Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Bagaimana Seharusnya Emas Ditambang?

Minggu, 25 April 2021

Tulisan ini mencoba memberikan perspektif bagaimana posisi kegiatan eksplorasi mineral memegang peran penting dalam mendefenisikan endapan emas di dalam perut bumi sebelum dilakukannya kegiatan eksploitasi atau penambangan.

Karl Karoluz Wagab Meak Karl Karoluz Wagab Meak Pengajar Bidang Eksplorasi Mineral, Universitas Cenderawasih. 48d694ba-21ce-4ec5-bed8-920364e5260d.jpg
Dok. Penulis
Para penambang mendulang disekirar area penambangan dengan menggunakan peralatan sederhana (sumber: Investigasi Lapangan Penulis, 2018)

PADA Januari 1988, sebuah mesin bor diangkut oleh helikopter dan mendarat di sebuah pengunungan dengan ketinggian 4300 meter diatas permukaan laut. Pengunungan itu terlihat menjulang tinggi, gundul, sepi dan sangat dingin.

Di atas langit,  awan hanya berjarak beberapa meter dengan pengunungan. Sebagian bahkan menutup sisi lain pengunungan. Awan itu berwajah muram dan tak menunjukan kesan pertemanan. Ia seakan memeluk sisi gunung lalu turut menyembunyikan misteri dari isi gunung tersebut.

Membongkar kesunyian yang panjang, mesin bor itu dihidupkan, lalu bekerja hari lepas hari, menembusi dinding pengunungan bebatuan yang keras dan terlihat seperti lipatan. 

Seperti gambling, para geolog dihadapkan pada dua pilihan, keberuntungan atau tidak sama sekali. Nasib seperti inilah yang sering dialami oleh para geolog dan para eksplorer mineral. Hanya dengan keberuntungan mereka dikenang, sebaliknya, ketidakberuntungan tidak membawa apa-apa dalam kehidupan mereka.

_________________________________________________________________

BACA JUGA:

Melindungi Spesies Mangrove Terancam

_________________________________________________________________

Pada tanggal 28 di bulan itu, dari anjungan pemboran, lubang pertama dibuat dan langsung menembusi ratusan meter perut pengunungan. Berpacu melawan cuaca yang tak biasa, mesin bor terus menembusi perut pengunungan yang keras.

Sebulan kemudian, atau tepatnya bulan Februari, hasil analisis laborarium dari lubang bor keluar. Hasilnya mengejutkan. Salah satu lubang bor yang telah menembus kedalaman 114 meter menghasilkan emas senilai 1.69 gram per ton.

Gairah para geolog meningkat. Antusiasme mereka menjulang tinggi bagaikan gunung sepi yang kaya itu. Seluruh sumber daya diarahkan, lebih intensif dan lebih strategis. Konsentrasi penuh difokuskan untuk mengetahui lebih jauh isi gunung.

Setahun kemudian sejak titik awal pemboran dikerjakan, atau pada bulan Januari 1989, pekerjaan ini telah menghasilkan 47 lubang bor. Jika ditotalkan secara keseluruhan, total kedalaman dari 47 lubang bor itu adalah 13.929 meter.

Berdasarkan analisis laboratorium, hasil rata-rata sampel menunjukan nilai kadar yang tinggi. Nilai kadar ini pun menjadikan pengunungan sepi, gundul, lembab serta dingin, dan tak terkenal itu, akhirnya mendunia sebagai salah satu pengunungan penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia.

Ia adalah Grasberg. Sebuah pengunungan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Etsberg (gunung bijih tembaga) yang lebih terkenal sebelumnya, yang ditemukan oleh geolog muda asal Belanda, Jean Jaques Dozy dalam ekspedisi Colijn tahun 1936.

Kisah heroik pada geolog di Grasberg menunjukan bahwa untuk mendapatkan emas dan tembaga dari dalam perut bumi, tidak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa-biasa saja. George A Mealey menuliskan hal ini dengan rinci dalam bukunya: Grasberg (1996).

Penemuan penting selalu mengkolaborasikan dua hal. Pertama, pengetahuan. Kedua, keberuntungan. Emas dari  dalam perut bumi sejatinya tak bisa disimplifikasi pencarian serta pengambilannya. Ia membutuhkan pengalaman sumber daya manusia terlatih, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi mutakhir, biaya yang mahal dan juga faktor keberuntungan.

Bahkan dalam bukunya, George Mealey menulis, menambang di Papua kala itu seperti menambang di bulan. Tak ada apa-apa. Papua sangat terpencil. Dibutuhkan modal yang besar, teknologi yang canggih dan sumber daya manusia yang unggul dengan pengetahuan keteknikan terbaik di dunia dan keberanian menghadapi resiko yang besar.

Eksploitasi Mendahului Eksplorasi

Fokus pada kegiatan eksplorasi, kisah Grasberg memberikan kita sudut pandang lain. Pemboran yang dilakukan pada tahun 1988 merupakan bagian kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan untuk memberikan informasi penting tentang: bagaimana bentuk dan penyebaran mineralisasi emas dalam gunung, informasi kualitas dan kuantitas (informasi kadar dan tonasenya), lalu tipe endapan emas hingga bagaimana mendesign sistem penambangan yang sesuai untuk mengambil dan mengolahnya.

Tanpa ini, emas di Grasberg tidak mungkin diambil dengan cara seperti saat ini. Terkadang, kita membayangkan memiliki sebuah gunung dan memiliki hak atas gunung itu. Dengan beberapa pencobaan sederhana, gunung itu ternyata menghasilkan emas. Kemudian, tanpa pengetahuan yang memadai (tahapan eksplorasi), dengan modal yang terbatas (seadanya), kita merasa secara ekonomis dapat menghasilkan emas dan uang, lalu kita berpikir untuk menambangnya.

Apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar kita akan gagal. Kegagalan yang dimaksud disini bisa dimaknai dalam banyak hal. Paling utama adalah, kita tidak dapat mendefesinikan endapan emas (sebaran, kuantitas dan kualitas). Kita mencari sesuatu yang tidak diketahui secara pasti keberadaannya di alam.

Dewasa ini, di Papua, situasi seperti ini sering kita jumpai. Beberapa kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat (pemilik tanah, gunung, sungai) untuk mengambil sumber daya mineral di tempatnya terkadang (justru) dilakukan tanpa program dan target eksplorasi yang terukur.

Richard Edwards dan Keith Atkinson (1986) dalam bukunya: Ore Geology and its Influence on Mineral Exploration, melalui ulasan mengenai desain dan implementasi dari program eksplorasi, menekankan pentingnya kegiatan eksplorasi sebagai fase awal dari kegiatan eksploitasi.

“Semua operasi penambangan dimulai dengan fase eksplorasi. Prosedur eksplorasi diadopsi berdasarkan ketersedian keuangan, tipe endapan mineral yang dicari dan lingkungan geologi serta geografis… Targetnya kemudian dievalusi dan dilakukan studi kelayakan pada endapan tersebut," tulisnya.

Salah satu cerita kontras tentang ini, seperti yang terjadi pada daerah penambangan emas di Buper, Kota Jayapura. Investigasi lapangan saya pada 2018 menunjukkan para penambang mendulang di sekirar area penambangan dengan menggunakan peralatan sederhana.

Mengabaikan tahapan eksplorasi, para penambang justru menambang tanpa mengetahui bagaimana arah penyebaran mineralisasi dan berdampak terhadap lingkungan -- yang tidak akan dibahas pada tulisan ini. Arah penambangan dilakukan tanpa dasar (arah dan penyebaran emas) dan hanya dilakukan mengikuti intuisi.

Padahal menambang emas tak bisa dilakukan dengan hanya mengikuti intiusi ataupun insting. Kasus Buper menunjukan terjadi lompatan pentahapan kegiatan pengambilan emas. Para penambang melakukan eksploitasi mendahului kegiatan eksplorasi.

Padahal, jika kegiatan eksplorasi dilaksanakan, fase ini akan memberikan banyak informasi tentang mineralisasi di tempat itu. Salah satunya, potensi dan prospek mineralisasi bukan hanya emas, tetapi pada komoditas mineral berharga lainnya.

Charles Moon dkk dalam bukunya: Introduction to Minerals Exploration (2006) menjelaskan beberapa  tahapan dan aktivitas dari kegiatan eksplorasi yang tak boleh diabaikan. Dimulai deengan tahapan perencanaan konseptual (conceptual planning), penaksiran lubang bor (assessment drilling) sampai dengan studi kelayakan endapan.

Tahapan perencanaan konseptual misalnya, pada tahap ini, satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan adalah literature review. Hampir semua program eksplorasi yang sukses (penemuan endapan), dilakukan dan dimulai dengan langkah ini. Bahkan kisah Grasberg yang dimulai dengan penemuan Etsberg pun berawal dari sebuah jurnal geologi, Leidsche Geologishe Medeelingen, yang kemudian  oleh Forbes Wilson, seorang menajer eksplorasi sebuah perusahaan tambang. 

Contoh, pentingnya studi literatur dapat digunakan dalam melihat kasus penambangan di Buper. Berdasar studi literer, perbukitan bergelombang Buper yang merupakan bagian dari pengunungan Cyclops. Secara geologi, daerah ini merupakan bagian dari Cyclops ophiolite.

Cyclops ophiolite secara regional merupakan bagian kompleks Centra Ophiolite Belt (COB). COB adalah bagian dari fragmen (lempeng) kerak samudera Pasifik yang terdiri dari kelompok batuan ultrabasa yang terobduksi (terangkat keatas) dan telah mengalami proses laterisasi. Di Papua, sisa-sisa COB muncul sepanjang pantai dekat Jayapura, yakni pengunungan Cyclops (Dow dkk (1988) dalam Petrology and Geochemistry of the cyclops ofiolite… (C.Monier, 1999)).

_________________________________________________________________

BACA JUGA:

Zona Ekologi Masyarakat Adat Tepra

_________________________________________________________________

Salah satu produk yang muncul dari proses laterisasi adalah nikel laterite dengan kadar yang bervariasi. Ini artinya jika kita menemukan emas dalam laterite, kitapun memiliki potensi untuk mendapatkan nikel. Bambang Nugroho Widi dari Pusat Sumber Daya Mineral (PSDM), melakukan penyelidikan di daerah Dosay yang secara geologi merupakan bagian dari jalur Cyclops, menemukan anomali kromit yang memiliki prospek.

“Hasil penyelidikan tahun 2016 menunjukan anomali kromit cukup siginifikan, yaitu dengan kisaran 1.3 sampai dengan 4.7%,” tulisanya. Penelitiannya dimuat dalam Buletin Sumber Daya Geologi (vol 2, 2017) dengan judul Potensi Endapan Laterite Kromit Di Daerah Dosay, Kabupaten Jayapura.

Penelitian saya berjudul: Studi Pendahuluan dan Rekonstruksi Model Genetik Empiris terhadap Tipe Endapan Laterite Bearing Au (Emas) di Buper dan Implikasinya Terhadap Eksplorasi, Penambangan dan Lingkungan (2018), mengadopsi model genetik endapan yang telah direkonstruksi oleh Gregory E. McKelvey (USGS 2004). Model ini memperlihatkan kehadiran emas cenderung menyebar dan tidak menunjukan pola urat.

Dengan model sebaran emas seperti itu, model eksplorasi pendahuluan yang dianjurkan adalah eksplorasi geokimia dan harus melalui analisis laboratorium. Eksplorasi geokimia digunakan untuk melihat distribusi dan konsentrasi dari unsur-unsur seperti emas, perak, nikel, besi, magnesium, sulfur, arsen dan juga merkuri dan unsur lainnya. Merkuri bahkan dapat dijadikan penilaian awal terhadap lingkungan mineralisasi.

Rekonstruksi model secara empiris, setidaknya dapat  memberi pemahaman pendahuluan untuk mendesain program eksplorasi yang efektif dan efisien, guna memperoleh informasi yang lebih akurat dan detail mengenai endapan. Hanya dengan studi literatur, kita dapat mengetahui bahwa jalur cyclops secara menyimpan banyak komoditas berharga.

Dengan pendekatan dan strategi program eksplorasi yang terukur, kita dapat mendefenisikan emas dan komoditas lainnya secara tepat sebelum memulai kegiatan penambangan. Selain memahami dan dapat mendefenisikan potensi mineral (emas, perak, tembaga, nikel dan lainnya), mengikuti tahapan kegiatan eksplorasi memberikan kerangka yang lebih jauh, bagaimana seharusnya mineral diambil secara baik dan benar.

Apakah penambang emas mahal harganya? Ya. Apakah penambangan emas butuh ilmu pengetahuan, ya. Penambangan emas tidak bisa disimplikasi prosesnya. Penemuan penting selalu mengintegrasikan ilmu pengetahuan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR