwisata. 

Tantangan utama untuk mengembangkan usaha ekowisata TN Sebangau khususnya destinasi Sungai Koran adalah masih minimnya kunjungan wisatawan. Tingkat popularitas TN Sebangau yang masih rendah, baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga perlu strategi yang tepat untuk lebih mempromosikan keberadaan dan keunggulan TN Sebangau. 

Bermitra

Beruntung pada saat itu Balai TN Sebangau memiliki mitra "Lestari" karena pada awal tahun 2017 diusulkan untuk dapat membantu memfasilitasi promosi ekowisata melalui kegiatan field trip bagi kelompok tour guide atau pramuwisata, agen travel wisata, instansi terkait dalam hal ini Disbudpar Provinsi Kalteng dan Kota Palangka Raya, Hotel yang ada di Palangka Raya dan maskapai penerbangan. 

Tujuan dari field trip adalah membangun kerjasama yang lebih baik dengan pihak terkait (stakeholders) untuk pengembangan wisata alam di TN Sebangau dan promosi obyek ekowisata yang ada di TN Sebangau.

Sedangkan output dari kegiatan field trip adalah adanya komitmen dari peserta field trip yaitu kelompok tourguide (HPI), pelaku wisata (tour travel agent)  dan intansi terkait untuk membantu mempromosikan dan sekaligus mendatangkan tamu wisata ke TN Sebangau sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan meningkatkan keterkenalan TN Sebangau.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Cara Leuit Menghadapi Krisis Pangan

___________________________________________________________________________

Kegiatan field trip terealisasi selama tiga hari pada tanggal 12 sampai 14 Juni 2017 ke tiga destinasi wisata yang dikembangkan TN Sebangau yaitu Sungai Koran, Punggualas dan Mangkok. Pada hari keempat kegiatan ditutup dengan Workshop Promosi Ekowisata TN Sebangau dimana para peserta mempresentasikan hasil kegiatan field trip yaitu terkait akses, kondisi fisik, fasilitas dan sarana, dan daya tarik destinasi.

Semenjak dilakukannya kegiatan field trip semakin bertambah pelaku usaha yang mulai mempromosikan dan memasarkan paket wisata ke TN Sebangau terutama untuk Sungai Koran dan Punggualas. Terlihat adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan pada 2017 jika dibandingkan 2016 dan tahun-tahun sebelumnya.  Untuk mendukung peningkatan kunjungan wisatawan pada 2017 ini juga dibangun sarana ekowisata berupa dermaga tambat klotok dan wooden trail di jalur treking sepanjang 179 meter.

Halaman selanjutnya: Tantangan pelibatan masyarakat...

 

Tantangan pelibatan masyarakat

Pelibatan masyarakat dalam kegiatan ekowisata di Resort Sebangau Hulu dimulai Juni 2017 sebelum adanya pembentukan kelompok masyarakat, belum ada aturan terkait antrian dan tarif biaya per paketnya. 

Dari beberapa kali melakukan pelayanan kunjungan wisatawan diperoleh gambaran bagaimana melayani tamu terutama terkait pelayanan transportasi air bersama masyarakat. Kemudian dilakukan pengaturan antrian klotok, teknis pelaksanaan pelayanan tamu dan biaya sewa klotok sehingga kesepakatan diantara masyarakat tentang hal tersebut harus segera dibuat.

Pada Agustus 2017 atas inisiatif masyarakat sendiri dibentuklah Kelompok Perahu Getek Susur Sungai “Maju Mandiri” Kereng Bangkirai dengan anggota sebanyak 15 orang yang memiliki susunan pengurus Ketua, Sekretaris dan Bendahara.  Di awal terbentuknya kelompok masih sering terjadi perselisihan antar anggota seperti masalah pengaturan antrian dan tarif sewa klotok. Seringkali sebagai pendamping kelompok diminta bantuan untuk menyelesaikan perselisihan. 

Beberapa kali rapat dadakan dilaksanakan pada malam hari untuk bermusyawarah untuk membuat kesepakatan tentang pengaturan pelayanan pengunjung.  Selain rapat sering juga berdiskusi santai ketika waktu senggang di saat sore hari untuk membahas hal-hal yang dianggap perlu untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kapasitas masing-masing anggota. 

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Kearifan Lokal Penjaga Hutan

___________________________________________________________________________

Pada awal terbentuknya kelompok dinamika berorganisasi masih tinggi termasuk perubahan keanggotaan, ada dua anggota merasa tidak bisa menerima kesepakatan yang telah dibuat sehingga memilih keluar dari kelompok. Permasalahan bukan hanya ada di internal kelompok tetapi dari masyarakat Kereng Bangkirai yang bukan anggota kelompok. 

Adanya kelompok Maju Mandiri menimbulkan rasa cemburu bagi sebagian masyarakat, banyak yang ingin bergabung menjadi anggota kelompok namun pertimbangan jumlah kunjungan wisatawan yang masih sedikit belum bisa mengakomodir keinginan masyarakat lainnya yang ingin bergabung.

Peningkatan kapasitas

Sebagai pendamping dan kelompok yang baru berkecimpung di usaha jasa wisata, pengetahuan mengenai bidang tersebut merupakan hal baru sehingga perlu pengembangan kapasitas diri dan kelompok. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya mitra atau pihak lain yang bisa membantu peningkatan kapasitas di bidang pariwisata. 

Upaya yang dilakukan adalah mengajak kepada mereka yang memang menguasai di bidang tersebut seperti kelompok pemandu wisata (HPI), ASITA, Agen Travel Wisata, Disbudpar Provinsi Kalimantan Tengah dan Disbudpar Kota Palangka Raya. Menjalin komunikasi mereka sangat penting untuk mengejar ketertinggalan pengetahuan dan kapasitas di bidang ini.  Selalu disampaikan kepada dinas terkait untuk diberi kesempatan ikut serta apabila ada kegiatan peningkatan kapasitas seperti pelatihan dan workshop kepariwisataan. 

Di samping keikutsertaan dalam kegiatan formal tersebut anggota kelompok Maju Mandiri juga bersepakat untuk belajar Bahasa Inggris yang dilaksanakan di rumah Pak Jumadi (Ketua Kelompok Maju Mandiri) dengan pengajar dari pelaku usaha wisata dan kelompok pramuwisata (HPI). 

Kelas bahasa Inggris ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu pada sore hari. Dalam perkembangan selanjutnya selain belajar bahasa Inggris juga belajar mengenai wisata budaya di Kalteng, pelayanan pengunjung termasuk di dalamnya belajar tentang interpretasi ekowisata dan etika kepemanduan.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Desa, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla

___________________________________________________________________________

Balai TN Sebangau sebagai pembina Kelompok Perahu Getek Susur Sungai “Maju Mandiri” melalui SPTN Wilayah I pada Tahun 2018 melakukan kegiatan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan kelompok dan anggotanya melalui pelatihan peningkatan kapasitas kelembagaan dan pelatihan kepemanduan yang melibatkan dinas terkait (Disbudpar) dan Himpunan Pramu Wisata Indonesia (HPI) Kota Palangka Raya.

Selain dengan pelatihan Balai TN Sebangau juga meningkatkan kapasitas kelembagaan kelompok dan anggotanya melalui studi banding ke destinasi wisata yang ada di Kalimantan Tengah dan luar Kalimantan seperti studi banding ke TN Tanjung Puting, TN Gunung Ciremai, TN Bali Barat. Sedangkan untuk Ketua dan Sekretaris juga pernah diikutkan dalam beberapa event tingkat nasional seperti puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan kegiatan Festival Taman Nasional.

Bentuk lain dari peningkatan kapasitas kelompok juga dilakukan berupa pemberian bantuan peralatan dan perlengkapan baik melalui dana APBN Balai TN Sebangau maupun melalui mitra yaitu Badan Restorasi Gambut (BRG) berupa hibah enam unit kano, peremajaan perahu/klotok dan pengadaan mesin perahu untuk 15 unit perahu/klotok pada Tahun 2018.

Halaman selanjutnya: Kolaborasi pemangku kepentingan...

 

Kolaborasi pemangku kepentingan

Satu peristiwa penting yang tidak bisa dilupakan dan menambah semangat dalam mengembangkan ekowisata TN Sebangau adalah ketika jalinan kerjasama dengan dinas terkait semakin erat yang ditandai dengan kegiatan yang difasilitasi oleh Kepala Disbudpar Provinsi Kalteng, Guntur Talajan yaitu silaturahmi dengan Gubernur Provinsi Kalteng H. Sugianto Sabran di Istana Isen Mulang pada malam hari 3 Desember 2017. 

Silaturahmi ini sangat penting artinya bagi keberlanjutan pengembangan wisata TN Sebangau karena membuahkan keputusan tentang penunjukan destinasi Sungai Koran sebagai salah satu destinasi wisata Kalteng yang diprioritaskan untuk pengembangannya sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 2 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Prov. Kalteng Tahun 2013–2028 dimana kawasan Sebangau termasuk dalam Pengembangan Kawasan Wilayah Tengah. 

Menindaklanjuti hal tersebut selanjutnya dituangkan dalam perjanjian kerjasama antara Pemda Provinsi Kalteng dalam hal ini Disbudpar Provinsi Kalteng dan Balai TN Sebangau yang direalisasikan pada Tahun 2018 dengan dibangunnya sarana ekowisata di Sungai Koran di antaranya 1 unit menara pandang, 1 unit gazebo, 2 unit toilet dan wooden trail sepanjang 100 meter dengan sumber anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kemenpar.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut

___________________________________________________________________________

Di tahun yang sama juga Balai TN Sebangau menambah sarana ekowisata dengan membangun lagi wooden trail sepanjang 120 meter, jembatan Sungai Koran dan camping ground.  Pembangunan sarana ekowisata oleh Disbudpar Provinsi Kalteng berlanjut di tahun 2019 dengan membangun lagi menara pandang, toilet, wooden trail dan Guest House di sekitar camping ground.

Sesuai dengan harapan kami dan Kelompok Maju Mandiri, di tahun 2018 jumlah kunjungan wisata ke TN Sebangau pun semakin meningkat mencapai 143% dibandingkan dengan tahun 2017.  Hal ini sangat berdampak pada tambahan pendapatan anggota kelompok. 

Halaman selanjutnya: Perubahan persepsi... 

 

Perubahan persepsi

Bertambahnya keyakinan bahwa bekerja pada usaha jasa ekowisata sangat menjanjikan membuat banyak perubahan pandangan dan sikap terhadap keberadaan kawasan TN Sebangau. Persepsi awal masyarakat sekitar kawasan adalah bahwa dengan adanya taman nasional mereka akan dirugikan, banyak yang menduga bahwa akan adanya larangan mencari ikan dan akses masuk ke dalam hutan akan sulit dan tertutup. 

Sehingga sikap curiga dan kontra terhadap keberadaan taman nasional muncul di masyarakat. Namun setelah adanya usaha di sektor wisata secara berangsur curiga dan kontra terhadap TN Sebangau hilang dan berbalik menjadi mitra yang siap membantu menjaga dan melestarikan. 

Sebagian besar mata pencaharian anggota kelompok sebelumnya adalah sebagai nelayan (pekerjaan utama), pemburu burung, penebang kayu dan penyadap getah jelutung kini telah beralih pekerjaan ke jasa wisata. Usaha jasa wisata yang dilakukan yang pada awalnya hanya penyedia jasa transportasi kini semakin berkembang menjadi pemandu lokal dan tukang masak dan tidak menutup kemungkinan akan tercipta usaha baru seperti home stay atau atraksi lain.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Transformasi Hutan Kemasyarakatan di Kalibiru

___________________________________________________________________________

Pada 2019 jumlah pengunjung untuk wisatawan mancanegara mengalami penurunan hal ini disebabkan banyaknya kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau yang terjadi mulai Juli 2019 yang menyebabkan terganggunya penerbangan dan kekhawatiran terganggunya kesehatan akibat dari dampak asap. 

Banyak dari wisatawan mancanegara yang membatalkan tournya ke Kalimantan Tengah. Tetapi untuk wisatawan nusantara tetap mengalami kenaikan terutama wisatawan lokal.

Partisipasi aktif

Pada saat terjadi kebakaran hutan di kawasan TN Sebangau masyarakat Kereng Bangkirai sangat aktif dengan sukarela membantu kegiatan pemadaman bersama-sama dengan Manggala Agni dan staf TN Sebangau.  Seringkali mereka melakukan pemadaman mulai dari pagi hari dan pulang malam hari. 

Sangat nyata sekali adanya peningkatan partisipasi masyarakat sekitar kawasan dalam pengelolaan TN Sebangau.  Partisipasi dari masyarakat juga dilakukan pada kegiatan lainnya yaitu pada kegiatan pemulihan ekosistem berupa rehabilitasi vegetasi dan rehabilitasi hidrologi (pembangunan sekat kanal), sebagai pendamping dalam kegiatan penelitian sebagai pengenal jenis pohon dan tenaga teknis lapangan lainnya.  

Pada kegiatan perlindungan dan pengamanan juga masyarakat terlibat dalam kegiatan patroli pengamanan dan patroli pencegahan kebakaran hutan. Partisipasi anggota Kelompok “Maju Mandiri” selain kegiatan tersebut di atas mereka secara rutin dan inisiatif sendiri melakukan pemeliharaan akses jalur sungai yang merupakan prasarana transportasi untuk kegiatan pengelolaan dan kegiatan pariwisata di TN Sebangau dan juga secara sukarela memelihara kebersihan lokasi obyek ekowisata yang ada di dalam kawasan TN Sebangau.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Gunung Salak, Gedung Konser dalam Hening Semesta

___________________________________________________________________________

Anggota Kelompok “Maju Mandiri” juga aktif dalam sosialisasi tentang pelestarian kawasan taman nasional dan ikut mempromosikan destinasi ekowisata TN Sebangau baik secara langsung maupun melalui media sosial, sehingga bisa disebut sebagai agen atau kepanjangan tangan dari Balai TN Sebangau dalam sosialisasi dan promosi di lingkungannya.

Bermodal pengelolaan usaha ekowisata yang semakin meningkat setiap tahunnya yang dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai pihak dan dukungan yang besar dari masyarakat Kereng Bangkirai, Balai TN Sebangau mengikutsertakan destinasi Sungai Koran dalam Lomba Indonesia Sustainable Tourisme Award (ISTA) 2019 yang digelar oleh Kementerian Pariwisata.

Hasilnya, pada September 2019 Destinasi Sungai Koran memperoleh penghargaan ISTA 2019 sebagai pemenang “Green Bronze” Kategori  Pelestarian Lingkungan.  Satu pencapaian yang besar mengingat destinasi wisata Sungai Koran tergolong baru dan masih kurang dikenal di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Halaman selanjutnya: Catatan akhir...

 

Catatan akhir

Selama masa pendampingan Kelompok Perahu Getek Susur Sungai “Maju Mandiri” Kereng Bangkirai (2017-2019) dalam hal ini usaha jasa ekowisata di Resort Sebangau Hulu SPTN Wilayah I diperoleh beberapa hal catatan yang bisa menjadi pelajaran bersama.

Pertama, pengelolaan pariwisata di TN Sebangau tidak bisa dilakukan sendiri, semakin banyak mitra yang terlibat semakin cepat hasil yang akan dicapai. Kerjasama dengan mitra yang berkelanjutan dan jalinan yang semakin kuat dapat dipertahankan apabila saling menghargai dan mengapreasiasi apa yang telah mereka lakukan.

Kedua, usaha ekowisata merupakan pemanfaatan kawasan konservasi berupa usaha bidang jasa dan salah satu cara yang relatif mudah dan sedikit konflik permasalahan yang dihadapi karena masyarakat menilai bahwa keberlangsungan usaha tergantung dari keberadaan dan lestarinya kawasan konservasi.

Ketiga, untuk mendapatkan dukungan pengelolaan dari masyarakat sekitar kawasan diperlukan bukti bahwa upaya yang kita lakukan memberikan keuntungan yang nyata. Keempat, terciptanya mata pencaharian baru dimana sebagian masyarakat menganggap usaha wisata sebagai pekerjaan tambahan dan sebagian masyarakat yang lain sebagai pekerjaan utama. Namun yang penting bahwa mata pencaharian baru ini telah mengalihkan ketergantungan masyarakat pada hasil hutan secara langsung;

Kelima, Adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat sekitar yang sebelumnya kontra dan menganggap bahwa keberadaan taman nasional akan merugikan mereka kini berbalik 180 derajat menjadi dukungan dan menjadi mitra.

___________________________________________________________________________

BACA JUGA: Purun dan Pemberdayaan Perempuan Desa

___________________________________________________________________________

Keenam, memiliki mitra masyarakat sekitar kawasan memudahkan kita dalam pengelolaan kawasan, meringankan kami sebagai petugas di tapak dalam menjalankan tugas baik dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan maupun pekerjaan teknis lainnya;

Ketujuh, pendampingan kelompok atau masyarakat hendaknya diawali dengan niat bekerja yang tulus dan mempunyai tujuan untuk menjadikan hasil yang dicapai dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang didampingi sehingga turut mendukung pencapaian tujuan dari pengelolaan kawasan itu sendiri.

Akan ada rasa senang dan betah bila niat untuk bekerja didasari ketulusan dan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Di akhir tulisan ini kami sebagai pendamping dengan keterbatasan dan kekurangan pribadi ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Andi M. Kadhafi sebagai Kepala Balai TN Sebangau yang selalu semangat dan banyak ide-ide baru, Bu Lisna Kepala SPTN Wilayah I, Pa Uun Kasubag TU,  Kepala SPTN II dan III serta semua staf TN Sebangau yang di balai dan di lapangan.  Dengan dukungan semuanya kami dapat menjalankan tugas pendampingan selama ini.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR