Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Melawan Epidemi Karat Tumor Sengon sejak Benih

Rabu, 3 Juni 2020

Cendawan merupakan patogen yang terbawa benih dan dapat ditemukan di dalam atau permukaan benih.

Kurniawati Purwaka Putri S.Hut., M.Si. Kurniawati Purwaka Putri S.Hut., M.Si. Peneliti Madya Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan a345d196-8775-42e1-9333-b5fc66b8242a.jpg
Dok. penulis

BUKAN hanya umat manusia yang kini tengah menghadapi penyebaran wabah Covid-19. Pada tingkat yang berbeda, petani yang membudidayakan pohon sengon di Pulau Jawa telah lama menghadapi epidemi penyakit karat tumor akibat ulah cendawan Uromycladium falcatarium.

Serangan cendawan tersebut mengancam produktivitas sengon di Pulau Jawa. Pada pohon-pohon muda akan berdampak pada kematian. Sementara, pada pohon dewasa, serangan di bagian batang menyebabkan pohon mudah patah atau kalau tetap hidup pun kayunya cacat.  Akibatnya petani menjadi resah karena produksi kayu dipastikan akan menurun 25% hingga 50%.

Pakar dari Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Ir.  Endang S. Rahayu M.S sudah sejak 2008 silam menyatakan munculnya epidemi penyakit karat tumor di Pulau Jawa sudah terdeteksi sejak 2003. Belasan tahun berlalu, dan hingga kini keganasan serangan penyakit tumor belum berhasil diredam, walaupun telah dilakukan berbagai upaya untuk mengendalikannya. 

Peneliti bidang hama penyakit dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Neo Indra Lelana dalam disertasinya menyatakan, belum adanya informasi yang komprehensif menjadi sebab penyakit tumor masih enggan berpisah dengan sengon. Informasi komprehensif yang dimaksud, berkaitan dengan sebaran, faktor lingkungan yang berpengaruh dan keragaman genetik patogennya.  

__________________________________________________________

BACA JUGA: Tantangan Inovasi Pemanenan Hasil Hutan

__________________________________________________________

Terlepas dari itu semua, sesungguhnya masih terdapat faktor lainnya yang seringkali diabaikan, yaitu kualitas benih. Benih adalah cikal bakal dari kehidupan suatu tanaman. Untuk itu, sudah saatnya pencegahan penyakit dilakukan sejak dini dari tingkat benih. 

Prof. Endang yang telah lama meneliti cendawan karat tumor ini, menyatakan bahwa cendawan karat tumor dapat menginfeksi biji. Sementara itu, Dr. Ir. Yulianti Bramasto M.Si  dkk. dari Balai Litbang Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan (BPPTPTH) dalam salah satu risetnya pada 2015 menemukan serangan cendawan tumor pada polong sengon. Pakar perbenihan tanaman hutan tersebut menyatakan bahwa penyebaran penyakit karat tumor dapat terjadi melalui benih (seed borne pathogen). Hasil-hasil riset tersebut menunjukkan, pengendalian penyakit dari tingkat benih menjadi keniscayaan. 

Polong sengon terinfeksi tumor/Kurniawati

Kualitas dan Kesehatan Benih

Performa suatu tanaman memang tidak terlepas dari kualitas benih yang ditanamnya dulu.  Tentunya hanya benih-benih berkualitas tinggi yang dapat mendorong kehadiran tanaman yang sehat dengan produktivitas optimal.

Kualitas benih meliputi  aspek fisiologis, fisik dan genetik. Kualitas atau mutu fisiologis berkaitan dengan kemampuan benih untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi kecambah dan bibit. Benih bermutu fisiologis tinggi akan memiliki viabilitas yang baik sehingga mampu tumbuh menjadi tanaman normal.

Selain aspek viabilitas, benih bermutu fisiologis tinggi juga ditentukan dari tingkat vigoritasnya.  Benih vigor akan dapat berkecambah dan menghasilkan tanaman yang tumbuh baik  pada kondisi lapangan yang luas dan beragam.

Kualitas fisik benih dapat dilihat dari rupanya yaitu bentuk, warna, ukuran dan berat. Benih-benih yang sudah patah, berlubang atau berwarna kusam harus disingkirkan. Benih-benih yang kusam potensial untuk mengundang kehadiran cendawan dikemudian hari, terutama bila kondisi lingkungan sekitar benih cukup lembab.

__________________________________________________________

BACA JUGA: Menghitung Untung dari Reduced Impact Logging

__________________________________________________________

Cendawan merupakan patogen terbawa benih yang dapat ditemukan di dalam atau permukaan benih. Patogen ini berpotensi besar untuk menurunkan kualitas fisik dan fisiologis benih.  Fatiha Lazreg dkk.  dalam Journal of Forest Science 2014 mengutarakan patogen pada benih dapat terbawa hingga tanaman berada di lapangan.  

Selaras dengan temuan tersebut, Dr. Yulianti Bramasto menyatakan, polong sengon yang sudah terserang cendawan karat puru, akan menurun daya kecambah benihnya, sehingga mempengaruhi pula kualitas bibit dan tanaman di lapangan. Untuk itu masalah kesehatan benih menjadi sangat penting, karena  benih dapat menjadi mediator penyebaran penyakit tumor pada sengon. 

Serangan tumor pada pangkal pohon sengon umur 2 tahun/Kurniawati

Pilihan cara

Benih berkualitas secara fisik dan fisologis tidak mungkin hadir secara tiba-tiba. Teknik penanganan benih yang tepat seyogyanyalah yang menghasilkan benih berkualitas. Penanganan benih dimulai dari penentuan waktu panen yang tepat hingga benih siap untuk ditanam. 

Salah satu teknik penangan benih yang dapat dilakukan dilakukan terutama untuk benih-benih yang kemungkinan besar sudah terkontaminasi patogen adalah invigorasi.  Invigorasi benih adalah perlakuan secara fisik atau kimia sebelum benih ditanam, yang ditujukan untuk memperbaiki perkecambahan dan pertumbuhan kecambah.

Teknik invigorasi benih yang sangat sederhana dan mudah diterapkan di tingkat petani adalah dengan cara priming. Pada prinsipnya, priming adalah mengontrol proses hidrasi-dehidrasi benih untuk berlangsungnya proses-proses metabolik menjelang perkecambahan.

__________________________________________________________

BACA JUGA: Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19

__________________________________________________________

Dalam Prosiding Pekan Serealia Nasional terbitan 2010, Ramlah Arief dan Fauziah Koes dari Balai Penelitian Tanaman Serealia menyatakan bahwa priming dapat meningkatkan resistensi benih terhadap penyakit pada beberapa jenis tanaman.

Teknik penanganan benih lainnya yang menggunakan teknologi tinggi adalah irradiasi sinar gamma. Tujuan menggunakan teknik irradiasi pada benih semata-mata untuk dapat menghadirkan benih yang mampu mengendalikan cendawan sejak dari dalam embryo.  

Penulis dan tim peneliti dari BPPTPTH membuktikan bahwa irradiasi sinar gamma dengan dosis di bawah 60 Gy (satuan untuk besaran radiasi) dapat meningkatkan persentase tanaman yang sehat pada saat umur tanaman 18 bulan.

Melalui penanganan benih yang tepat akan diperoleh benih yang sehat dan berkualitas.  Diharapkan bermula dari benih yang sehat akan diperoleh hasil yang maksimal yaitu tanaman sengon yang produktif dan terbebas dari wabah karat tumor.*

Pohon sengon sehat umur 10 tahun sebagai pohon induk di Kec. Sindangbarang, Cianjur/Dok. penulis



BAGIKAN

BERI KOMENTAR