Jumat, 23 Juli 2021
News & Nature

Orang-Orang Handil dan Kenangan Kejayaan Pangan

Senin, 21 Desember 2020

Kejayaan ketahanan dan keamanan pangan masyarakat Dayak Ngaju yang pernah dirasakan adalah efek dari pengelolaan kolektif lahan di handil mereka

Budiyanto Dwi Prasetyo Budiyanto Dwi Prasetyo Peneliti Sosiologi Lingkungan di Puslitbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Bogor covhandil.jpg
Budiyanto Dwi Prasetyo

LELAKI itu bernama Ambronsyah. Usianya sudah di atas tujuh puluhan tahun. Tubuhnya kecil dan mulai renta. Kulitnya cokelat kelam bekas terbakar matahari. Tapi ia punya mata yang tajam. Bicaranya pun masih tegas. Dia ketua handil kakawang di desa Gohong, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Ambronsyah mulai bercerita kejayaan tanah-tanah di handilnya. Dipamerkannya masa-masa ‘swasembada beras’ yang pernah ia alami. Kejayaan itu berlangsung lebih dari setengah abad. “Saat itu tanah-tanah di handil masih bisa ditanami padi. Saya tidak pernah beli beras, mungkin selama lima puluh tahun,” ujarnya diiringi asap rokok mengepul saat ia berucap.

Kejayaan tanah-tanah handil juga dituturkan Tali Iman. Lelaki berumur enam puluhan tahun itu ketua handil gandis di Desa Garung, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia berkisah, padi-padi yang dipanen di tanah handilnya mampu mengisi kebutuhan pangan keluarga untuk dua tahun. “Kalau sekali panen hasilnya bisa untuk makan keluarga selama dua tahun,” ujar lelaki keturunan Dayak Ngaju ini.


 

BACA JUGA: Daulat Bambu di Tanah Sa’o

 


Sebetulnya, apa itu handil? Bagaimana handil bisa mendukung keamanan pangan orang-orang yang mengandalkan hidup darinya? Dan bagaimana nasib handil-handil tersebut saat ini? Tulisan ini akan mengulas genealogi handil dan perjalanannya hingga saat ini. Tulisan ini merupakan bagian dari upaya diseminasi hasil riset “Kajian strategi penerapan teknik budidaya gambut berkelanjutan oleh masyarakat” yang dilakukan tim peneliti P3SEKPI tahun 2020.

Budiyanto Dwi Prasetyo

Kisah orang-orang pelarian

Asal kata handil masih misterius. Penduduk setempat, baik di Desa Garung maupun di Desa Gohong tak ada yang bersedia menjawab asal muasal kata handil. Meski demikian, istilah handil digunakan penduduk sejak lama. Handil diasosiasikan sebagai anak Sungai Kahayan yang salurannya mengalir ke daratan sejauh lima ratus meter hingga satu kilometer.

Tali Iman, generasi keempat penghuni asli kampung lama Desa Garung berkisah. Dulunya handil adalah anak sungai alami yang berada di sisi kanan dan kiri sungai besar seperti Sungai Kahayan. Sebelum dihuni penduduk handil-handil itu hanyalah sungai biasa.  

Penduduk di kampung lama Desa Garung dulunya tak lain pelarian dari wilayah Kapuas. Tali iman menjelaskan, kala itu Belanda kerap melakukan penculikan atas warga penduduk untuk dijadikan pekerja paksa. Melalui jalur Sungai Kahayan sebagian penduduk lari ke tempat yang kini disebut kampung lama Garung di tepi Sungai Kahayan. Di tempat pelarian ini mereka mendirikan perkampungan. Atap rumah-rumah kampung dikamuflase pepohonan agar terlindung dari Belanda yang memburu lewat udara.


 

BACA JUGA: Bun Upas dan Tergerusnya Dataran Tinggi Dieng

 


Situasi berangsur aman. Mereka menetap di kampung lama itu. Mereka mulai mengolah lahan di sekitar muara sungai kecil yang menghubungkan Sungai Kahayan dengan tanah-tanah daratan rawa berair yang kini dikenal dengan gambut. Jarak aliran sungai kecil itu dari muara ke pedalaman sekitar satu kilometer. Mereka menyebut sungai-sungai kecil itu sebagai “handil.”

Awalnya handil dikuasai satu keluarga. Salah satunya keluarga Tali Iman yang menguasai handil gandis. Keluarga itu mengolah tanah-tanah di sekitar handil dengan menanam padi, sayuran, dan buah-buahan. Pertambahan populasi menyebabkan kebutuhan pangan meningkat. Tanah di sekitar handil pun dibagi-bagi kepada anggota keluarganya untuk dikelola. Fakta lain yang membenarkan peristiwa ini adalah hingga saat ini masih mudah ditemukan keluarga-keluarga yang mengelola tanah di sekitar handil sebagian besar masih ada hubungan keluarga.

Pembagian lahan handil dilakukan secara musyawarah. Uniknya yang ditentukan hanya lebar lahan. Sedangkan panjang lahan tidak ditetapkan karena luasan lahan yang dianggap tak berhingga. Penerima lahan dibebaskan untuk menentukan titik batas panjang lahan handil. Penentuan penerima lahan, selain karena hubungan keluarga, juga didasarkan pada kemampuan calon penerima lahan untuk mengelolanya.

Halaman selanjutnya: Kombinasi akses, lahan dan sistem...

Budiyanto Dwi Prasetyo

 


Kombinasi akses, lahan, dan sistem

Sebuah dokumen berjudul Social mapping of access to peat swamp forest and peatland resource, Kalimantan Forest and Climate Partnership Working Paper” ditulis Zulkifli Lubis tahun 2014 disebutkan, handil adalah istilah dengan beberapa arti. Pertama, handil berarti jalur transportasi air yang menghubungkan sungai dengan lahan pertanian. Kedua, handil diartikan lahan di sekitar lokasi kanal yang dikelola secara kolektif. Ketiga, handil merupakan sistem pengelolaan kolektif atas lahan pertanian dan saluran kanal.

Sesuai definisi tersebut, handil memang dibutuhkan penduduk sebagai akses ke tempat bercocok tanam memakai perahu. Bahkan batas kepemilikan lahan di dalam handil biasanya dibuat parit-parit yang memisahkan bidang satu dengan yang lain. Semakin banyak tanah yang diusahakan untuk bertani maka akses jalur air ke pedalaman daratan semakin dibutuhkan. Maka hanya orang bermodal besar yang mampu mengolah lahan secara luas. Meski tak dipungkiri modal sosial masyarakat Dayak Ngaju sebetulnya terbukti mampu mensubstitusi modal ekonomi tadi. Misalnya dengan membuka lahan secara gotong royong.

Selain akses, handil juga diartikan sebagai lahan atau tanah-tanah yang tersebar di sepanjang kanal. Definisi ini tentu dibuat sebagai adopsi dari ucapan penduduk dalam mengartikan tanah-tanah di handil mereka. Misalnya, kebiasaan budidaya padi yang dilakukan di tanah-tanah mereka biasanya berada pada hamparan di sekitar handil (anak sungai atau kanal alami) yang disebut sebagai padi di handil.

Ambronsyah pemimpin handil kakawang di Desa Gohong, menyebut tanah-tanah handil yang bisa ditanam padi adalah tanah pematang yang tak terendam air dan ditandai adanya tumbuhan mahang. Tanah di dalam handil yang berair dan ditumbuhi galam biasanya dihindari penduduk setempat. “Lahan handil yang ada genangan air dan ada pohon galam itu disebut baruh. Tidak bagus untuk ditanam padi karena bisa terendam banjir pasang,” jelas Tali Iman yang juga pernah tanam padi di handilnya.


 

BACA JUGA: Merawat Kedermawanan Tambora

 


 

Handil sebagai sistem pengelolaan kolektif tentu merupakan definisi yang tepat. Kejayaan ketahanan dan keamanan pangan masyarakat Dayak Ngaju yang pernah dirasakan tiap-tiap anggota handil adalah efek dari pengelolaan kolektif lahan-lahan di handil mereka. Keberhasilan panen padi skala besar selalu didukung kerja-kerja kolektif masyarakat. Kolektivitas mereka misalnya dipraktekkan pada kegiatan tebas bakar dalam memulai musim tanam padi. Selain untuk efektifitas kerja, abu sisa pembakaran membuat tanah jadi subur.

Studi tentang tebas bakar di Kalimantan pernah dilakukan Michael R Dove. Hasil studi itu dipublikasi tahun 1988 dalam Jurnal The real and imagined role of culture in development: case studies from Indonesia, University Hawaii Press. Menurut Dove, sistem tebas-tebang-bakar cocok dilakukan di tanah-tanah Kalimantan. Sebab, abu sisa pembakaran selain memperkaya unsur hara bagi kesuburan tanah juga dapat mengurangi tingkat keasaman tanah yang tinggi di areal hutan hujan tropis.

Pembakaran dilakukan secara terkendali baik secara teknis maupun secara sosial. Pembuatan sekat bakar, persiapan pompa air, penghitungan hari hujan, arah angin, dan waktu pembakaran tepat di siang hari merupakan upaya teknis yang dilakukan. Secara sosial, keterlibatan semua pihak, tanggungjawab dan sanksi jika terjadi kebakaran, serta pelaksanaan ritual ijin kepada kekuatan leluhur dan penguasa alam disekitar lokasi pembukaan lahan adalah bentuk kontrol secara sosial.

Teknik penanaman dengan sistem tugal dilakukan secara gotong royong pula oleh para anggota handil. Di sisi lain, teknik menghalau hama dilakukan dengan menanam padi dengan luasan tak kurang dari 100 hektar. Ambronsyah, ketua handil kakawang menjelaskan, hama seperti burung pipit pasti akan menyerang bulir padi. Maka mereka sediakan sekitar dua puluh persen untuk dimakan hama agar sisanya terlindungi dan bisa panen pada waktunya.

Handil pada dasarnya merupakan lembaga sosial berbasis keluarga yang terbentuk secara organik. Tali Iman ketua handil gandis dan Ambronsyah ketua handil kakawang adalah representasi handil sebagai lembaga. Saat ini bahkan handil sudah diformalkan keberadaannya melalui surat keputusan kepala desa. Ia memiliki struktur layaknya organisasi resmi. Peran dan fungsinya juga sudah diakui secara hukum terutama dalam pengajuan proposal kegiatan ke pemerintah.

Budiyanto Dwi Prasetyo

Akhir kejayaan, awal penantian

Ambronsyah dan Tali Iman hanyalah segelintir orang-orang handil yang saat ini menunggu kepastian kembali terisinya lumbung-lumbung pangan mereka. Kebakaran besar tahun 2014 dan diberlakukannya larangan membakar lahan di lahan gambut tahun 2015 adalah dua peristiwa krusial yang mengubah hidup mereka. Praktis sejak peraturan itu diterapkan maka berakhirlah kejayaan pangan di tanah-tanah handil mereka.

Tidak ada lagi pembukaan lahan, tak ada tebas bakar, tak ada tanam dan tugal padi, tak ada berbagi panen dengan burung pipit, dan tak ada lagi benih padi lokal jenis unggul yang tersisa. Semuanya berakhir. Termasuk keriuhan gotong royong dan sakralnya ritual adat pembukaan lahan dan syukuran saat panen yang dihiasi bendera-bendera kuning. Semuanya berakhir. Larangan membakar telah mengubah semuanya.

Ambronsyah dan Tali Iman hanya sesekali berjalan mengunjungi lahan handilnya untuk menengok sengon dan menyadap karet. Dua tanaman yang jadi penanda kalau tanah itu adalah handilnya. Selain dua jenis itu, hanya semak belukar yang tersisa. Mereka sangat berharap larangan membakar yang mereka patuhi dapat diiringi dengan teknologi. Apapun teknologinya agar handil-handil mereka kembali bisa ditanami. Agar handil-handil mereka bisa berjaya kembali. Berswasembada. Mereka hanya bisa berharap.*

Budiyanto Dwi Prasetyo



BAGIKAN

BERI KOMENTAR