Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Bedugul Selayaknya Menjadi Cagar Biosfer

Jumat, 24 April 2020

Di dalamnya juga terdapat  beberapa spesies flora langka yang harus dilindungi

berita-bedugul.jpg
lipi.go.id

Bedugul adalah kawasan hutan pegunungan yang ada di tengah-tengah pulau Bali sebagai peninggalan gunung berapi purba. Cekungan endorheik  (terkungkung) Bedugul yang berada di perbatasan dua kabupaten Tabanan dan Buleleng dan lanskap penting untuk konservasi, penduduk, pertanian, pariwisata, agama, dan budaya.
 
Aktivitas manusia yang berkembang pesat di wilayah ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di zona penyangga, yang secara ekologis tidak dapat dipisahkan dari keberadaan tiga danau yakni Beratan, Buyan, dan Tamblingan.

“Potensi hayati yang kaya dan unik di balik ancaman degradasi hutan dan alih fungsi lahan di daerah cekungan terkungkung Bedugul menjadi pendorong mewujudkan Bedugul sebagai cagar biosfer berikutnya di Indonesia,” kata Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Didit Okta Pribadi di Candikuning, Tabanan, Bali pada Rabu (22/4).

____________________________________________________________

Baca juga: Ayam Hutan Hijau Berkeliaran Bebas di TN Kelimutu

____________________________________________________________
 
Peneliti ekologi Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” LIPI, Sutomo menjelaskan, ada perubahan penggunaan lahan di wilayah Bedugul, termasuk wilayah tiga danau tadi, jika dilihat dengan teknik pengindraan jauh dan analisis citra satelit.

“Tanpa penerapan teknik konservasi, air tanah dapat menyebabkan erosi, penurunan kualitas air, sediimentasi, dan dapat merusak fungsi area danau sebagai daerah tangkapan air,” ujarnya.
 
Pada tahun 2005, LIPI dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Bali mengadakan simposium "Analisis Daya Dukung dan Kapasitas Sumber Daya di Tri-Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan".

Simposium tersebut merekomendasikan beberapa spesies flora asli di daerah tersebut dapat diperkenalkan kembali untuk mengembalikan fungsi penyangga danau.
 
“Beberapa spesies ditemukan secara alami, seperti cemara pandak atau Podocarpus imbricatus dan cemara geseng Casuarina junghuhniana. Adapun beberapa jenis bambu, seperti Scizostachyum branchycladumDendrocalamus asper, dan Gigantocloa apus, dapat menjaga sistem air,” terang Sutomo.

________________________________________________________

Baca juga: Cemara Sumatera di Gunung Singgalang

________________________________________________________

Bahkan, Sutomo menjelaskan, Pinanga arinasae (pinang) dan Dicksonia blumei (tumbuhan paku) merupakan spesies langka yang dapat ditemukan di area Bukit Pohen, Bedugul.
 
Kegiatan penelitian yang dilakukan Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” LIPI di Bukit Pohen berhasil mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati dalam petak sampel seluas satu hektare.

“Di dalamnya juga terdapat  beberapa spesies flora langka yang harus dilindungi,” ujar Sutomo.
 
Simposium juga mengusulkan  model manajemen yang sesuai dengan daerah cekungan terkungkung Bedugul yaitu pengelolaan dengan konsep cagar biosfer Cagar Biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama program UNESCO-MAB untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan genetika dalam harmoni dengan pembangunan ekonomi dan kearifan budaya lokal.

__________________________________________________________

Baca juga: KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

__________________________________________________________
 
Di Indonesia, meskipun kata cagar biosfer telah tercantum dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, namun keberadaaanya belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Cagar biosfer diakui secara internasional sebagai bagian untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

Cagar biosfer memiliki fungsi pendukung penelitian, pemantauan dan proyek percontohan serta pendidikan dan pelatihan. “Dengan demikian, biosfer tidak hanya untuk konservasi, tetapi juga menjadi upaya untuk mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan,” tutup Sutomo. (LIPI)



BAGIKAN

BERI KOMENTAR