Minggu, 9 Agustus 2020
News & Nature

Menghitung Untung dari Reduced Impact Logging

Kamis, 28 Mei 2020

Hasil penelitian Puslitbang Hasil Hutan, menunjukkan tingkat efisiensi pemanenan kayu teknik RIL lebih tinggi daripada teknik konvensional

Ir. Sona Suhartana Ir. Sona Suhartana Peneliti Ahli Utama Puslitbang Hasil Hutan Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan b5322583-ae8e-4cbd-b95e-c8f25d50bf6c.jpg
Dok. penulis
Pengukuran tinggi tunggak setelah penebangan

Dewasa terjadi ketimpangan yang cukup besar antara pasokan dan kebutuhan bahan baku untuk industri kayu. Peningkatan produksi kayu sangat dituntut mampu memenuhi pasokan bahan baku bagi industri pengolahan kayu yang memadai secara kuantitas dan kualitas.

Di sisi lain, ada pertimbangan penting agar peningkatan produksi tersebut memberikan dampak minimal pada lingkungan. Dalam menjawab tantangan tersebut, pelaksanaan kegiatan pemanenan harus dilakukan secara benar dan efisien untuk menghindari pemborosan sumber daya dan meminimalkan gangguan terhadap sumber daya hutan. Dengan pemanenan yang benar, sumber daya hutan mampu berkembang dan berproduksi dengan baik pada siklus berikutnya.

_______________________________________________________________

Baca juga: Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19

_______________________________________________________________

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir gangguan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan produksi secara berkelanjutan adalah dengan menerapkan teknologi pemanenan kayu ramah lingkungan atau yang dikenal dengan reduced impact logging (RIL).

Penentuan plot dilakukan sebelum pemanenan/Dok. Sona

 

Menurut Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Elias terdapat empat hal penting dalam pelaksanaan teknik RIL, pertama adalah perencanaan pemanenan komprehensif. Kedua, implementasi teknik-teknik pemanenan ramah lingkungan dan pengawasan yang efektif terhadap kegiatan pemanenan. Ketiga, pencegahan kerusakan lebih lanjut setelah pemanenan, dan keempat, pengembangan tenaga kerja yang terampil dan motivasi tinggi.

Dalam implementasinya, RIL mempertimbangkan faktor jenis, ukuran, sifat, potensi kayu, teknik pemanenan, topografi, sistem silvikultur, dan iklim. Dalam memilih teknik pemanenan yang sesuai, juga harus mempertimbangkan kelayakan teknis, ekonomis, sosial dan ekologis.

Sementara, faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi pemanenan kayu adalah  faktor teknis dan non-teknis. Faktor teknis adalah keterampilan tenaga kerja, teknik pemanenan, kebijakan perusahaan, sistem pengupahan, sistem royalti dan pengawasan.

_______________________________________________________________

Baca juga: KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

_______________________________________________________________

Faktor non-teknis meliputi keadaan lapangan, antara lain topografi, cuaca, sifat kayu, adanya cacat, penyebaran serta kerapatan tegakan dan situasi pasar. Semua persyaratan tersebut sangat dibutuhkan untuk tercapainya volume hasil kayu tebangan dengan kuantitas dan kualitas yang baik serta gangguan lingkungan minimal.

Pembuatan plot untuk mempertinggi efisiensi gerak alat berat/Dok. Sona

 

Efisien dan minim limbah

Efisiensi pemanenan kayu ini sangat erat kaitannya dengan limbah pemanenan. Semakin tinggi nilai efisiensi pemanenan, semakin kecil limbahnya. Penghitungan efisiensi pemanenan kayu dilakukan dengan mengukur rasio antara volume kayu yang dipanen dengan volume kayu yang seharusnya dapat dimanfaatkan dikalikan 100%.

Sedangkan dalam menghitung limbah pemanenan dilakukan dengan melihat bagian dari pohon tebangan yang tidak dimanfaatkan. Beragam alasan, kayu tebangan menjadi tidak termanfaatkan, antara lain adanya cacat, diameter kecil kurang dari 30 cm, panjang sortimen kurang dari 2 meter, serta bagian pohon pada tegakan tinggal yang rusak karena kegiatan pemanenan. Dalam penghitungan ini, termasuk pula limbah yang berasal dari pohon yang tadinya layak panen akan tetapi tidak dipanen karena pertimbangan teknis dan ekonomis.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, diketahui besarnya efisiensi pemanenan kayu teknik RIL lebih tinggi daripada teknik konvensional. Hal ini dapat dimengerti, salah satunya adalah karena pada teknik RIL, meninggalkan tunggak yang lebih rendah, yaitu 40 cm dibanding dengan yang konvensional  di atas 80 cm.

Limbah pada pemanenan kayu teknik RIL di hutan alam (HA) juga lebih kecil (6,55%) daripada teknik konvensional (9,35%). Jika dihitung, penerapan teknik pemanenan RIL akan menekan limbah 2,80% atau setara dengan tambahan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) bagi negara sebesar Rp 3,822 miliar per tahun jika dihitung dari nilai total PSDH yang ada.

Tingkat kerusakan tegakan tinggal pada teknik RIL juga lebih baik daripada teknik konvensional. Hal ini dapat terjadi karena pada teknik konvensional jalan sarad tidak dibuat terlebih dahulu.  Alat berat langsung mendekati kayu yang akan disarad, padahal kedudukan kayu yang akan disarad sering kurang terlihat jelas.

Dengan demikian banyak terjadi manuver alat berat yang tidak perlu dan menggusur pohon-pohon yang masih berdiri. Semakin banyak kayu yang disarad, akan semakin tinggi intensitas gerakan alat berat yang pada akhirnya akan semakin tinggi pula kerusakan terjadi.

_______________________________________________________________

Baca juga: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

_______________________________________________________________

Efisiensi pemanenan kayu teknik RIL di Hutan Tanaman (HT) juga lebih besar (99,29%) dibandingkan dengan teknik konvensional (83,23%). Hal ini dimungkinkan karena pada teknik RIL, penebangan meninggalkan tunggak serendah mungkin serta pemanfaatan batang sampai diameter 5 cm, sementara pada teknik konvensional tunggak yang ditinggalkan lebih tinggi dan pemanfaatan batang yang kurang dari 5 cm.

Penebangan pohon dengan chainsaw setelah perencanaan dengan teknik RIL/Dok. Sona

 

Peningkatan produktivitas

Upaya peningkatan produksi kayu dapat dicapai melalui peningkatan efisiensi pemanfaatan kayunya. Efisiensi pemanfaatan kayu yang tinggi dapat meningkatkan produksi kayu dan dengan demikian produksi kayu akan lestari.

Upaya tersebut dilakukan melalui penerapan pemanenan teknik RIL. Secara khusus upaya dilakukan pada kegiatan pembuatan jalan dan tebang bayang, penebangan, penyaradan, pengangkutan, penerapan sistem upah dan penetapan sistem royalti.

Penerapan teknik pemanenan RIL di HA berkontribusi meningkatkan produksi kayu 3,05% yang setara dengan tambahan pemasukan Dana Reboisasi dan PSDH lebih dari Rp 41,6 miliar per tahun, dan mengurangi kerusakan tegakan tinggal. Sementara, Untuk di HT, produksi kayu bahkan bisa diharapkan meningkat hingga 16,06%. Nilai ini setara dengan tambahan keuntungan bagi perusahaan sebesar Rp 405 miliar per tahun.

Oleh karena itu, implementasi pemanenan kayu ramah lingkungan dapat diharapkan berkontribusi untuk meningkatkan dan menjamin produksi kayu lestari serta mengurangi kerusakan tegakan tinggal. Apalagi melihat potensi peningkatan keuntungan yang apat diperoleh, terbuka peluang bagi perusahaan hutan untuk menerapkan teknik pemanenan kayu ramah lingkungan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR