Moke, Nalo dan Makna Sosial Budaya yang Mengiringinya

Senin, 15 November 2021

Tim penelitian Project Kanoppi 2 KLHK bekerjasama dengan Environmental Bamboo Foundation (Yayasan Bambu Lestari) tengah melakukan introduksi model agroforestri bambu dengan kombinasi pohon moke di antara tegakan bambu.

Budiyanto Dwi Prasetyo Budiyanto Dwi Prasetyo Peneliti Sosiologi Lingkungan di Puslitbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Bogor f7e94c46-dabf-42ab-903e-23916b3473c1.jpg
Dok. Penulis

Kota Bajawa sedang diselimuti kabut. Warnanya seperti awan putih. Tebal sekali. Kabut menyebabkan jarak pandang hanya sepuluh meter. Supir travel kami memacu mobil dengan hati-hati. Maklum, sejak dari bandara Soa jalanan yang dilalui berkelok-kelok dan naik-turun.

Saat cuaca dingin memang paling enak cari yang hangat-hangat. Minum moke salah satunya. Air nira dari irisan tandan bunga enau (Arenga pinnata) ini memang terkenal di daratan Flores. Termasuk di Bajawa. Ketika tiba di Sao (rumah adat) di Kampung Doka, kami pun mulai berburu moke.

___________________________________________________________________

BACA JUGA:

Memudarnya Hutan Mangrove dan Kearifan Lokal

____________________________________________________________________

Yoris Dama, pemuda hampir saja wisuda sarjana di salah satu perguruan tinggi di Flores ini adalah salah satu pengiris moke. Ia menyiapkan tas berisi tudhi tua (pisau untuk iris tandan bunga enau). Lalu, dengan parang di pinggang, ia pun berangkat ke kebun menuju pohon moke miliknya.

Ia tiba di pohon moke yang sudah disiapkan tangga dari sebatang bambu dengan ruas-ruas yang dimodifikasi untuk pijakan kaki. Yoris menaiki anak tangga itu. Sesampai di atas, ia memeriksa leko tua (tempat menampung air nira dari bambu sepanjang satu ruas). Lantas dibawanya turun leko tua yang berisi moke manis itu. Ia tuang ke jerigen. Isinya hampir saja memenuhi jerigen lima liter.

“Moke putih yang enak itu tergantung pada bambu yang dipakai untuk leko tua. Supaya jadi moke, bambu setelah dipotong tidak dibersihkan. Dia langsung dipakai untuk tampung nira. Jika pemilihan bambunya tepat, moke putih yang dihasilkan rasanya akan manis. Meski sudah terfermentasi dia tetap manis, bukannya pahit.” Jelas Yoris.

Tak lama, Yoris naik lagi untuk meletakkan leko tua di atas pohon. Lalu ia mengambil tudhi tua dari dalam tas. Diirisnya tandan bunga enau dengan sangat hati-hati. Irisannya tipis sekali. Seolah tak ingin tandan bunga itu cepat habis. Jika tandan habis, berarti habis pula moke dari pohon itu.

Halaman berikutnya: transfer pengetahuan...

Halaman:  123

BAGIKAN

BERI KOMENTAR