Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Memudarnya Hutan Mangrove dan Kearifan Lokal

Senin, 26 April 2021

Status hutan mangrove sebagai hutan perempuan sudah mulai tergeser, jaring asli yang terbuat dari akar pandanus juga telah menghilang

Richard R. Kalilago Richard R. Kalilago Pemerhati Lingkungan Hidup dan Masyarakat Adat Papua ac233647-d531-463f-901d-52b09efe81b6.jpg
Dok. Penulis

Tulisan ini, didedikasikan untuk Mendiang Istri Terkasih Maria F Suwae yang sangat berkontribusi membentuk kami sebagai pemerhati lingkungan hidup dan masyarakat adat.

_______________________________________________________

Suatu sore, tahun 1989, di beranda rumah panggung kami yang menghadap langsung hutan mangrove di seberangnya, kami duduk berdiskusi ringan mengenai apa yang akan kami makan pada esok hari, lantaran di dapur, tidak ada ikan. Bapak F. Sanyi (Harsorry = Ondoafi laut Kampung Engros), tetangga kami, sempat mendengar diskusi ringan itu.

Pendek cerita, keesokan harinya, pagi-pagi, Bapak Sanyi mendayung perahunya ke arah hutan mangrove, mengambil beberapa helai daun, kulit dan akar mangrove kemudian terus keluar teluk Youtefa. Di sana mulut Bapak Sanyi komat-kamit dan kemudian memukul air laut dengan daun, akar dan kulit mangrove dan kemudian mengayuh perahunya kembali ke rumahnya di kampung.

________________________________________________________

BACA JUGA:

Zona Ekologi Masyarakat Adat Tepra

________________________________________________________

Beberapa menit kemudian, datanglah rombongan ikan dalam jumlah banyak ke arah kampung. Bapak  Sanyi serta-merta memberitahukan kami, bahwa ikan ada, untuk makan beberapa hari, kami mengambil jaring asli dari Teluk Youtefa, menangkap ikan yang sudah dipanggil tadi.

Penggalan cerita di atas menggambarkan hubungan erat antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Manusia adalah element terpenting sebagai pengelola dan pemanfaat sumber daya alam dalam lingkungan, sebagaimana dijelaskan oleh  Julian Steward  dalam The Routledge Encyclopedia of Social and Cultural Antropology, dimana fokus antropologi  ekologi adalah terhadap hubungan-hubungan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, manusia tidak dapat hidup tanpa lingkungan alam. 

Besar atau kecil tindakan manusia terhadap alam akan timbul dampak, sehingga pemanfaatan lingkungan haruslah bijak  dan sesuai kebutuhan manusia, oleh karena itu diperlukan pengetahuan. Pengetahuan manusia mampu menjadi petunjuk dalam tindakan pada pengelolalaan dan pemanfaatan lingkungan alam.

Pengetahuan diperoleh dari hubungan langsung dengan lingkungan alam itu sendiri maupun kontak dengan individu-individu disekitarnya, informasi yang disampaikan melalui symbol, baik lisan maupun tertulis yang berisi kategori-kategori dan strategi-strategi untuk berhadapan dengan lingkungan alam tertentu (Ahimsa-Putra 1986).

Indonesia sebagai daerah tropis memiliki potensi keanekaragaman hayati di darat, laut dan pesisir yang luar biasa. Di pesisir terbentang luas hutan mangrove yang sangat menunjang pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan berfungsi sebagai penyangga keseimbangan  ekosistem di pesisir.

Secara ekologi hutan mangrove memiliki peran sebagai penahan abrasi, penahan angin, penahan banjir,  sebagai penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke darat. Secara kimia hutan mangrove sebagai proses daur ulang yang menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida. Secara biologi mangrove bermanfaat sebagai tempat berlindung, bersarang serta berkembang biak biota darat maupun biota laut.

Dari segi ekonomi mangrove berguna bagi keperluan industri, rumah tangga. Kehadiran hutan mangrove secara sosial budaya juga terkait dengan aspek nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan adat suatu kelompok masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah kearifan local, seperti penggalan cerita di atas.

Penyebaran Mangrove

Dikutip dari laman resmi KLHK, luas hutan mangrove di dunia 16.530.000 ha. Di Indonesia luas hutan mangrove 3.489.140,68 ha atau 23% total luas hutan mangrove di dunia. Hutan mangrove di Indonesia memiliki ketebalan 100 M ke arah darat  yang dapat mengurangi tinggi gelombang antara 13% sampai 66%.

________________________________________________________

BACA JUGA:

Udang Sorong Selatan, Untuk Siapa?

________________________________________________________

Terdapat 202 spesies mangrove, dimana 43 spesies di antaranya merupakan mangrove sejati  (Noor et al. 1999). Dengan demikian Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Sementara Papua, merupakan wilayah hutan mangrove terluas di Indonesia, dengan total luasan 1.324.800 ha (46%) tutupan mangrove Indonesia (3.489.140,68 ha).

Berdasarkan tabel di atas, 7 kabupaten yang memiliki luasan hutan mangrove di atas 10.000 ha.yaitu kabupaten Asmat, Mappi, Merauke, Mimika, Mamberamo Raya, Waropen dan Nabire, ditampilkan dalam grafik di bawah ini.

Di kabupaten dan kota Jayapura, memiliki dua lokasi hutan mangrove, yaitu di Teluk Youtefa dan di Distrik Demta. Juga pada beberapa lokasi lain yang terbatas ditumbuhi pohon mangrove. Hutan mangrove di Teluk Youtefa, merupakan lokasi hutan mangrove yang mengalami tekanan dan ancaman berat.

Hasil pengamatan Handono dkk (2014) menemukan 10 jenis mangrove di Teluk Youtefa, antara lain R. mucronata, R. apiculata, R. stylosa, S. ovate, S. alba, S. caseolaris, A. alba, B. gymnorrhiza, X. granatum dan Ceriops tagal, B. gymnoriza, B. cylindrical, A. marina, Aegiceras comiculatum, Scyphyphora hydrphylacea, X. mollucensis dan Nypa fruticans. Jenis R. stylosa merupakan jenis yang paling umum dijumpai. (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua, 2007; Arizona dkk, 2009). Hasil pengamatan Baigo Hamuna dan Rosye H.R. Tanjung (2017), ditemukan 5 jenis mangrove yaitu; Sonneratia, Rhizophora, Avicennia, Xylocarpus dan Bruguiera.

Berdasarkan hasil pengolahan citra satelit 1994 hingga 2017 oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah X Papua, dalam Handono dkk (2014) bahwa telah terjadi perubahan luasan tutupan hutan mangrove di Teluk Youtefa mulai 1967 sampai 2008, bahkan masih berlangsung sampai saat ini.

Pada 1994 hutan mangrove di kawasan ini, seluas 392,45 Ha, sedangkan luasan mangrove pada tahun 2017 hanya seluas 233,12 Ha. Sebaran mangrove di Teluk Youtefa, pada 1994 maupun 2017 banyak ditemukan di sekitar pesisir Tobati, Enggros dan Nafri, serta ditemukan di sekitar Entrop dan Abepura Pantai. Pada 1994, sebaran mangrove secara vertikal dari arah darat ke laut maksimal sejauh 1.171,54 meter di sekitar Tobati dan tergantung pada topografi masing-masing lokasi.

Selain itu, terdapat pula mangrove secara berkelompok dengan luasan yang kecil dan secara vertikal ke arah laut maksimal sekitar 258,07 meter di sekitar pesisir Entrop dan Abepura Pantai. Sedangkan pada tahun 2017, secara vertikal maksimal 1.081,66 meter di sekitar Tobati. Sama halnya dengan sebaran mangrove tahun 1994, terdapat pula mangrove secara berkelompok dengan luasan yang lebih kecil, dimana secara vertikal ke arah laut maksimal sekitar 189,74 m di sekitar pesisir Entrop (Majalah Geografi Indonesia Vol. 32, No. 2, September 2018: 115 – 122).

Ternyata hutan mangrove di Teluk Youtefa, mengalami pengurangan luasan areal, tingkat kerapatan antar pohon dan jenis, serta, beberapa jenis mangrove juga telah hilang.

Pergeseran kearifan Lokal

Dipahami, bahwa degradasi hutan mangrove di Teluk Youtefa, telah menimbulkan dampak sosial budaya, terutama pada sistem pengetahuan tradisional (sistem pengetahuan sederhana) dan sistem teknologi dan peralatan, bahkan sistem mata pencaharian hidup dapat saja bergeser, seperti, bergesernya bahkan hilangnya seperangkat nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan adat, teknologi dan peralatan, pranata-pranata budaya tertentu yang berhubungan dengan aktivitas manusia di hutan mangrove dan laut dapat pula bergeser.

________________________________________________________

BACA JUGA: 

Mengurai Masalah Kelaparan di Papua

________________________________________________________

Pesan moral dari Teluk Youtefa adalah hutan mangrove terganti, bergeser pula seperangkat nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan adat, teknologi dan peralatan, pranata-pranata budaya. Misalnya, pranata pemanggilan ikan ke dalam Teluk Youtefa, sudah bergeser ke pasar ikan.

Status hutan mangrove sebagai hutan perempuan, sudah mulai tergeser, jaring asli yang terbuat dari akar pandanus telah menghilang, dan kemungkinan besar suatu saat bahasa daerah dan mata pencaharian hidup akan hilang. Semoga kita tidak kehilangan jati diri.

Memperhatikan perubahan-perubahan ekosistem mangrove dan juga bergesernya kearifan local masyarakat di teluk Youtefa, maka hal-hal yang perlu dilakukan oleh kita, seperti kampanye dialogis mengenai fungsi dan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial-budaya mangrove serta larangan jual-beli tanah terutama kawasan hutan mangrove, rehabilitasi mangrove, meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengenalan jenis mangrove serta fungsi ekologi, ekonomi dan sosial budaya, pembangunan mangrove stasiun (pusat pembibitan mangrove).*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR