Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Ceria Kukang Dilepas di Pararawen

Minggu, 19 Juli 2020

Perjalanan panjang pelepasliaran kukang dimulai. Petugas BKSDA Kalteng menyusuri sungai dan menembus lebatnya hutan di Cagar Alam Pararawen.

kukang.jpg
ksdae.menlhk.go.id
Kukang kalimantan (Nycticebus menagensis) sesaat setelah dilepasliarkan petugas BKSDA Kalimantan Tengah

Barito Utara – Dengan sorot mata yang bulat bercahaya, seekor kukang tampak ceria ketika dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Satwa dilindungi ini langsung bergelayut di pohon, menikmati kehidupan barunya di alam bebas.

Kukang yang memiliki nama latin Nycticebus sp merupakan primata dilindungi UU No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

__________________________________________________________________

BACA JUGA: Biar Mereka Mengangkasa, Kita yang Menjaga

__________________________________________________________________

Dalam peraturan internasional, kukang juga dilindungi dalam kategori Apendiks 1 oleh Convention International on Trade of Endangered Species (CITES) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

ksdae.menlhk.go.id

Perjalanan petugas BKSDA Kalteng menembus hutan cagar alam sambil menggendong kukang

 

Sebelumnya, kukang jantan ini dikandangi warga Desa Lemo, Kecamatan Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara, dan kemudian diserahkan kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah.

Halaman selanjutnya: Periksa berat, suhu dan gigi...

 

Pihak BKSDA Kalimantan Tengah kemudian melakukan upaya rehabilitasi dan sebelum dilepasliarkan, dilakukan pemeriksaan kesehatan. Perlu dipastikan bahwa satwa dilindungi tersebut dalam kondisi baik, dengan berat badan dan suhu tubuh normal, struktur gigi yang lengkap. 

Dikutip dari ksdae.menlhk.go.id, dalam proses tersebut juga perlu dilakukan langkah untuk mengecek kelayakan tempat pelepasliaran yang selanjutnya akan menjadi habitat mereka.

__________________________________________________________________

BACA JUGA:  "Gelenggeng" Gunung Galunggung

__________________________________________________________________

Cagar Alam Pararawen I dan II yang dipilih sebagai tempat pelepasliaran karena area tersebut status perlindungannya sudah jelas. Selain itu, kondisinya sesuai dengan kebutuhan satwa yang akan dilepasliarkan, tersedia cukup sumber pakan, tempat untuk bertengger dan bersarang, serta kondisinya mendukung perkembangbiakan satwa.

Pada Jumat (17/7/2020), perjalanan panjang pelepasliaran kukang dimulai. Petugas menyusuri sungai dan menembus lebatnya hutan di Cagar Alam Pararawen.

ksdae.menlhk.go.id

Kukang merangkak keluar dari kardus dan langsung menggelayuti pohon 

 

Petugas harus memindahkan kukang ke kandang dari kertas kardus yang telah diberi lubang udara. Kardus tersebut kemudian dibawa dengan cara digendong untuk menghindari satwa tersebut stress dan dehidrasi selama perjalanan.  

Setelah menemukan tempat yang dikira tepat, kardus dibuka. Kukang merangkak keluar, untuk menemukan pohon dan menggelayut bebas.

__________________________________________________________________

BACA JUGA: Pemberdayaan yang Mengubah Curiga jadi Partisipasi

__________________________________________________________________

Di Indonesia terdapat tiga jenis kukang yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis).  Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, kukang jawa masuk kategori Kritis atau satu langkah menuju kepunahan di alam.

Untuk kukang sumatera dan kukang kalimantan berstatus Rentan atau tiga langkah menuju kepunahan di alam liar. Apapun Alasannya, hidup satwa liar sudah seharusnya di silam bebas.*

ksdae.menlhk.go.id

Kukang kalimantan (Nycticebus menagensis) yang berstatus rentan dalam IUCN Red List



BAGIKAN

BERI KOMENTAR