Kampung Taxus di Nagari Pandai Sikek

Jumat, 3 Desember 2021

Hasil penelitian, termasuk dari peneliti BP2TSTH Kuok menyebutkan bahwa T. sumatrana memiliki potensi yang besar sebagai sumber biofarmasi.  Pada daun, kulit dan ranting Taxus sumatrana terdapat senyawa yang berfungsi sebagai anti fungi dan anti tumor.

97bdff0b-2f39-4b93-89ee-e62fc82a8b8b.jpg
Dok. BP2TSTH Kuok
Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi, S.P. melakukan penanaman Taxus Sumatrana didampingi Kepala BP2TSTH Kuok, Priyo Kusumedi.

Upaya pelestarian konservasi Taxus sumatrana yang dilakukan oleh Pemerintah Sumatera Barat dengan mencanangkan Nagari Pandai Sikek sebagai Kampung Taxus. Pencanangan tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi, S.P. Peresmian tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian taxus di singgalang.

{encanangan Nagari taxus yang dilakukan di lereng Gunung Singgalang, Bukik Kumayan dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Bupati Tanah Datar, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Kepala Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kepala BKSDA Sumbar, Kepala TN Siberut, CSR PT. Semen Padang (PT.SIG), KPHL Bukit Barisan, Wali Nagari Pandai Sikek, KTH Taxus Singgalang dan tamu undangan serta Ninik Mamak Pandai Sikek, Selasa (30/11/2021).

Pencanangan Nagari Taxus ini merupakan sebuah salah satu bentuk kontribusi dari tim peneliti dalam hal konservasi taxus. Litbang Kuok sejak tahun 2015 mulai intens melakukan penelitian taxus di Sumatra. Pada tahun 2019 Litbang Kuok telah berkontribusi dalam melakukan upaya konservasi Taxus sumatrana di Singgalang Sejak Tahun 2019. Upaya konservasi ini dilakukan bersama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Taxus Singgalang.

“Salaweh iko dunia ternyata ado tanaman langka nan baguno untuk dunia di Nagari Pandai Sikek,” kata Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah. Lebih lanjut Gubernur Sumbar yang akrab dipanggil Buya menyatakan, “Pohon taxus yang tumbuh di Singgalang merupakan berkah untuk Nagari Pandai Sikek, Pohon ini merupakan tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat”.

“Melalui pencanangan Nagari Pandai Sikek menjadi kampung Taxus, manjadikan Nagari Pandai Sikek sebagai Nagari Taxus mendunia Konservasi Taxus, imbas positif  tentu agar peningkatan perekonomian masyarakat dan kemajuan daerah di masa mendatang,  akan tetapi pembudidayaan tanaman Taxus ini menjadi investasi bagi generasi berikutnya untuk meningkatkan derajat kesehatan  warga di seluruh penjuru dunia,” kata Buya Mahyeldi

Buya Mahyeldi memberi apresiasi dan menyambut baik kepada para penggagas acara pencanangan “Nagari Taxus” ini, karena dengan melakukan inisiatif ini akan menggaungkan Sumatera Barat dan mendorong masyarakat di Nagari Pandai Sikek dan umumnya masyarakat dapat di kaki Gunung Singgalang kembangkan tanaman Taxus secara mandiri.

__________________________________________________________

BACA JUGA:

Visi Besar dari Langkah Awal Kampung Taxus

_________________________________________________________

Sehingga kedepannya Nagari pandai Sikek dikenal bukan hanya dari songket dan ukirannya saja  tapi juga dari konservasi Taxus. “Dari Pandai Sikek mendunia konservasi taxus,” ungkap Buya

Selaras dengan hal tersebut, Priyo Kusumedi, S. Hut, MP, Kepala Balai Litbang Teknologi Serat (BP2TSTH) dalam sekilas hasil litbang tentang Taxus sumatrana di Badan Litbang dan Inovasi, KLHK menyampaikan “Kegiatan Taxus di Singgalang sudah Kita lakukan peneliti kami bersama dengan Masyakat/KTH Taxus singgalang sejak tahun 2019,  mulai dari ekplorasi potensi di Singgalang, Budidaya, sampai dengan pemanfaatan taxus secara lestari”

“Hasil penelitian menyebutkan bahwa T.sumatrana memiliki potensi yang besar sebagai sumber biofarmasi.  Pada daun, kulit dan ranting Taxus sumatrana terdapat senyawa yang berfungsi sebagai anti fungi, anti tumor, antiimflamasi, anti bakteri, anto okesidan, anti diabetes dan anti kanker."

“T.sumatrana mengandung taxane diterpenoid atau paclitaxel (taxol) yang bersifat anti kanker. Seorang pasien membutuhkan taxol untuk pengobatan sebanyak 2 – 2.5 gr tersebut setara dengan 6-8 pohon taxus. Harga paclitaxel (taxol) didunia sebesar USD 70 (10 mg), sehingga untuk pengobatan membutuhkan biaya sebanyak USD 17.500,” ungkap Priyo.

Lebih lanjut Priyo mengatakan bahwa pertumbuhan yang lambat dan regenerasi yang relatif sulit, ditambah lagi daerah penyebaran yang terbatas, menyebabkan populasi hampir semua species taxus di dunia menjadi sangat kecil dan sangat gampang mengarah pada kelangkaan. Sehingga, walaupun di Indonesia belum diekploitasi, T. sumatrana sudah masuk dalam daftar tanaman yang dilindungi melalui Permen LKH No. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Mengingat populasinya yang sangat kecil dengan penyebaran yang terbatas dan karakter pertumbuhan yang lambat tersebut, untuk mendapatkan potensi kesehatan yang luar biasa dari cemara Sumatera ini haruslah dilakukan dengan pemanfaatan yang lestari (sustainable utilization).

“Pemanfaatan lestari dengan membudidayakan dan memanen tanpa menebang/mematikan tanaman ini sangat memungkinkan untuk dilakukan karena karakter pertumbuhannya yang sangat mudah bercabang pada saat pertumbuhan vegetatif. Tentu saja, ada cara lain dalam mendapatkan senyawa spesifik anti kanker, Taxol®, melalui bioteknologi yang memerlukan investasi dan keahlian tertentu,” tutup Priyo.

Halaman berikutnya: Nilai tambah dan produktivitas...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR