Kepak Sayap Elang Flores

Jumat, 4 Maret 2022

Kami memasukkan nilai konservasi ke dalam tenun ikat. Kami bertanya kepada seniman tenun untuk membuat pola baru elang flores menjadi selendang tenun, dan membantu mereka memasarkan produk tersebut

Imam Budiman Imam Budiman Analis Data & Informasi pada Balai Penerapan Standar Instrumen LHK Kupang foto-elang-flores.jpg
Oki Hidayat
Elang Flores

Oki Hidayat merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan. Di atas mejanya yang berlapis kaca, tersebar beberapa foto satwa liar, yang sebagian besar adalah foto burung. Dua minggu lalu ia baru saja pindah ke ruangan besar ini. Bersama 10 peneliti lainnya ia pindah ke ruang bekas Perpustakaan Cendana. Perpustakaan ini dulu sempat menjadi perustakaan rujukan di Kota Kupang dan ikon kejayaan Balai Litbang LHK Kupang. Pustakawannya juga pernah dianugerahi predikat pusatakawan terbaik di NTT.

“Ini burung elang flores Mas, yang November 2021 kemarin dilepas Pak Wamen KLHK di acara HKAN itu”. “Nah kalau ini spesial, ini yang fotonya ada di ruangan bu Menteri Siti Nurbaya di Manggala,” kata Oki dengan logat khas Jakarta sambil menunjukkan foto legendaris “Julang Sumba”.

Pertengahan Januari lalu (21/01), ia baru saja “manggung” di 12th Asian Raptor Research and Conservation Network Symposium”. Dalam forum peneliti dan konservasionis raptor (burung pemangsa) se-Asia ini ia menyampaikan presentasi Kerjasama Balai Litbang LHK Kupang, yang sekarang menjadi Balai Penerapan Standar Instrumen (BPSI) LHK Kupang, dengan PT Airnav Indonesia yang berjudul “Keterlibatan masyarakat dalam aksi konservasi Elang Flores (Nisaetus floris) di Ende, Flores, Indonesia”.

Bersama Wieke Herningtyas dan Nardy Nourman Nadjib, ia menjelaskan empat macam pendekatan untuk melindungi dan mengkonservasi spesies langka ini, yaitu ekologi, pendidikan, budaya, ekonomi.

Pendekatan ekologi dilakukan dengan melatih anggota Jatabara (organisasi perlindungan dan pelestarian elang flores) untuk merekam dan memantau siklus perkembangbiakan spesies tersebut. “Melalui ini metode, anggota telah melindungi sarang secara teratur. Hasilnya, Alhamdulillah satu anak burung elang flores berhasil ditetaskan dan berkembang menjadi individu remaja yang mampu berburu secara mandiri”, tutur Oki.

“Pendekatan kedua yang kami gunakan adalah melalui pendidikan,” kata Oki. “Buku kegiatan penuh warna dan ilustrasi dibuat sebagai alat dalam pendidikan konservasi ditujukan kepada sekolah dasar setempat. Cara ini telah membangkitkan kesadaran masyarakat sejak usia muda,” tambahnya dengan bersemangat.

Terakhir adalah pendekatan budaya dan ekonomi. Di Pulau Flores, kegiatan menenun telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan oleh generasi. “Kami memasukkan nilai konservasi ke dalam tenun ikat. Kami bertanya kepada seniman tenun untuk membuat pola baru elang flores menjadi selendang tenun, dan membantu mereka memasarkan produk tersebut,” ujarnya.

Oki Hidayat, merupakan salah satu peneliti muda yang sangat produktif. Tulisannya tersebar dalam berbagai jurnal ilmiah, media popular, dan opini surat kabar lokal. Adanya penataan organisasi riset di Indonesia, membuat ia memutuskan untuk melanjutkan karir penelitiannya di BRIN.

Lahir di Jakarta 36 tahun yang lalu, pemegang gelar Master of Biological Science dari University of Western Australia ini gemar dengan kegiatan di alam sejak di bangku kuliah. Sejak 2010, ia mulai bertugas di Balai Penelitian Kehutanan Kupang, dan setia dengan penelitian satwa liar khususnya burung endemik di wilayah Nusa Tenggara.

Sebagai catatan, elang flores (Nisaetus floris) adalah satu-satunya raptor endemik yang terancam punah di kawasan Sunda Kecil (kawasan kepulaun Bali-NTB-NTT). Sejak dideklarasikan sebagai spesies tersendiri pada tahun 2004, upaya konservasi spesies ini sangat terbatas.

Sarang aktif ditemukan pada tahun 2014 di Desa Wolojita, Kabupaten Ende, Flores. Sarangnya terletak di Hutan Otoseso, tanah adat milik pribadi, kawasan penyangga Taman Nasional Kelimutu. Mengingat daerah tersebut adalah habitat utama elang flores, pada tahun 2019 anggota masyarakat membentuk organisasi hukum diberi nama “Jatabara” untuk melindungi dan melestarikan spesies tersebut.

Kegiatan kerjasama AirNav-BPSI LHK Kupang ini juga diharapkan memberikan kontribusi positif bagi pendapatan asli daerah. “Kami percaya bahwa konservasi elang flores bisa berhasil jika masyarakat mendapat manfaat langsung dari keberadaan spesies tersebut,” jelas Oki.

Ia juga berharap, meskipun nanti sudah berubah menjadi BPSI LHK, kerjasama ini agar dapat terus dilanjutkan. “Kita sudah berinvestasi dalam membangun relasi dengan donor dan hubungan yang baik dengan pengguna donor yaitu masrakat di Wolojita. Ke depan, hasil penelitian terapan ini juga bisa dijadikan salah satu model standar rehabilitasi burung khususnya elang flores,” lanjutnya.

Di balik itu semua, Oki memiliki sebuah cita-cita besar dan impian sebagai seorang konservasionis “Saya ingin kepak sayap elang flores kembali berkibar di udara.”


Kata kunci:
elangfloresklhkcendana

BAGIKAN

BERI KOMENTAR