Mengubah Sampah Plastik Laut menjadi Pelampung

Rabu, 5 Januari 2022

Di Kabupaten Bantaeng saja sedikitnya diperlukan 160 ton sampah plastik untuk diubah menjadi pelampung.

Dr. Muhammad Ihsan Dr. Muhammad Ihsan Staf pengajar Prodi Desain Produk ITB 1.jpg

TIDAK kurang 8 juta ton per tahun sampah pelastik dibuang ke laut, permasalahan sampah laut ini sudah menjadi isu Nasional, sehingga pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2016 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah (Jakstranas) dan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 Tentang Penanganan Sampah Laut. Pemerintah menetapkan target untuk sampah dikelola 100% pada tahun 2025 dengan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70%.

Angka pengurangan sampah sebesar 30% memberikan makna bahwa paradigma pengelolaan sampah memberikan titik tekan pada kebijakan up-stream (hulu), dengan mindset 3R (reduce, reuse, recycle). Salah satu pendekatan 3R dalam menjawab kebutuhan lokal diterapkan di Pulau Selayar Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.

Pulau Selayar merupakan salah satu pulau yang selalu menjadi tempat berlabuhnya sampah, baik sampah plastik atau sampah kayu yang terbawa arus akibat angin Barat. Dengan bentuk pulau yang vertikal dari Utara ke Selatan, menjadikan hampir seluruh pesisir Barat pulau Selayar dipenuhi oleh sampah, sehingga mengurangi kecantikan pantai yang semestinya menjadi keunggulan pariwisata di pulau Selayar ini.

__________________________________________________________

BACA JUGA:

Ancaman Sampah Laut di Karimunjawa

_________________________________________________________

Pengolahan sampah di Pulau Selayar sudah dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pengarahan dan penyuluhan agar tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, dibentuknya bank sampah, bahkan di pulau Selayar sendiri sudah ada pengumpul sampah plastik dan menjualnya ke Makassar atau ke Jawa untuk diolah kembali di pabrik pengolahan daur ulang sampah.

Persepsi sampah dari jenis apapun di masyarakat masih sebagai  sesuatu yang kotor dan tidak memiliki nilai, padahal sampah dapat dijadikan komoditi yang dapat memberi penghasilan, bahkan di skala perumahan sekalipun. Beberapa kampung sudah menjadikan sampahnya sebagai sarana pembayaran PBB, atau sampah dapat ditukar dengan sembako dan lain-lain.

Dengan mengubah persepsi sampah menjadi barang yang memiliki nilai, maka sikap kita terhadap sampah akan berubah.  Sejalan dengan hal tersebut, sampah plastik yang banyak tertambat di pantai ini pun dapat dimanfaatkan, dengan cara mengubah sampah plastik tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat langsung bagi para nelayan itu sendiri.

Kebutuhan pelampung

Salah satu kebutuhan nelayan dengan jumlah yang banyak adalah pelampung untuk jaring, baik jaring penangkap ikan ataupun jaring untuk budi daya rumput laut. Sebagai ilustrasi satu modul budi daya rumput laut ukuran 20mx100m sedikitnya membutuhkan 100 unit pelampung, artinya bila satu pelampung membutuhkan 100 gram plastik, maka dalam satu modul budi daya rumput laut membutuhkan 10 kg sampah plastik untuk diolah menjadi pelampung. Kebutuhan yang ada cukup besar, karena setiap pembudi daya minimal memiliki 5 modul.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bantaeng tahun 2011 tercatat jumlah Rumah Tangga Pertanian (RTP) pembudidaya rumput laut sejumlah 3.197 orang, yang memanfaatkan areal laut ± 2.888,8 ha, sehingga di Kabupaten Bantaeng saja sedikitnya diperlukan160 ton sampah plastik untuk diubah menjadi pelampung.

Akademisi sebagai salah satu ujung tombak dalam menghasilkan inovasi, tentunya harus mengambil andil dalam memecahkan permasalahan ini, salah satunya dengan menjadikan sebagian sampah plastik. Melalui metode 3R, sampah plastik  diubah menjadi produk yang justru bermanfaat bagi masyarakat pesisir itu sendiri.

Melalui intervensi teknologi tepat guna, sampah plastik diubah menjadi pelampung yang dapat digunakan nelayan atau pembudi daya rumput laut yang jumlahnya cukup banyak di wilayah sekitar kepulauan Selayar (Takalar, Janeponto, Bantaeng, Bulukumba).

Metode pengolahan sampah mini berupa pengumpulan sampah plastik, memilah jenis-jenis sampah plastik, menghancurkan sampah plastik tersebut dengan menggunakan mesin penghancur (crusher), mencetak hasil crusher tersebut menjadi pelampung.

Diharapkan dengan kolaborasi antara akademisi dan komunitas dalam menangani permasalahan sampah plastik di Selayar ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan tujuan untuk mengubah masalah menjadi solusi yang bernilai ekonomi bagi warga.*

 

 

 

 

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR