Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Melindungi Spesies Mangrove Terancam

Rabu, 21 April 2021

Pembentukan kawasan konservasi berbasis mangrove, harus mengedepankan spesies dan habitat kunci, melalui pendekatan nilai penting konservasi

Ehdra B Masran Ehdra B Masran Marine and Fisheries Data Center Independent 25af11f3-7944-4ba6-b8b9-b49b5b79a8a4.jpg
Dok. Ehdra
Artikel ini merupakan salah satu penghargaan saya terhadap WWF Indonesia yang telah memberi ruang dalam membangun kawasan konservasi perairan berbasis ekosistem mangrove, KKP Seribu Satu Sungai Teoenebikia Sorong Selatan. Serta tentunya tim terbaik saya yang berkontribusi terhadap artikel ini, Dirga Daniel dan Arya Dani, serta senior konservasi perairan di Papua Barat yang telah memperkuat sudut pandang saya, A. Reza Fahlevi dan Chris Rotinsulu.

========================================================

HUTAN mangrove merupakan ekosistem penting, bukan hanya sebagai green belt utama pada pesisir, tetapi juga merupakan habitat kritis dengan potensi ancaman terbesar, khususnya di pesisir Indonesia. Untuk itu, perlu strategi perlindugan dari dua arah, baik melalui strategi perlindungan hutan, ataupun melalui skema KKP (kawasan konservasi perairan) berbasis mangrove.

Peran ekologi hutan mangrove yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal, maupun kesinambungan ekosistem, pesisir dan perairan. Secara ekologi mangrove bermanfaat untuk masyarakat pesisir, baik sebagai aktivitas perikanan tangkap ataupun jasa ekosistem hutan.

Pembentukan kawasan perlindungan mangrove melalui pertimbangan jenis terancam punah dapat menjadi pilihan. Dalam rangka memperkuat strategi perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan, tentunya dibutukan input analisis teknologi yang relevan. 

Salah satu lokasi penting perlindungan hutan mangrove yang dilakukan melalui pendekatan input analisis teknologi adalah kawasan hutan mangrove Teluk Bintuni, Papua Barat. Teluk Bintuni merupakan area dengan ekosistem mangrove terluas, yang masuk dalam strategi perlindungan kawasan.

_______________________________________________________________

BACA JUGA:

Zona Ekologi Masyarakat Adat Tepra

_______________________________________________________________

Baseline WWF-ID dalam SEA Project pada November 2017, menyebutkan luasan mangrove Teluk Bintuni sebesar 260.289 hektar. Selain memiki luasan yang cukup besar, mangrove Teluk Bintuni juga memiliki banyak jenis, mengacu pada Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan Papua Barat, 2014.

Melalui uji spectral, mangrove Teluk Bintuni terbagi menjadi tiga kelas kerapatan, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Muara Bintuni memiliki nilai kerapatan tertinggi, sebesar 1.440 Ind/Ha. Nilai INP tingkat pohon menunjukkan jenis utama sebagai spesies Rhizophora apiculata, sebesar 92,02%. Artinya, Jenis tersebut merupakan spesies yang paling banyak ditemukan pada susunan habitat mangrove di Teluk Bintuni. Sedangkan, spesies kedua yang mendominasi adalah jenis Bruguiera gymnorrhiza dan Bruguiera parviflora.

Melalui foto udara, jenis Rhizophora sp mendominasi pada stasiun Muara Bintuni. Terlihat, Rhizophora sp muda telah mendekati garis pantai. Sedangkan jenis Rhizophora sp, Bruguiera sp, dan Nypa fructicans relatif bervariasi pada batas sepadan sungai. Nilai kerapatan vegetasi mangrove tertinggi adalah pada stasiun Muara Bintuni, sebesar 1.440 Ind/ha. Menurut pengamatan Ehdra 2017, Sungai Teberai memiliki nilai kerapatan terendah, sebesar 520 Ind/Ha. Namun spesies Xylocarpus granatum mendominasi di stasiun Sungai Terberai.

Jenis Nypa fructicans juga merupakan vegetasi utama pada Sungai Teberai, baik pada bagian depan dekat dengan batas sungai. Sedangkan pada bagian tengah merupakan area yang disusun oleh beberapa jenis mangrove yaitu; Xylocarpus sp, Rhizophora sp, dan Bruguiera sp. Sedangkan Pada bagian belakang ditutupi oleh mangrove dengan variasi jenis yang tinggi sehingga sulit untuk dipetakan.

Di sisi lain, jenis Rhizophora sp juga mendominasi pada stasiun Sungai Tifa. Khususnya, area di dekat batas sungai. Berdasarkan pengamatan diameter, mayoritas Rhizophora sp bagian depan merupakan jenis pohon yang sudah berumur tua. Jenis lain yang ditemui di lokasi ini adalah Bruguiera sp dan Xylocarpus sp dalam jumlah yang sangat sedikit.

_______________________________________________________________

BACA JUGA:

Zona Tradisional, Kearifan Lokal dan Konservasi

_______________________________________________________________

Bagian depan zonasi Tomu tersusun oleh Jenis Soneratia alba. Sedangkan, dua jenis mangrove Rhizophora sp dan Avecennia sp mendominasi bagian tengah stasiun Tomu. Tutupan Rhizophora sp lebih mendominasi untuk wilayah ini. Pada 1998, Menurut Pribadi bahwa jenis Rhizopora sp (Bakau Kurap) mendominasi pada zona depan hingga belakang, kemudian, jenis Bruguiera sp, Avecennia spdan Xylocarpus sp mengikuti.

Sebaran Spesies Penting 

Di sisi lain, pembentukan kawasan konservasi berbasis mangrove, harus mengedepankan spesies dan habitat kunci, melalui pendekatan nilai penting konservasi. Pendekatan ini mempertimbangkan pula habitat kritis di alam, bukan hanya sebagai tempat berlindung spesies terancam punah, tetapi juga menjawab tujuan perlindungan.

Salah satu jenis mangrove penting yang terdapat di kawasan hutan Teluk Bintuni, adalah genus xylocarpus ssp, yang berasal dari ordo Meliaceae. Jenis ini merupakan mangrove pohon sedang, batang dan buah berkembang dengan baik serta kulit batang tipis dan mengelupas. Menurut Sahep (2015), jenis ini merupakan kategori Least Concert (LC), RED List, karena mengalami penurunan pada sebaran di dunia.  Xylocarpus granatum merupakan golongan yang sudah langka dan terancam punah, mengacu pad status global IUCN pada 2008.

Sedangkan, di pantai barat India tidak lagi menemukan jenis Xylocarpus ssp selama kurun waktu sembilan dekade. Hal ini, memperkuat jenis jenis Xylocarpus ssp sebagai tumbuhan langkah dan terancam punah. kata Jugale, 2009. Selain itu, pengamatan terbaru sahep pada 2015, menyatakan bahwa Xylocarpus granatum merupakan tumbuhan yang sama sekali tidak ditemukan di hutan mangrove Godavari India. Hal ini karena upaya dalam pembukaan kota baru, agrikultur, aquakultur, logging, wood harvesting, habitat shifting dan alteration, yang menjadi penyebab utama Xylocarpus ssp, masuk kategori spesies global dengan tren terus menurun.

Di Teluk Bintuni, berdasarkan pengamatan ditemukan dua spesies Xylocarpus. Pertama, jenis X. granatum yang hanya terdapat pada Stasiun Sungai Teberai. Kedua, jenis X. moluccensis terdapat lebih banya pada 3 (tiga) stasiun pengamatan, yaitu Sungai Teberai, Pulau Asap, dan Stasiun Sungai Tifa.

Pada Stasiun Pulau Asap hanya ditemukan 1 tegakan jenis X. moluccensis di salah satu plot pengamatan stasiun tersebut. Hal tersebut menjadi jenis pembeda utama dari beberapa lokasi yang disurvei selain jenis Bruguiera parviflora dan Sonneratia alba.

______________________________________________________________

BACA JUGA:

Tiga Jenis Pohon Lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

______________________________________________________________

Sungai Teberai merupakan kawasan yang berada antara hutan lindung dan hutan produksi terbatas, dengan begitu, kawasan tersebut tidak menjadi prioritas perubahan alokasi ruang. Namun, berbeda dengan Pulau Asap dan Sungai Tifa yang merupakan area dengan alokasi hutan produksi terbatas, dan hutan produksi. Kedua area tersebut, kemungkinan akan dikonversi menjadi peruntukan lain, sehingga berpotensi menghilangkan tempat hidup spesies penting dunia yang terdapat di mangrove Teluk Bintuni.

Oleh karena itu, kawasan konservasi perairan membutuhkan analisis spesies penting ini, sebagaimana kawasan konservasi mangrove lainnya, baik berbasis hutan ataupun pesisir dalam rangka melindungi ekosistem mangrove yang menjadi target konservasi.  Upaya ini perlu mempertimbangkan jenis Xylocarpus sp dan tipe zona tempat hidupnya, sebagai tujuan perlindungan dengan nilai konservasi tinggi (HCV) agar red list spesies ini dapat tetap terjaga di alam Indonesia.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR