Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Cara Leuit Menghadapi Krisis Pangan

Jumat, 22 Mei 2020

Leuit juga salah satu bentuk kearifan lokal dalam menjaga kualitas benih unggul, dengan mendahulukan tersimpannya 'pare indung'

Surati S.Hut.M.Si. Surati S.Hut.M.Si. Peneliti Muda bidang Sosiologi Lingkungan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Litbang dan Inovasi KLHK 71d62641-44ff-4cbf-8415-4fa7e04ff694.jpg
Surati
Seorang petani di Cisungsang yang akan menyerahkan gabah kepada kasepuhan

Di tengah Pandemi Covid-19 saat ini, ketahanan pangan menjadi salah satu isu utama. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di hampir semua negara di dunia. Penyediaan kebutuhan pangan menjadi satu hal yang mendesak seiring dengan munculnya ancaman krisis pangan di masa datang akibat terhentinya aktivitas ekonomi saat ini.

Ketahanan pangan memang merupakan tanggung jawab negara. Namun, dengan beragamnya komoditas dan produksi yang tergantung musim, pengelolaan cadangan pangan di tidaklah mudah.

Masalah yang dihadapi dalam pengelolaan cadangan pangan, menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Prof. Muhammad Firdaus bukan hanya antar waktu karena produksi yang bersifat musiman, tetapi juga antar wilayah karena keberagaman komoditas sesuai keunggulan lokal.

_______________________________________________________________________

Baca juga:  Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19

_______________________________________________________________________

Mengingat pangan adalah kebutuhan mendasar manusia, pengelolaan ketahanan pangan sejatinya juga telah terlembagakan secara adat pada masyarakat tradisi. Secara turun temurun, mereka juga menghadapi tantangan produksi dan musim yang berganti.

Dari hasil penelitian saya dan teman-teman peneliti dari Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, pada masyarakat hukum adat (MHA) Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, bentuk pengelolaan cadangan pangan telah terwariskan dengan baik dari generasi ke generasi.

Bentuk leuit di Kasepuhan Cisungsang/Surati

Leuit “Si Jimat”

Kasepuhan Cisungsang sendiri telah berdiri sekitar 700 tahun lalu dan bertani merupakan mata pencaharian utama. Di kasepuhan ini, waktu tanam dan panen ditentukan oleh Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, Abah Usep Suyatma. Masyarakat kasepuhan patuh dan taat kepada Abah Usep yang merupakan keturunan keempat dari pemimpin adat kasepuhan.

Masyarakat menjalankan rangkaian tahapan tradisi dalam mulai dari persiapan menanam hingga panen usai. Tahap persiapan sebelum menanam dikenal dengan ritual jatnika, yang dimaksudkan untuk mengungkapan rasa syukur sebelum padi ditanam. Tahap berikutnya, adalah nyebir atau praah yang juga dikenal dengan istilah parahan, yaitu ritual melempar air yang dilakukan pada bulan Muharam.

Setelah padi dipanen, digelar prosesi seren taun, yaitu ritual ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha  Kuasa  atas panen yang telah dilakukan. Dalam ritual ini, hasil panen disetorkan ke lembaga adat untuk disimpan di leuit. Leuit merupakan lumbung tempat menyimpan padi dalam bentuk gabah yang berasal dari benih lokal.

Prosesi seren taun di Kasepuhan Cisungsang diawali dengan ritual rasul pare di leuit yang menjadi awal dari acara syukuran. “Rasul pare di leuit artinya ngarasulan pare anu aya di leuit, ngarasulan juga berarti ngebeberes,” kata Juhendi, incu putu Kasepuhan Ciptagelar.

_______________________________________________________________________

Baca juga: Kearifan Lokal Penjaga Hutan

_______________________________________________________________________

Ngabeberes berarti merapikan. Satu tahapan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang telah dimulai, dalam hal ini adalah rangkaian prosesi menanam padi sampai akhirnya padi kembali di masukan ke dalam leuit.

Ritual ini juga pertanda dimulainya tradisi pongokan, yaitu sebuah pantangan untuk tidak melakukan kegiatan pertanian. Pongokan adalah siklus mengistirahatkan diri dari rutinitas bercocok tanam. Segala aktivitas yang berkaitan dengan bercocok tanam pantang untuk dilakukan.

Kasepuhan Cisungsang hanya melaksanakan pongokan selama tiga hari yaitu Selasa, Rabu, dan Kamis.  Alasan jeda tiga hari dari rutinitas bertani, tidak ada masyarakat yang tahu. “Masalah ieu mah urusan Abah, ari cik Abah kitu nya kudu kitu, urang mah ngan ngajalankeun hungkul (Soal ini urusan Abah, jika kata Abah harus begitu, kita akan melaksanakan),” kata Juhendi.

Puncak ritual seren taun digelar di depan leuit utama yang dikenal sebagai “Leuit Si Jimat”.  Prosesi ini diawali dengan datangnya arak-arakan yang membawa padi yang ditandu oleh empat orang rendangan. Rendangan adalah penyambung lidah atau penghubung antara masyarakat adat dengan ketua adat. Rendangan tersebar di berbagai kampung dan desa, bahkan kecamatan, kabupaten dan provinsi, yang merupakan anak keturunan dari Kasepuhan Cisungsang.

Padi yang pertama kali dimasukan ke dalam leuit adalah pare indung, benih unggul padi Kasepuhan Cisungsang. Suasana memasukan padi juga penuh khidmat diringi dengan lantunan musik kecapi. 

Setiap leuit mampu menampung kurang lebih 1000 ikat padi kering atau sekitar 2,5 sampai 3 ton padi. Bentuk leuit sedemikian rupa dan unik, berpintu satu, berbentuk rumah panggung, lantai dan dinding menggunakan kayu, dengan atap dari injuk agar tidak bocor dan tidak mudah  dimasuki tikus.

Adopsi Ketahanan Pangan

Kearifan lokal dalam praktik seren taun dan leuit membuat masyarakat hukum adat Kasepuhan Cisungsang memiliki persediaan yang cukup bertahun ke depan. Hingga, ketika musim paceklik tiba, simpanan gabah di dalam leuit menjadi tabungan yang sangat berharga.

Leuit juga salah satu bentuk kearifan lokal dalam rangka menjaga kualitas benih unggul, dengan mendahulukan tersimpannya pare indung, selain fungsi menciptakan ketahanan pangan secara berkelompok. Pola ini perlu diadopsi oleh kelompok masyarakat lainnya dengan arahan dari pemerintah daerah atau kementerian dan lembaga terkait.

_______________________________________________________________________

Baca juga: Meredam Pulau Bahang di Kota Kita

_______________________________________________________________________

Karakteristik penting lain Leuit adalah dengan menyimpan cadangan pangannya dalam bentuk gabah kering, sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan beras. Bentuk penyimpanan cadangan seperti ini, misalnya juga dapat diadopsi oleh Badan Urusan Logistik (Bulog), untuk mencegah terjadinya kerusakan beras, seperti yang pernah terjadi.

Apalagi dalam konteks pandemi Covid-19 saat ini, ketika pemerintah menyalurkan bantuan langsung tunai dalam bentuk uang tunai, terdapat potensi cadangan beras di gudang penyimpanan Bulog akan menumpuk. Untuk mengantisipasi kerusakan beras akibat penumpukan, gabah yang dibeli dari petani tidak perlu seluruhnya digiling menjadi beras.

Indonesia yang memiliki banyak masyarakat hukum adat, dari Sabang sampai Merauke. Masyakarat hukum adat adalah bentuk pelembagaan tradisi yang telah teruji dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan penghidupan, termasuk bagaimana menjaga ketahanan pangan.  Pengelolaan cadangan berbasis lokal ini bisa menjadi pilihan solusi untuk terus dijaga dan dikembangkan dalam menghadapi ancaman krisis pangan.*

Tim peneliti dan pengurus adat/Surati



BAGIKAN

BERI KOMENTAR