Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Ini Baru Kandidat Obat

Jumat, 5 Juni 2020

Perlu diluruskan, bahwa informasi-informasi yang menyebutkan temuan-temuan obat baru belumlah sepenuhnya benar

Gunawan Pasaribu, S.Hut, M.Si Gunawan Pasaribu, S.Hut, M.Si Peneliti Madya & Kepala Laboratorium Pengujian Hasil Hutan Bukan Kayu, Pusat Litbang Hasil Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/Mahasiswa Doktoral FMIPA Universitas Indonesia 2588e165-215f-4e06-9166-dd357b2e3ae5.jpg
Gunawan Pasaribu
Bibit Taxus sumatrana

DI masa pandemi saat ini, banyak pihak yang mengklaim penemuan obat penangkal penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Dikutip dari CNN Indonesia edisi 18 Mei 2020, misalnya, disebutkan bahwa pengembangan obat dari sebuah lembaga riset nasional memastikan tiga produk anti virus corona berbasis eucalyptus yang sudah didaftarkan paten, bisa menyembuhkan penyakit Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2.

Berita lain menyebut (Genpi.co/diunduh 19 Mei 2020) temuan obat dan sudah dibuktikan kepada pasien covid-19 di rumah sakit. Dalam berita itu, terdapat dua pasien yang sudah terbukti sembuh dari corona. 

Seperti halnya yang dilansir TEMPO.CO pada 2 Juni 2020, yang menelusuri kebenaran daun sungkai yang dapat mengobati pasien Covid-19. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, ternyata klaim bahwa daun sungkai dapat mengobati pasien Covid-19 belum bisa dibuktikan. Penelitian mengenai khasiat daun sungkai dalam membunuh virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, masih dilakukan di Indonesia.

_________________________________________________________

BACA JUGA: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

_________________________________________________________

Klaim-klaim dalam berita di atas sebenarnya baru mempublikasikan hasil riset setengah jalan dan menyimpulkan hasil akhir yang sebenarnya memerlukan proses panjang. Demikian halnya dengan temuan peneliti yang lain yang mengklaim temuan obat baru hanya berdasarkan molecular docking. Metode ini merupakan metode komputasi yang bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in-vitro.

Teknik ini hanya tools pencarian kandidat menggunakan teknologi informatika. Lembaga yang lainnya mengklaim obat hanya dengan objek risetnya memiliki aktivitas antivirus melalui pengujian in-vitro saja. Uji in-vitro merupakan salah satu bentuk pengujian bioaktivitas suatu bahan menggunakan tabung reaksi, piring kultur atau di luar tubuh mahluk hidup.

 

Protokol penemuan obat

Penemuan obat paten memerlukan waktu dan proses yang tidak sebentar. Pada 2019, peneliti Haeruninnisa menuliskan tahapan yang dilakukan dalam penemuan dan pengembangan obat. Tahapannya antara lain penseleksian target kerja obat, dilanjutkan dengan penentuan senyawa kemudian memprediksi kinerja senyawa berdasarkan struktur kimia (in silico), lalu dilanjutkan dengan pengujian pra klinis (in-vitro dan in-vivo) dan uji klinis untuk melihat respon obat terhadap tubuh manusia.

Jika tahapan pengujian telah dilalui tahapan registrasi merupakan tahapan akhir untuk mendapatkan ijin edar dari pihak yang berwenang demi memperkuat pernyataan keamanan obat.

Pada 2009, Heinig & Jennewin memaparkan proses penemuan obat kanker Taxol dari Taxus brevifolia yang membutuhkan waktu puluhan tahun sampai menjadi obat paten. Kerabat Taxus ini ada tumbuh di Indonesia yaitu Taxus sumatrana yang tumbuh alami di pulau Sumatra.

Paul M. Dewick dalam bukunya Medicinal Natural Product menyebutkan bahwa Paclitaxel (Taxol) sudah digunakan secara klinis dalam pengobatan kanker ovarium dan payudara, kanker paru-paru dan kanker pada kepala dan leher. Selain Taxus sp., taxoids juga tersediadisintesis oleh berbagai jamur endofit, yang sering hidup dalam hubungan dengan pohon Taxus.

_________________________________________________________

BACA JUGA: Potensi Kayu Ules untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh

_________________________________________________________

Hal ini membutikan bahwa penemuan obat kanker berbasis bahan alam yang sudah diproduksi oleh Bristol Meyer Squibb memakan waktu yang lama dan biaya yang tinggi. Ini adalah contoh penemuan obat dari bahan alam menjadi obat paten melalui pengembangan biosintesis.

Di sisi lain produk obat lain yang berkembang pesat adalah obat herbal. Negara China sebagai pionir di pengobatan herbal dengan Tradicional Chinese Medicine memberi keuntungan secara ekonomi dan finansial buat negara ini.

Pengembangan obat herbal juga memerlukan pemenuhan akan sederetan protokol. Di Indonesia produk herbal sudah lama berkembang sebagai produk jamu-jamuan. Produk jamu hanya memerlukan bukti pengalaman empiris yang sudah dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun.

Untuk meningkatkan status produk jamu-jamuan, diperlukan protokol sehingga bisa meningkat menjadi produk obat herbal terstandar (OHT) maupun fitofarmaka. Saat ini juga sedang dikembangkan produk obat herbal lainnya berbasis obat modern asli Indonesia (OMAI).

Pohon Taxus sumatrana di pinggir sungai/Dok. penulis

 

Dikutip dari laman Badan POM RI (diunduh 19 Mei 2020) menyebutkan bahwa Badan POM sedang menyiapkan obat modern asli indonesia sebagai backup obat-obat yang bahan bakunya  masih mengandalkan importasi dari luar Indonesia.

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito juga menginformasikan bahwa secara pararel juga dikembangkan 3 produk jamu untuk digunakan oleh penderita COVID-19 ringan yaitu produk jamu yaitu Bejo, Cordicep, dan kombinasi herbal. Jadi sampai saat ini belum ada obat Covid-19 berbasis bahan alam.

Dikutip dari laman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) BPOM, disebutkan bahwa Badan POM mempunyai tugas menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

_________________________________________________________

BACA JUGA: Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19

_________________________________________________________

Lebih lanjut dijelaskan lima tahapan yang harus dilalui dalam pengembangan obat baru, yang diadopsi dari situs resmi FDA tentang tahap penemuan dan perkembangan obat baru. Tahapan pertama diperlukan informasi kearifan tradisional, penelitian bioaktivitas, isolasi senyawa aktif dilakukan.

Pada tahap kedua dilakukan uji pra-klinik pada hewan percobaan. Lolos dari uji pra klinik dilanjutkan dengan uji klinik yang melibatkan manusia. Pengujian klinik sendiri masih akan melewati fase1, fase 2 dan fase 3. Setelah selesai tahapan ini diperlukan persetujuan dari Badan POM. Setelah obat dipasarkan, masih ada tahapan monitoring keamanan obat di pasaran yang dilakukan oleh Badan POM.

 

Kandidat obat

Pendekatan penemuan potensi obat baru dapat dilakukan dengan berbagai cara. Informasi etnofarmakologi merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan, karena sudah merupakan kekayaan pengetahuan masyarakat sebagai pemakai obat alam.

Pusat Litbang Hasil Hutan sejak tahun 2015 sudah melakukan riset dasar dalam rangka pengembangan obat herbal dari hutan. Pengembangan obat herbal hutan didasarkan pada informasi etnofarmakologi yang sudah dilakukan di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Dari tiga pulau besar ini sudah ditemukan 30 jenis tumbuhan potensial berdasarkan informasi fitokimia, toksisitas dan bioaktivitas.

Jenis tumbuhan obat yang potensial dari Sulawesi antara lain patonju, gamal, daun sibalaya, tandofo, baru cina, tanda tuju, kayu lama, bawang hutan, daun saga dan pepedi. Sementara itu, jenis tumbuhan obat potensial dari Kalimantan antara lain kenanga, rambai kuwung, akar kuning, bangang, kaloan, kajak, tapisi, puri, belawan dan pasak bumi.

Untuk wilayah Sumatra, jenis tumbuhan obat yang potensial antara lain sikkam, modang kulim, handis, solfa, sae-sae hitam, pirdot, rugi-rugi, harimonting, sanduduk merah dan simarate-ate.

Tegakan pohon Taxus sumatrana/Dok. penulis

 

Berbagai potensi obat alam tersebut, perlu terus dikembangkan melalui proses dan protokol yang ada. Terminologi penemuan “kandidat obat” saya kira bisa menjadi pilihan kata. Obat yang akan dipakai untuk pengobatan Covid-19 di berbagai negara masih digolongkan sebagai kandidat obat, karena masih memerlukan uji klinis secara luas.

_________________________________________________________

BACA JUGA: Covid-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

_________________________________________________________

Terutama dalam konteks pandemi Covid-19, perlu diluruskan informasi publik, bahwa informasi-informasi yang menyebutkan temuan-temuan obat baru belumlah sepenuhnya benar. Jenis kandidat obat itu adalah obat antivirus remdesivir; kombinasi dua obat HIV, lopinavir dan ritonavir; lopinavir dan ritonavir plus interferon beta; dan obat antimalaria klorokuin (chloroquin).

Semua kandidat tersebut memang telah menunjukkan beberapa bukti efektivitas terhadap virus SARS-CoV 2, yang menyebabkan Covid-19, baik dalam studi in-vitro dan/atau in-vivo.

Setelah melewati semua tahapan dan protokol ini, lembaga yang berkompeten akan memberikan izin edar untuk pemakaian secara umum. Pada akhirnya terkait efikasi dan keamanan produk obat yang dibuat dapat dijamin keandalannya. Jadi, penemuan obat baru itu perlu waktu yang lama.

Namun, upaya yang konsisten dalam mendorong berbagai kandidat obat, terutama dari tumbuhan obat alami di Indonesia perlu terus didukung.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR