Jumat, 23 Juli 2021
News & Nature

Mari Berburu "Tudung Pengantin"

Rabu, 3 Maret 2021

Dikenal sebagai kawasan konservasi perairan, Taman Nasional Karimunjawa memiliki keaneragaman jamur yang patut diperhitungkan.

Susi Sumaryati, S.Pi, M.Eng, M.Sc Susi Sumaryati, S.Pi, M.Eng, M.Sc PEH Madya Taman Nasional Karimunjawa jamur.jpg
Limaryadi

“Tudung pengantin!” seru Limaryadi sambil bersiap membidikkan kameranya. “Apaan sih, di tengah hutan ngomongin pengantin!” sahut Fahmi sambil bersungut. Capung -- panggilan akrabnya-- tak hirau dengan gerutuan temannya itu. Ketertarikannya pada si tudung berujung manis pada perjumpaan di hari itu.

Jamur tudung pengantin Phallus indusiatus memiliki bentuk unik yang membuatnya mudah dikenali. Kalau diperhatikan memang menyerupai kerudung. Jenis jamur mudah ditemukan ditempat yang lembab terutama saat musim hujan. Meskipun jamur memiliki peran dalam ekosistem, jamur kadang luput dari pengamatan.

Jamur berperan dalam melakukan dekomposisi bahan-bahan organik di dalam tanah. Proses pembusukan terakselerasi dengan kehadiran jamur. Kekhasan jamur terletak pada ketiadaan klorofil dalam tubuh jamur. Hal ini yang menyebabkan jamur bersifat parasit ataupun saprofit.


 

BACA JUGA: Tiga Jenis Pohon Lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

 


Dikenal sebagai kawasan konservasi perairan, Taman Nasional Karimunjawa memiliki keaneragaman jamur yang patut diperhitungkan. Pada 2018, jenis jamur yang tercatat sebanyak 32 jenis. Sampai dengan akhir 2020 terdapat penambahan sejumlah 79 jenis, sehingga saat ini tercatat 111 jenis jamur. “Jumlah tersebut masih memungkinkan untuk bertambah, “ kata Limaryadi seorang Pengendali Ekosistem Hutan di Taman Nasional Karimunjawa.

Rasa optimis tersebut sangat beralasan, mengingat area yang menjadi pengamatannya saat ini terfokus di Pulau Kemujan. Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 27 pulau , dengan lima pulau utama yang dihuni oleh lebih dari 8500 penduduk. Lima pulau utama tersebut adalah Pulau Kemujan, Karimunjawa, Parang, Nyamuk dan Genting. Di Pulau Karimunjawa terdapat ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan luas 1.451 Hektar. Peluang untuk mengeksplorasi jenis jamur masih sangat terbuka.

Waktu terbaik untuk dapat mengamati jamur ada di bulan Januari hingga Maret. Musim hujan menjadi musim favorite bagi jamur untuk berkembang. Faktor kelembaban menjadi kunci utama disamping substrat, suhu, dan keasaman (pH).


 

BACA JUGA: KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

 


Bentuk jamur memang menarik seperti si tudung pengantin yang memiliki nama latin Phallus indusiatus. Ramaria apiculata punya bentuk seperti koloni terumbu karang. Lain lagi dengan Agaricus trisulphuratusyang akan mencuri perhatian dengan warna oranye. Warna yang sangat kontras dengan lantai hutan.

“Jamur yang bentuknya kayak tangan mumi,” ujar Limaryadi sambil menunjukkan foto Xylaria hypoxylon. Mengamati jamur langsung di lokasi kadang menghadapi tantangan dengan tekstur jamur. Pada beberapa spesies bertekstur lunak sehingga mudah rusak bila disentuh. Mendokumentasikan jamur dengan menggambil gambar, mencatat ciri khusus, dan mengukur dimensi akan sangat membantu saat identifikasi lebih lanjut. 

Jamur ada yang dapat dikonsumsi atau diistilahkan dengan edible. Untuk menentukan jenis yang bisa dikonsumsi harus dengan cermat, karena jamur ada yang beracun. Di musim hujan jamur mudah untuk ditemui, namun bukan berarti keberadaan jamur tak lepas dan ancaman kepunahan. Jamur hidp dengan cara bersimbiosis dengan tumbuhan.

Kebakaran hutan, penebangan pohon, pengambilan humus pada permukaan tanah menjadi penyebab menurunnya keanekaragaman jamur. Mumpung musim hujan belum undur, mari berburu jamur!*

Xylaria hypoxylon



BAGIKAN

BERI KOMENTAR