Lupakan Gender, Biarkan Perempuan Ngadha Berkarya!

Selasa, 19 Oktober 2021

Jika realitas tersebut dipaksa untuk dilihat memakai kacamata eco-feminism, tentu hasilnya akan bilang kalau selama ini perempuan sebetulnya teropresi secara gender. Baik secara sistem sosial maupun budaya.

Budiyanto Dwi Prasetyo Budiyanto Dwi Prasetyo Peneliti Sosiologi Lingkungan di Puslitbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Bogor 1.jpg
Dok. Kanoppi Project
Kelompok perempuan Ngadha sedang bekerja di pembibitan bambu di Ngadha

Studi kami dalam project Kanoppi-2 Objective V di Golewa, Kabupaten Ngadha, menyebutkan, meski sebagian besar suku di Ngadha menganut garis keturunan matrilineal, perempuan masih harus bekerja lebih banyak dari laki-laki.

Hal tersebut diperoleh dari hasil survey yang kami lakukan pada 2018 – 2019 terhadap 111 kepala keluarga. Survey itu menunjukkan, dari sebelas pekerjaan domestik dan komersial yang biasa dilakukan sebuah keluarga.

Diketahui bahwa perempuan mengerjakan enam pekerjaan. Sebaliknya, laki-laki hanya lakukan satu pekerjaan. Empat pekerjaan lainnya dilakukan secara bersama-sama antara laki-laki dan perempuan. 

Sedangkan hasil PRA kami di Sao Neguwula, Desa Radabata, Golewa, Ngadha menunjukkan secara durasi waktu kegiatan, termasuk melakukan pekerjaan domestik dan komersial, perempuan jauh lebih lama beraktivitas ketimbang laki-laki dalam satu hari.

Participatory Rural Appraisal (PRA) identifikasi manajemen waktu berbasis gender di Sao Neguwula (Dok. Budiyanto)

 

Perempuan memulai aktivitasnya pada pukul 05:00 sampai pukul 21:00 dan melakukan sekitar 15 kegiatan. Sedangkan laki-laki mulai beraktivitas pukul 05:30 hingga 22:00 dan hanya melakukan sembilan aktivitas.

Jika realitas tersebut dipaksa untuk dilihat memakai kacamata eco-feminism, tentu hasilnya akan bilang kalau selama ini perempuan sebetulnya teropresi secara gender. Baik secara sistem sosial maupun budaya.

Sebab, realitas itu tampak seperti membiarkan semuanya terjadi. Membiarkan perempuan ditempatkan sebagai subjek yang sibuk mengurus rumah tangga. Perempuan juga membantu mengisi penghasilan utama keluarga sebagai petani.

Namun berbeda jika sudut sosio-antropologi melihat hal tersebut. Kesibukan perempuan merupakan bukti bahwa peran mereka dibutuhkan sekali oleh keluarga. Perempuan merupakan pilar bagi rumah tangga.

________________________________________________________________

BACA JUGA:

Zona Tradisional, Kearifan Lokal dan Konservasi

_________________________________________________________________

Budayawan Ngadha, Yohanes Mopa menyebutkan, aturan adat Ngadha sejatinya sangat menghormati perempuan. Dalam tradisi pembuatan simbol suku di depan rumah adat Sao, pembuatan simbol perempuan (bhaga) harus didahulukan dari simbol laki-laki (ngadhu).

Contoh lainnya,  perempuan dalam garis matrilineal mendapatkan prioritas menghuni rumah adat Sao. Perempuan juga mendapatkan hak mengolah lahan komunal milik suku.

 “Dua contoh itu sudah cukup kuat menunjukkan bahwa budaya Ngadha sangat menghormati perempuan” jelas Yohanes Mopa.

halaman selanjutnya: realitas sosial alamiah...

Halaman:  123

BAGIKAN

BERI KOMENTAR