Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Ratu Anggrek dari Sebangau

Sabtu, 20 Maret 2021

Ekosistem hutan rawa gambut tropika Taman Nasional Sebangau merupakan habitat alami bagi anggrek pensil

f0a936f5-3f09-4274-85ce-ecf3ded4e8ce.jpg

Oleh: Tatang Suwardi  S.Hut.

Fungsional PEH Taman Nasional Sebangau


Tengah hari di tahun 2008, klotok yang kami tumpangi patroli pengamanan kawasan menerobos jalur sempit Sungai Bangah yang banyak tertutup tumbuhan Bakung. Seringkali kami harus merunduk dan memiringkan badan agar tidak terkena tamparan daun Bakung.  

Tatang Suwardi/dok. pribadi

Bakung (Hanguana malayana) adalah tumbuhan air yang banyak tumbuh di sungai-sungai di kawasan Taman Nasional Sebangau yang apabila tidak dikendalikan akan menutup jalur sungai atau masyarakat biasa menyebutnya pampanan. Begitu juga kondisi Sungai Bangah mulai dari muara sungai sampai ke hulunya banyak ditumbuhi Bakung yang membentuk hamparan dan menutupi sungai utama.

Setelah satu jam lamanya berpatroli kami pun sejenak beristirahat sementara juragan klotok (driver) membersihkan baling-baling dari daun bakung dan rerumputan. Kami pun menikmati pemandangan alam yang didominasi warna hijau pepohonan dan tumbuhan lainnya yang menyejukan dan menenangkan.  

Keheningan alam yang menghanyutkan dalam kantuk buyar seketika oleh suara juragan klotok yang berteriak.  Sambil menunjukkan jarinya berkata, “Lihat ada bunga yang cantik”. Kami pun serentak memandang ke arah lokasi yang ditunjukkan.  Berjarak sekitar 70 meter terlihat warna kontras dari warna sekitarnya. Warna ungu dan putih tampak terlihat dari beberapa kuntum bunga yang mekar.  

Tanpa dikomando klotok kami dikayuh menuju lokasi tersebut.  “Anggrek vanda pensil” langsung terucap seketika saat tiba di lokasi sang anggrek. Terpukau oleh keindahan bunga anggrek ini sampai sekarang menjadi pengalaman yang berkesan yang tak terlupakan. 

Kembali Tebar Pesona

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2020 belum pernah terlihat bunga ini mekar kembali.   Namun di awal Februari 2021 berita gembira datang dari seorang mantan pemburu burung yang saat ini sering dilibatkan kegiatan pengambilan data lapangan dan sebagai pengenal jenis pohon.


 

BACA JUGA: Menangkap Kepak Garuda di Pangrango

 


Bapak Aldi demikian kami memanggilnya, melaporkan bahwa telah melihat banyak bermekaran bunga anggrek yang tumbuh di hamparan Bakung.  Selanjutnya pada 23 Februari sampai dengan 2 Maret 2021 Tim Pelaksana Kegiatan Inventarisasi Keanekaragaman Hayati Tumbuhan melaksanakan kegiatan di Sungai Bangah yang termasuk wilayah kerja Resort Bangah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Sebangau Wilayah II dan masuk dalam wilayah administrasi Pemerintahan Daerah Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. 

Hasil dari kegiatan ini ditemukan 21 jenis anggrek yang umum tumbuh di kawasan yaitu dari genus Bulbophyllum, Dendrobium, Coelogyne, Appendicula, Bromheadia, Dipodium, Oxystophyllum, dan Thrixspermum. Selain anggrek yang umum dijumpai di hutan dataran rendah rawa gambut juga ditemukan jenis anggrek komersil yang sudah dikenal dalam dunia perdagangan anggrek salah satunya anggrek pensil (genus Papilionanthe) yang hidup menumpang di batang Bakung sehingga tergolong anggrek epifit.  Keberadaan anggrek pensil di alam sangat terbatas disebabkan habitat alaminya banyak yang sudah rusak.  

Anggrek pensil atau Papilionanthe hookeriana atau nama sebelumnya Vanda hookeriana dimana nama hookeriana diberikan sebagai penghormatan kepada Sir William Hooker, seorang guru besar ahli botani yang pernah menjabat direktur Kebun Raya Kew, Inggris.

Ditemukannya kembali anggrek pensil di habitat alaminya setelah 12 tahun dalam kawasan TN Sebangau dengan kondisi bunga yang mekar secara serempak kiranya tak berlebihan bila kami menyebutnya sebagai fenomena sang ratu kembali tebar pesona”. 

    

Pertelaan 

Disarikan dari Buku Seri Biologi “Jenis-jenis Anggrek” yang disusun oleh Setijati Sastrapraja dan kawan-kawan yang diterbitkan Lembaga Biologi Nasional LIPI dan diterbitkan kembali pada tahun 1980 oleh PN Balai Pustaka mendeskripsikan bahwa  tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 2,5 meter, batangnya bulat, beruas-ruas dan tertutup seludang, daun berbentuk bulat seperti pensil dengan ujung runcing.  

Bunganya besar, bergaris tengah 5–6 cm.  Bunga tersusun dalam tandan yang panjangnya 15–25 cm dan muncul dari ketiak daun. Banyak bunga dalam tiap tandan 2–15 kuntum yang mekarnya bergantian.  Warna bunga perpaduan ungu dan putih.  Apabila dicermati bentuk lidah yang berwarna ungu menyerupai abdomen (perut) serangga lebah besar. Kelopak bunga lateralnya (sepal lateral) condong ke bawah dengan warna terang menyerupai sayap serangga.

Morfologi dan warna bunga anggrek yang atraktif diyakini sebagai daya tarik bagi serangga yang memliki kepekaan anten yang tinggi. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan terjadinya penyerbukan. 

Halaman berikutnya: Ratu Anggrek...

 

Ratu Anggrek 

Berkat keindahan bunganya, tahan lama sampai 22 hari dan berbunga terus menerus sepanjang tahun anggrek ini dinobatkan sebagai "Ratu Anggrek" atau Queen of Orchid pada 1882 oleh pemerintah Inggris dan mendapatkan hadiah “First Class Certificate”.  

Meski sebelumnya anggrek ini termasuk dalam daftar jenis anggrek yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Akan tetapi saat ini karena pertimbangan otoritas keilmuan di antaranya mudah dibudidayakan baik secara vegetatif (stek batang) atau generatif (biji) dan di Jawa sudah banyak yang membudidayakannya, anggrek ini tidak lagi masuk daftar anggrek yang dilindungi.


 

BACA JUGA: Pemberdayaan yang Mengubah Curiga jadi Partisipasi

 


Sebelumnya anggrek masuk dalam daftar dilindungi sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi  dan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2018 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi. 

Usaha untuk menyilangkan dengan jenis lain (anggrek hibrida) telah banyak dilakukan seperti Vanda Miss Joaquim merupakan hasil silangannya dengan Vanda teres, silangan dengan Vanda tricolor mengahasilkan Vanda ruby dan dengan Vanda tricuspidata menjadi Vanda amy.  Anggrek pensil species hasil budidaya ataupun anggrek hibridanya pada saat ini banyak diperdagangkan di pasar online dengan harga variatif.

Perlindungan terhadap anggrek pensil yang tumbuh di habitat alaminya seperti TN Sebangau adalah salah satu upaya pengawetan jenis tumbuhan secara in situ  menjadi nilai lebih dan menjadi salah satu obyek daya tarik wisata alam sekaligus menjadi kekayaan dan kebanggaan Bangsa Indonesia khususnya masyarakat di Provinsi Kalimantan Tengah.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR