Lupakan Gender, Biarkan Perempuan Ngadha Berkarya!

Selasa, 19 Oktober 2021

Jika realitas tersebut dipaksa untuk dilihat memakai kacamata eco-feminism, tentu hasilnya akan bilang kalau selama ini perempuan sebetulnya teropresi secara gender. Baik secara sistem sosial maupun budaya.

Budiyanto Dwi Prasetyo Budiyanto Dwi Prasetyo Peneliti Sosiologi Lingkungan di Puslitbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Bogor 1.jpg
Dok. Kanoppi Project
Kelompok perempuan Ngadha sedang bekerja di pembibitan bambu di Ngadha

Hemat kami, gender atau bukan tidaklah penting untuk diperdebatkan. Bahkan, sebelum orang Indonesia mengenal isu gender pun, realitas sosial sudah hidup secara alamiah.

Realitas sosial sudah terkonstruksi menurut hukum-hukum lokal, norma-norma setempat, dan nilai-nilai luhur yang beresonansi dengan kondisi alam. Baik hukum, norma, maupun nilai tersebut tak hanya mengatur gender seperti yang kita kenal saat ini.

Kesemuanya itu mengatur semua hal. Ia memagari ketidak-teraturan menjadi kebhinekaan yang teratur. Menjadi patokan dan arah bagi masyarakat untuk bersikap, berbuat dan bertindak. Jadi, sejenak lupakan gender. Biarkan perempuan Ngadha berkarya [].

*Penulis terlibat dalam tim penelitian Project Kanoppi-2 Objective V dengan topik penelitian Pemberdayaan masyarakat Sao dalam membangun Unit Pengolahan Bambu Skala Mikro di Kab. Ngadha dengan sistem Hutan Bambu Lestari.

 

 

Halaman:  123

BAGIKAN

BERI KOMENTAR