Sabtu, 16 Januari 2021
News & Nature

Orang-Orang Handil dan Kenangan Kejayaan Pangan

Senin, 21 Desember 2020

Kejayaan ketahanan dan keamanan pangan masyarakat Dayak Ngaju yang pernah dirasakan adalah efek dari pengelolaan kolektif lahan di handil mereka

Budiyanto Dwi Prasetyo Budiyanto Dwi Prasetyo Peneliti Sosiologi Lingkungan di Puslitbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Bogor covhandil.jpg
Budiyanto Dwi Prasetyo

LELAKI itu bernama Ambronsyah. Usianya sudah di atas tujuh puluhan tahun. Tubuhnya kecil dan mulai renta. Kulitnya cokelat kelam bekas terbakar matahari. Tapi ia punya mata yang tajam. Bicaranya pun masih tegas. Dia ketua handil kakawang di desa Gohong, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Ambronsyah mulai bercerita kejayaan tanah-tanah di handilnya. Dipamerkannya masa-masa ‘swasembada beras’ yang pernah ia alami. Kejayaan itu berlangsung lebih dari setengah abad. “Saat itu tanah-tanah di handil masih bisa ditanami padi. Saya tidak pernah beli beras, mungkin selama lima puluh tahun,” ujarnya diiringi asap rokok mengepul saat ia berucap.

Kejayaan tanah-tanah handil juga dituturkan Tali Iman. Lelaki berumur enam puluhan tahun itu ketua handil gandis di Desa Garung, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia berkisah, padi-padi yang dipanen di tanah handilnya mampu mengisi kebutuhan pangan keluarga untuk dua tahun. “Kalau sekali panen hasilnya bisa untuk makan keluarga selama dua tahun,” ujar lelaki keturunan Dayak Ngaju ini.


 

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

 


Sebetulnya, apa itu handil? Bagaimana handil bisa mendukung keamanan pangan orang-orang yang mengandalkan hidup darinya? Dan bagaimana nasib handil-handil tersebut saat ini? Tulisan ini akan mengulas genealogi handil dan perjalanannya hingga saat ini. Tulisan ini merupakan bagian dari upaya diseminasi hasil riset “Kajian strategi penerapan teknik budidaya gambut berkelanjutan oleh masyarakat” yang dilakukan tim peneliti P3SEKPI tahun 2020.

Budiyanto Dwi Prasetyo

Kisah orang-orang pelarian

Asal kata handil masih misterius. Penduduk setempat, baik di Desa Garung maupun di Desa Gohong tak ada yang bersedia menjawab asal muasal kata handil. Meski demikian, istilah handil digunakan penduduk sejak lama. Handil diasosiasikan sebagai anak Sungai Kahayan yang salurannya mengalir ke daratan sejauh lima ratus meter hingga satu kilometer.

Tali Iman, generasi keempat penghuni asli kampung lama Desa Garung berkisah. Dulunya handil adalah anak sungai alami yang berada di sisi kanan dan kiri sungai besar seperti Sungai Kahayan. Sebelum dihuni penduduk handil-handil itu hanyalah sungai biasa.  

Penduduk di kampung lama Desa Garung dulunya tak lain pelarian dari wilayah Kapuas. Tali iman menjelaskan, kala itu Belanda kerap melakukan penculikan atas warga penduduk untuk dijadikan pekerja paksa. Melalui jalur Sungai Kahayan sebagian penduduk lari ke tempat yang kini disebut kampung lama Garung di tepi Sungai Kahayan. Di tempat pelarian ini mereka mendirikan perkampungan. Atap rumah-rumah kampung dikamuflase pepohonan agar terlindung dari Belanda yang memburu lewat udara.


 

BACA JUGA: Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

 


Situasi berangsur aman. Mereka menetap di kampung lama itu. Mereka mulai mengolah lahan di sekitar muara sungai kecil yang menghubungkan Sungai Kahayan dengan tanah-tanah daratan rawa berair yang kini dikenal dengan gambut. Jarak aliran sungai kecil itu dari muara ke pedalaman sekitar satu kilometer. Mereka menyebut sungai-sungai kecil itu sebagai “handil.”

Awalnya handil dikuasai satu keluarga. Salah satunya keluarga Tali Iman yang menguasai handil gandis. Keluarga itu mengolah tanah-tanah di sekitar handil dengan menanam padi, sayuran, dan buah-buahan. Pertambahan populasi menyebabkan kebutuhan pangan meningkat. Tanah di sekitar handil pun dibagi-bagi kepada anggota keluarganya untuk dikelola. Fakta lain yang membenarkan peristiwa ini adalah hingga saat ini masih mudah ditemukan keluarga-keluarga yang mengelola tanah di sekitar handil sebagian besar masih ada hubungan keluarga.

Pembagian lahan handil dilakukan secara musyawarah. Uniknya yang ditentukan hanya lebar lahan. Sedangkan panjang lahan tidak ditetapkan karena luasan lahan yang dianggap tak berhingga. Penerima lahan dibebaskan untuk menentukan titik batas panjang lahan handil. Penentuan penerima lahan, selain karena hubungan keluarga, juga didasarkan pada kemampuan calon penerima lahan untuk mengelolanya.

Halaman selanjutnya: Kombinasi akses, lahan dan sistem...

Budiyanto Dwi Prasetyo

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR