Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Capung untuk Patroli Kesehatan Ekosistem

Senin, 19 April 2021

Proses pencegahan secara dini dan alamiah patut ditingkatkan sebagai alternatif pertama penanggulangan penyakit menular

Yohanes Leonardo Aleu Kaize, M.Sc Yohanes Leonardo Aleu Kaize, M.Sc Pengajar pada Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Musamus, Peneliti Madya pada Papua Insect Foundation 891873ee-7933-4861-92bb-6ade6540bc3c.jpg
Dok. Penulis

Capung, mungkin lebih dikenal sebagai salah satu serangga yang sering digunakan untuk mainan anak-anak, ternyata memiliki peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dilihat dari fungsinya secara spesifik di alam, para ahli setidaknya memberi predikat sebagai salah satu serangga yang sangat penting alam dan kehidupan manusia.

Terdapat setidaknya ada dua karakter penting yang akan dibahas, yaitu bio-indikator (indikator alami) terhadap kualitas air bersih (fresh-water) dan predator terhadap jentik nyamuk penyebar malaria.

Penelitian saya di Merauke pada 2007 meyakinkan bahwa keberadaan capung yang tinggi di wilayah perairan  fresh-water mengindikasikan sumber air tersebut belum tercemar. Apabila dibandingkan dengan sumber sumber air yang sudah tercemar, jumlah kehadiran capung terbukti kurang karena kualitas air sudah rusak oleh berbagai aktivitas manusia maupun tercemarnya kualitas air bersih yang terjadi secara alamiah.

_____________________________________________________________

BACA JUGA:

Solusi Mikroba untuk Reklamasi Lahan Tambang

_____________________________________________________________

Kehadiran capung di alam bebas juga mengindikasikan karasteristik hutan yang dinamis.  Keberadaan populasi capung sebagai pollinator bagi penyebaran tumbuhan sangat berpengaruh pada pengukuran kualitas air, proses polunasi dan perkembangan tumbuhan yang akan mempengaruhi isi hutan dan tutupannya.

Sifat capung yang sangat membutuhkan air bersih untuk meletakan dan menetaskan telurnya sebelum berubah menjadi nimfa, berpengaruh positif terhadap berbagai aspek kebersihan air untuk keseimbangan alam maupun kebutuhan manusia.

Melawan malaria

Dalam sebuah jurnal sains “Interspecies Predation Beetwen Anopheles gambiae s.s. and Culex quinquuefasciatus Larvae, terbukti bahwa larva capung memiliki peran penting dalam memerangi malaria secara alami. Hal ini dapat juga dibuktikan dengan beberapa penilitian tentang kegunaan ekologis larva dari capung yang sudah dikenal secara detail oleh para pakar serangga dan kesehatan di berbagai belahan dunia.

Sebuah artikel tentang kesehatan berjudul “Datura metel – synthesized silver Nanoprticles Magnify Predation of Dragonfly Nymphs against the Malaria vektor Anopheles stephensi” menganjurkan pemanfaatan larva capung sebagai biokontrol jentik-jentik nyamuk penyebar malaria. Anjuran ini sesuai dengan karakteristik capung yang merupakan salah satu predator utama bagi nimfa nyamuk. Strategi inidapat dilakukan dalam upaya menurunkan kasus malaria di wilayah yang endemik terhadap penyakit ini.

Hubungan antara larva capung dan jentik malaria adalah predator-prey, istilah penting dalam dunia biologi yang sederhananya dikenal dalam “rantai makanan”. Asumsi bebasnya para pakar serangga adalah,  jika ada terdapat larva capung yang hidup di daerah berair bersih, maka jumlah jentik nyamuk dapat ditekan perkembangbiakannya.

Dengan berdasar pada penelitian Motoyoshi Mogi 2007 di Jepang, sekitar 85% penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, termasuk malaria, dapat ditekan dengan dilakukannya intervensi penanganan tempat tempat penampungan air bersih, semisal kolam, parit dan bahkan juga bak penampung air yang terdapat di luar area rumah dengan menghadirkan larva capung.

Pengelolaan Larva Capung

Pengelolaan larva capung untuk bidang kesehatan ini mungkin masih terkesan baru di dunia penelitian, tetapi memiliki aspek futuristik. Menurut Sathe dan Bushmar dalam Biological Forum – An internasional Journal 2010 - sifat-sifat capung sebagai predator yang memangsa beberapa nimfa serangga lain sangat berpotensi untuk dimanfaatkan dalam penelitian lintas sektoral untuk kebutuhan ilmiah maupun kebutuhan sehari hari manusia.

Ketika nimfa capung bisa dimanfaatkan untuk mengontrol penyakit menular, aspek lain pun akan bertumbuh dalam proses manajemennya. Kita dapat menarik contoh dari apa yang sudah terjadi di daerah seperti Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Di wilayah yang masih alami, menurut sebagian masyarakat setempat, memanfaatkan nimfa capung sebagai komoditas ekonomi bagi kebutuhan sehari hari mereka sudah dilakukan seiring dengan dibukanya kawasan taman di kota maupun di pemukiman padat penduduk.

Pada salah satu penelitian mengenai larva capung, Ida Bagus Made Suaskara dan Martin Joni, peneliti pada program stydi Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana pada 2020 menegaskan bahwa larva capung menjadi memiliki nilai ekonomis, dan kemudian dijual oleh masyarakat kepada pengelola taman. Sedangkan jika yang berhubungan dengan penelitian, warga dapat menjual kepada konservasionis dan atau peneliti serangga. Masyarakat juga memanfaatkan larva capung sebagai sumber makanan alternatif.

_____________________________________________________________

BACA JUGA:

Pendekatan Hutan Budaya untuk Papua

_____________________________________________________________

Para peneliti di dunia Odonata mengatakan indikator air bersih dan malaria kontrol mungkin hanya beberapa contoh kegunaan capung di alam. Sejak pertengahan 2000-an sudah diasumsikan secara luas bahwa sebagian besar penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk telah dapat dikendalikan dengan metode predator prey. Studi-studi tentang larva capung vs jentik nyamuk malaria dapat dijadikan contohnya.

Oleh sebab sifat biologi kedua kelompok serangga tersebut,  serangkaian manajemen dalam beberapa konsep bangunan maupun kawasan permukiman padat penduduk mulai dirancang untuk memiliki taman-taman bervariasi yang memungkinkan dilakukannya pemanfaatan larva capung. Hal tersebut dilakukan sebagai kontrol alamiah penyebaran penyakit menular, yang khususnya disebarkan oleh nyamuk vektornya.  Penyebaran jentik-jentik nyamuk penyebab malaria seperti Anopheles sp.  dapat dikendalikan dengan intervensi larva capung di area beresiko malaria.

Langkah penting

Dengan demikian, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa, untuk wilayah-wilayah yang jauh dari ketersediaan puskesmas dan layanan kesehatan dasar penyakit menular, proses pencegahan secara dini dan alamiah patut ditingkatkan sebagai alternatif pertama penanggulangan penyakit menular. Pengelolaan taman-taman dan kawasan yang diidentifikasikan sebagai habitat nyamuk penyebar penyakit sudah sepatutnya dioptimalkan.

Adaptasi terhadap lingkungan dengan mengintroduksi capung capung dan larvanya sebagai predator alami nyamuk agar tidak memberi ruang pada penggunaan pestisida berlebihan pada sumber air yang terdapat jentik-jentik nyamuk, yang kemudian mengakibatkan sumber air tersebut tercemar.

Penyediaan taman atau pemanfaatan capung di lokasi tertentu yang berair dapat menjadi cara yang efisien untuk memerangi malaria di berbagai lingkungan spesifik. Pencegahan secara dini serta alamiah terhadap penyebaran nyamuk vektor malaria dapat menurunkan resiko meningkatnya kasus malaria sedini mungkin.

Pada skala yang besar, dengan mengefektifkan proses hubungan kesehatan lingkungan predator prey ini, di kemudian hari akan dapat mempengaruhi aspek-aspek lain lintas sektoral  seperti analisis mengenai dampak lingkungan, kesehatan, ekonomi dan sosial.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR