Kamis, 26 November 2020
News & Nature

Kearifan Lokal Penjaga Hutan

Kamis, 21 Mei 2020

Aturan-aturan adat yang mengatur tentang pengelolaan dan pemanfaatan hutan sangat penting untuk dipertahankan.

Fentie Jullianti Salaka M.Si Fentie Jullianti Salaka M.Si Peneliti Muda Bidang Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Litbang dan Inovasi KLHK salah-satu-aliran-irigasi-yang-bersumber-dari-hutan-campaga-dokumentasi-fentie-jullianti-salaka.jpg
dok. penulis
Salah satu aliran irigasi yang bersumber dari hutan Campaga.

HUTAN Desa Campaga merupakan kawasan hutan lindung yang terletak di Kelurahan Campaga, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke tempat ini kita harus menempuh waktu sekitar tiga sampai empat jam perjalanan dari Makassar.

Hutan Desa seluas 23,68 ha ini dikelola oleh Bummas (Badan Usaha Milik Masayarakat) Babang Tangaya. Bummas Babang Tangaya dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Lurah Campaga Nomor 05 tahun 2010 tentang Lembaga Pengelola Hutan Desa Campaga. Sementara itu penetapan Hutan Desa Campaga ditetapkan melalui surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 55 tahun 2010 tentang Hutan Desa di Kabupaten Bantaeng.

Oleh masyarakat sekitar, hutan ini dikenal dengan nama Hutan Borong Lompoa yang artinya Hutan Besar. Hutan ini relatif terjaga, karena menurut cerita masyarakat, Hutan Borong Lompoa adalah hutan keramat yang tidak boleh ada aktivitas penebangan di dalamnya.

Terdapat satu lokasi di dalam Hutan Borong Lompoa yang dikeramatkan oleh warga sekitar. Di lokasi tersebut ada sebuah batu yang sering dijadikan tempat menaruh sesajen usai panen. Batu tersebut bernama Babang Tangaya yang artinya batu yang terletak di tengah-tengah.

____________________________________________________________

Baca juga: Meredam Pulau Bahang di Kota Kita

____________________________________________________________

Batu Babang Tangaya merupakan penanda batas wilayah dua orang yang berkuasa di Hutan Borong Lompoa pada zaman dulu. Konon, hutan di Campaga dikuasai oleh dua orang yang di kemudian terlibat perselisihan. Perselisihan tersebut kemudian didamaikan oleh seorang pendamai yang dikenal dengan Petta Lanre Daeng Massenga. Petta Lanre Daeng Massenga kemudian memindahkan sebuah batu ke tengah-tengah hutan sebagai tanda batas wilayah.

Menurut laman balang.org, penduduk Campaga dan sekitarnya juga percaya bahwa Babang Tangaya juga ditempati oleh makhluk berambut panjang. Kisah tersebut bermula ketika seorang pengawal melihat sosok yang tidak dikenalnya sedang mandi di mata air Tomboloa.

Sosok itu kemudian curiga ada yang memperhatikannya sehingga ia bersembunyi di sebuah batu. Kejadian ini terjadi sebelum Petta Lanre Daeng Massenga memindahkan batu untuk dijadikan batas wilayah kekuasaan di Hutan Campaga.

Hutan keramat di Kalimantan Barat yang dijadikan area konservasi salah satu perusahaan HTI/Dok. penulis

 

Mitos hutan keramat

Keberadaan mitos hutan keramat di Hutan Campaga menjadi salah satu alasan hutan ini masih sangat terjaga dengan baik. Larangan penebangan pohon di dalamnya masih dipatuhi masyarakat hingga saat ini. Bahkan pohon-pohon yang tumbangpun tak tersentuh dan masih nampak di dalamnya.

Masih banyak pohon besar yang bisa ditemui di dalam hutan tersebut. Beberapa jenis pohon yang bisa ditemui di hutan di antaranya adalah binuang (Octomeles sumatrana), kaloa/pangi (Pangium edule), suren (Toona sureni), kemiri (Aleurites moluccana), dan campaga/meranti merah (shorea spp).

Kawasan hutan tersebut diapit oleh dua anak sungai yang mengalir sepanjang tahun. Air yang berasal dari Hutan Campaga merupakan sumber air irigasi bagi lingkungan di sekitarnya. Air dari hutan ini memberikan kontribusi sekitar 15% bagi PDAM Kabupaten Bantaeng.

________________________________________________________________

Baca juga: Tanam Pinang untuk Selamatkan Lahan Gambut

________________________________________________________________

Supratman dan Sahide dalam tulisannya yang dipublikasikan tahun 2014 menyebutkan bahwa air yang berasal dari Hutan Campaga didistribusikan ke areal persawahan masyarakat melalui tiga daerah irigasi (DI). Tiga DI tersebut adalah DI Palaguna dengan debit air sebesar 5.000 liter/detik mengairi sawah seluas 400 ha, DI Tombolo I dengan debit air sebesar 320 liter/detik mengairi areal persawahan seluas 35 ha, dan DI Babangtangayya dengan debit air sebesar 45 liter/detik mengairi areal persawahan masyarakat seluas + 135 ha.

Selain menjadi sumber air, Hutan Campaga juga menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Masyarakat setempat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu berupa pemungutan buah pangi dan buah kemiri sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga.

Menurut Supratman dan Sahide, unit usaha pemungutan buah pangi dikelola oleh 17 kepala keluarga dengan total produksi rata-rata sebesar 917 kg setiap tahun. Sementara itu, unit usaha pemungutan buah kemiri dikelola oleh 5 rumah tangga dengan total produksi 280 liter setahun.

Cerita lokal yang berkembang di masyarakat Campaga adalah salah satu dari kearifan lokal yang berkembang di Indonesia. Kearifan lokal ini memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menjaga hutan.

Misalnya yang terdapat di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, tepatnya di Hutan Tembawang Bukit Tiong Kandang, Kabupaten Sanggau. Dilansir dari laman mongabay.co.id, hutan ini merupakan kawasan berhutan di Kalimantan Barat yang belum terjamah perusahaan perkebunan.

Untuk memasuki wilayah hutan adat tersebut juga harus melalui serangkaian ritual adat untuk meminta izin masuk. Kawasan hutan ini dikeramatkan oleh masyarakat dan tidak boleh dijual atau dipindahkan kepemilikannya.

Kisah lain datang dari suku Baduy yang sangat terkenal dengan kearifan lokalnya yang selalu mengutamakan konservasi. Mislanya, pada saat penebangan untuk pembukaan lahan berladang, pohon yang ditebang dimaksimalkan pemanfaatanya. 

Kayu digunakan sebagai bahan bangunan dan bahan bakar untuk memasak. Ranting dan daun yang tersisa digunakan untuk memupuk tanah. Hutan di daerah perbukitan juga terus dipelihara dan dipertahankan untuk menjaga ketersediaan sumber air bersih.

Papan larangan yang berbatasan dengan Hutan Campaga/Dok. Penulis


Tekanan perubahan 

Harus diakui, saat ini masih banyak kearifan lokal dan aturan-aturan adat yang berlaku di masyarakat lokal masih belum terdokumentasi dalam bentuk tertulis. Sementara perputaran waktu dan perubahan zaman memberikan tekanan pada aturan-aturan adat ini.

Diungkapkan oleh Subiakto dan Bakrie dalam tulisannya yang dipublikasi tahun 2015 bahwa tantangan pengelolaan hutan di Indonesia kadang kala datang dari masyarakat lokal di sekitar hutan. Untuk itu aturan-aturan adat yang mengatur tentang pengelolaan dan pemanfaatan hutan sangat penting untuk dipertahankan.

Di Desa Tae Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat misalnya,  upaya melestarikan adat istiadat mereka sudah mulai dilakukan. Dilansir dari laman mongabay.co.id, warga desa Tae sudah membukukan beberapa adat istiadat mereka. Bahkan ada mata pelajaran muatan lokal budaya Dayak Tae yang sudah diajarkan  di sekolah-sekolah.

Contoh lain adalah Desa Metulang, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Subiakto dan Bakrie dalam publikasinya tahun 2015 menuliskan bahwa terdapat aturan adat di Desa Metulang dalam menjaga hutannya yang telah ditulis dalam suatu aturan adat. Aturan adat ini ditetapkan berdasarkan keputusan musyawarah adat. Hal ini dilakukan untuk mencegah konflik baik dari dalam masyarakat adat itu sendiri maupun ancaman dari luar.

_________________________________________________________________

Baca juga: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

_________________________________________________________________

Jangan sampai tradisi dan adat istiadat yang bermanfaat bagi kita hilang. Seperti yang terjadi dengan tradisi masyarakat Sesaot, Nusa Tenggara Timur. Pada awalnya masyarakat Sesaot sepakat  untuk mengaplikasikan Awiq-awiq dalam pengelolaan dan perlindungan hutan. Namun dalam publikasi Magdalena tahun 2013 disebutkan bahwa aturan adat ini  berangsur-angsur menjadi lemah, seiring dengan tekanan dari kelompok masyarakat tertentu.

Selain itu, dukungan pemerintah juga melemah karena merasa tugas mereka tergantikan oleh masyarakat dengan hukum Awiq awiq-nya. Padahal Awiq awiq diberlakukan untuk melindungi Hutan Sesaot dan kebun masyarakat dari tindakan ilegal.

Luas hutan-hutan yang dikeramatkan oleh masyarakat memang tidak seberapa jika kita hitung totalnya. Akan tetapi manfaatnya sangat luar biasa bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Kearifan lokal yang ada di masyarakat perlu dipelihara dan dikembangkan, antara lain melalui pendokumentasian dalam bentuk naskah tertulis. Naskah tersebut dapat dijadikan rujukan untuk sebuah peraturan desa atau kelurahan, misalnya.

Pendokumentasian kearifan lokal ini juga bisa menjadi panduan bagi generasi mendatang dalam mengelola hutan dan lingkungan secara berkelanjutan. Jangan sampai kearifan lokal yang ada tergerus zaman dan dilupakan oleh generasi muda.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR