Jumat, 23 Juli 2021
News & Nature

Menjumpa Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Jumat, 26 Maret 2021

Untuk mengetahui densitas atau populasi orangutan dilakukan dengan menghitung jumlah sarang

Hidayat Turrahman, S.Hut Hidayat Turrahman, S.Hut PEH Muda Taman Nasional Sebangau f33d9f8b-7ec4-4c18-bd40-58484b9bbfaa.jpg
Dok. Penulis

Suara sesuatu terjatuh terdengar, persis di belakang saya, saya lihat kawan saya, seorang mahasiswa terperosok dalam di antara sela akar pohon Rahanjang. “Awas jatuh,” kata saya dengan nada bercanda, “Sudah jatuh pak!” jawabnya.

Ia kemudian kembali berdiri dan berjalan lagi dengan mata kembali menatap atas. Menatap ke atas, memang berarti kita berisiko tersandung. Tapi ini dilakukan untuk suatu tujuan yang pasti, memonitor orangutan. 


BACA JUGA: Mari Berburu "Tudung Pengantin"


Berjalan di hutan dan alam memang menguras tenaga dan keberanian, serta tentu saja kehati-hatian. Apalagi berjalan di hutan gambut apalagi di kedalaman kawasan Taman Nasional Sebangau yang dalam gambutnya mencapai 12 meter tentu memerlukan persiapan fisik yang prima.

Pakaian dan alas kaki yang aman namun simpel harus dipertimbangkan, kita tak dapat menduga apa yang dijumpai dan bagaimana kondisi lapangannya kecuali telah berpengalaman dan keluar masuk hutan gambut berkali-kali. Berjalan menyusuri hutan rawa gambut dengan kedalaman 2 meter hingga 12 meter mungkn akan sama lelahnya dengan mendaki gunung.  

Bagi teman-teman orang Dayak yang kesehariannya keluar masuk hutan berjalan di hutan rawa gambut nyaris tak kelihatan jejaknya, namun bagi saya orang “hutan kekota-kotaan”, agak sedikit lambat dan tidak pernah mampu mengimbangi, sehingga jika hanya berjalan tanpa melakukan pengamatan biasanya kita minta untuk memberi tanda di pohon atau tebasan pada tegakan kecil tidak diputus agar mudah terlihat.

Jelajah kami di hutan bukan tanpa tujuan atau kurang kerjaan. Kami tidak akan mampu menyajikan data-data tentang keragaman hayati yang dilaksanakan dengan metode ilmiah jika tidak kehutan.

Bagaimana kami dapat menghitung luasan area terbakar jika tidak diverifikasi. Bagaimana kami menyatakan kawasan hutan kami kaya jika tak dijelajahi. Bagaimana kami kami menyatakan hutan gambut sebangau adalah habitat terbesar untuk populasi orangutan liar jika tidak kami telusuri. Begitulah kira-kira pekerjaan kami di kawasan konservasi kadang hanya memantau aktivitas kadang harus bermalam dalam camp-camp sementara agar pekerjaan berjalan efektif. 


BACA JUGA: Purun dan Pemberdayaan Perempuan Desa


Kali ini saya berbagi cerita tentang memonitor populasi orangutan dengan metode sarang di TN Sebangau, sekaligus untuk berbagi cerita dan pengalaman bahwa untuk mengetahui densitas atau populasi orangutan di TN Sebangau dengan menghitung jumlah sarang dalam jalur-jalur pengamatan dengan metode yang telah ada. 

Jalur pengamatan dibuat di dalam site yang terindikasi sebagai habitat bagi orangutan luasannya bervariasi, dari luasan site pengamatan dibuat jalur-jalur pengamatan sebagai sarana memonitoring dengan panjang jalur satu kilometer dan lebar kiri-kanan antara 20-25 meter.

Halaman berikutnya: Satwa cerdas...

 

Orangutan adalah satwa yang sangat cerdas, dialah yang memiliki pengetahuan menjalin ranting dan dahan dengan sangat baik (saudaranya gorilla tak sepandai mereka), mempunyai insting tinggi dan mampu menaksir berat badannya dengan daya tahan cabang yang akan dilaluinya sehingga sangat jarang kita melihat mereka jatuh dari pohon.

Orangutan tidak asal memilih jenis pohon menjadi rumahnya, beberapa kali pengamatan kami dapat memberikan gambaran bahwa orangutan membuat sarangnya pada pohon-pohon hidup, mempunyai dahan dan percabangan alot dan tidak mudah patah, mendekati sumber air dan pohon pakan dengan variasi tinggi antara 7-20 meter. Beberapa orangutan jantan dewasa dengan berat badan sekitar 80-100 kg biasanya tidak lagi naik ke pohon dan membuat sarang. Mereka lebih menyukai lantai hutan untuk mencari biji dan pakan makanan.

Klasifikasi sarang

Setiap sarang orangutan yang dijumpai diklasifikasi menurut umur sarangnya ada yang hanya sampai 4 kelas ada juga 5 kelas. Sarang Baru (kelas A) dikategorikan dengan warna daun hijau dan ranting masih sempurna tanpa ada cahaya yang tembus. Jika daun sudah mulai layu atau mengering namun struktur sarang masih baik diklasifikasi dalam kelas B. Untuk kelas C kondisi sarang >50% tertutup daun kering dan sudah dijumpai beberapa lobang/ celah cahaya. Kelas D strukturnya sudah rusak hanya tersisa beberapa daun namun masih dapat ditaksir lebar atau diameter sarang dan untuk kelas E hanya tinggal patahan ranting kering tanpa ada daun. 

Pengamatan ini memerlukan kecermatan dan “kejelian” tingkat tinggi guna mengetahui keberadaan sarang orangutan, kemudian menentukan kelasnya yang paling sulit adalah menjumpai dan mengklasifikasi sarang yang telah berumur lama antara kelas D dan E kadang-kadang kita tak menduga itu adalah sarang orangutan karena yang tersisa kadang hanya tumpukan daun dan patahan ranting atau kadang abai dan menganggap sarang binatang lainnya yang mirip misalnya beruang atau burung elang.

Jika membaca literasi yang ada, sarang orangutan dapat menjadi media “penyampai pesan” kepada kita bahwa mereka pernah di area tersebut, mereka memakan jenis pohon “A”, mereka menjelajah hingga ke area ini bersama anak, sendiri dan seterusnya. 


BACA JUGA: Menyusuri Jejak Sang Penjaga Arwah...


Dari sarangnya, pengamat juga dapat menaksir keberadaan dan waktu mereka pergi. jika sarang yang kita jumpai jenis A artinya sehari sampai 5 hari yang lalu mereka ada, jika kelas B diartikan sudah 6 sampai 9 hari dan seterusnya. Beda tipe hutan dan jenis pohon yang digunakan mempengaruhi dugaan dan kelas umur sarang.

Di TN Sebangau waktu sarang masih terlihat di hutan masih menggunakan hasil penelitian 365 hari (van Schaik et al. 1995) biasa dijadikan salah satu unsur dalam formulasi pendugaan kepadatan populasi orangutan beberapa ahli juga menguji proses peluruhan sarang dan beberapa ahli berpendapat antara 165 hari – 602 hari.

Di TN Sebangau, orangutannya liar bukan hasil sitaan ataupun tangkapan dari masyarakat yang kemudian direhabilitasi. Menjumpai orangutan liar di hutan Sebangau adalah sebuah anugerah selain pergerakannya yang sulit diikuti, kerapatan vegetasi menghambat jarak pandang kita.

Perjumpaan beberapa kali untuk orangutan liar sebangau di Resort Mangkok pada kilometer 3 dan 7, di Resort Baun Bango pada areal penelitian Punggualas, Resort Sebangau Hulu pada jalur trek Rosdy Abaza dan Sungai Simpang Kiri. Hampir seluruhnya waktu perjumpaan langsung saat air sedang tinggi jika air surut mudah terlihat disisi kanal Resort Mangkok atau sisi sungai Sebangau.

Upaya konservasi

Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) pada Juli 2016 status orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berada pada Critically Endangered/CR sebelumnya masih Endangered/EN dalam bahasa mudahnya keberadaan primata endemik Kalimantan ini berada pada level kritis (sangat sedikit) yang mampu bertahan di alam. Upaya-upaya konservasi terus dilakukan guna meyakinkan kita bahwa mereka baik-baik saja.

Tidak heran jika badan usaha, perseroan terbatas, masyarakat atau siapapun yang melakukan tindakan yang membuat kelestarian satwa ini terancam akan mengalami masalah hukum. Jadi mengapa kita monitor dan sajikan perkembangannya ya demi kita yang berperadaban, demi keberadaan mereka. Kita mungkin pernah dengar produk minyak sawit tidak akan diterima jika tidak memberikan ruang atau menjamin kelestarian satwa ini. Luar biasa bukan?

Sebelum ditutup, kita ingin sampaikan bahwa kepadatan populasi orangutan di TN Sebangau mencapai 5.826 individu dengan luas area pengamatan 20.000 hektar (TN Sebangau, 2019). Beberapa intervensi terus dilakukan salah satunya dengan menyampaikan informasinya, mencegah terjadinya kebakaran yang mendeliniasi luasan habitat, melakukan penananaman intensif jenis-jenis endemik, pemulihan fungsi hidrologi gambut melalui penyekatan kanal sehingga suksesi alami dapat berjalan dengan baik.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR