Selasa, 15 Juni 2021
News & Nature

Ancaman Sampah Laut di Karimunjawa

Senin, 26 April 2021

Problem sampah yang dihadapi saat ini membutuhkan penanganan agar tidak memberikan pengaruh negatif terhadap ekosistem yang ada di taman nasional

6ec51565-e442-4255-b8b2-752b23fd54e5.jpg
Susi Sumaryati

Hari itu lumayan terik, meskipun waktu baru menunjukkan pukul 09.45, rasanya kerongkongan kami sudah mengering. Kami beristirahat sejenak menyantap bekal yang dibagikan panitia bersih pantai. Pulau yang kami susuri hari itu memiliki luas lebih kurang 24 Ha dengan keliling 2.276 m. Kalau berjalan santai setidaknya membutuhkan waktu satu jam untuk bisa mengelilingi Pulau Geleang.

Kali ini waktu tempuh kami lebih lama, karena sambil menyusuri pantai, kami harus membersihkan dan mengumpulkan sampah yang kami jumpai. Ketika menjumpai sampah organik, yang berukuran kecil seperti bambu, cabang dan ranting pohon yang mudah diangkut, cukup dipindahkan jauh dari pantai.

Sampah organik berukuran besar dan sulit untuk diangkut atau digeser dibiarkan pada tempatnya. Untuk sampah anorganik, sampah yang didapatkan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kami sudah dibekali beberapa kantong plastik untuk jenis sampah yang berbeda. Sampah dipilah berdasarkan bahan utama pembentuknya yaitu plastik, kaca, styrofoam, karet, lain-lain (jaring, besi, kaleng). Setelah mengelilingi pantai, sampah yang terkumpul ditimbang dan dicatat.

_________________________________________________________________

BACA JUGA: 

Policy Space dalam Pengelolaan Taman Nasional

_________________________________________________________________

Menjelang siang kami sudah menuntaskan tugas bersih pantai di Pulau Geleang. Untuk sebuah pulau yang tidak berpenghuni total sampah anorganik yang kami kumpulkan hari itu tergolong tinggi yaitu 315,1 kg. Sampah plastik berupa bekas mainan, alat masak, perlengkapan rumah tangga sebanyak 165 kg. Plastik berupa bekas botol minuman kemasan sebanyak 52 kg.  Kaca dalam bentuk bekas bola lampu, botol sirup sebanyak 23 kg.

Sampah styrofoam atau gabus seberat 8,7 kg. Sampah dengan bahan pembentuk dari karet seperti sandal dan sepatu seberat 25,5 kg. Sampah lain-lain berupa jaring, besi, kaleng seberat 40,9 kg. Sampah selanjutkan kami bawa ke Pulau Karimunjawa untuk dibuang pada tempat pembuangan sampah yang berada di Dukuh Alang-alang.

Sampah kiriman

Pulau-pulau kecil menghadapi permasalahan berupa kiriman sampah yang berasal dari daerah sekitar maupun sampah yang terbawa arus. Kepulauan Karimunjawa yang terdiri dari 27 pulau saat ini menghadapi permasalahan sampah laut.

Pantai merupakan pertemuan antara laut dan daratan. Area ini menunjukkan bentuk konektivitas laut dan darat. Dari pengamatan kami selama di Pulau Geleang saat itu menunjukkan beberapa kemungkinan asal sampah. Pertama, sampah berasal dari pulau sekitar yang berpenduduk. Kedua, sampah berasal dari aktivitas perikanan, ini ditunjukkan dengan adanya sampah dari bekas pelampung, bekas pancing dan potongan jaring. Ketiga, sampah yang terbawa arus, ini ditunjukkan adanya sampah sisa industri.

Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang terletak di perairan utara Laut Jawa. Kawasan ini merupakan gugusan pulau-pulau kecil dengan luas kawasan mencapai 111.625 Ha. Kepulauan ini secara administratif adalah Kecamatan Karimunjawa bagian dari Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Karimunjawa terdiri dari empat desa yaitu Desa Parang, Desa Nyamuk, Desa Kemujan dan Desa Karimunjawa.

Populasi penduduk mencapai lebih dari 9784 jiwa yang mendiami lima pulau utama yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting. Taman Nasional Karimunjawa adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Kawasan ini memiliki lima tipe ekosistem yaitu ekosistem terumbu karang, lamun, pantai, mangrove dan hutan hujan tropis dataran rendah.  Kelima ekosistem ini harus dijaga kelestariannya.

Problem sampah yang dihadapi saat ini membutuhkan penanganan agar tidak memberikan pengaruh negatif terhadap ekosistem yang ada di taman nasional. Menurut Convention on Biological Diversity (2012) menyatakan bahwa sampah laut memiliki potensi menjadi penyebab menurunnya jumlah spesies dan kepunahan.

Kegiatan bersih pantai ibarat pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pantai menjadi bersih, terpantaunya sampah, dan edukasi terhadap masyarakat. Kegiatan bersih pantai yang dilakukan sepanjang tahun 2018 sampai dengan 2020 ini merupakan upaya untuk mendapatkan informasi mengenai jenis dan komposisi sampah laut yang ada di Taman Nasional.

___________________________________________________________________

BACA JUGA:

Ratu Anggrek dari Sebangau

___________________________________________________________________

Sampling dilakukan di sembilan lokasi dengan rincian, enam merupakan pulau dan tiga lokasi merupakan pantai yang berada di pulau berpenduduk. Sebanyak enam pulau yaitu Pulau Menjangan Kecil, Pulau Cemara Besar, Pulau Katang, Pulau Geleang, Pulau Sintok, dan Pulau Cilik. Dua pulau yang berpenduduk adalah Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Untuk Pulau Karimunjawa, pengamatan dilakukan di dua lokasi yaitu Pantai Legon Lele dan Legon Janten, sedangkan di Pulau Kemujan dilakukan di Pantai Hadirin.

Dari sembilan lokasi tersebut, total sampah yang terkumpul seberat 2.336,6kg. Sampah plastik 1239 kg, kaca 265,5 kg, 166,7kg, karet 41,5 kg, sampah lain-lain sebanyak 623,9kg. Pantai Legon Lele yang terletak di sisi timur Pulau Karimunjawa, menjadi lokasi dengan jumlah sampai tertinggi yaitu 871,5kg. Pantai dengan panjang 2500 meter ini merupakan sebuah teluk.

Bentuk teluk yang menjorong kedalam memungkinkan sampah yang terbawa arus terperangkap di pantai. Pulau Geleang menduduki peringkat kedua dengan berat sampah 315,1 kg, menyusul berikutnya adalah pantai di Legon Janten yang masih satu garis pantai dengan pantai Legon Lele terkumpul sampah seberat 300kg.

Di Pantai Legon Janten jenis sampah yang dijumpai terdiri dari satu jenis yaitu jaring. Sampah dari jenis karet, sepatu dan sandal mendominasi di dua lokasi yaitu Pulau Geleang dan Pantai Legon Lele. Sampah dari jenis styrofoam atau gabus, tidak ditemukan di Pulau Cilik, Pulau Sintok dan Pantai Hadirin. Di Pulau Geleang dan pantai Legon Lele semua kategori jenis sampah terdapat disini.

Di Pulau Menjangan Kecil sampah dari jenis jaring, besi dan kaleng mendominasi dengan persentase 63,16%. Di Pulau Cemara Besar, Geleang, Sintok dan Cilik sampah dari jeni plastik mendominasi dengan persentase antara 47,49 - 68,87%). Masih menurut Convention on Biological Diversity yang menyatakan tipe sampah laut didominasi dari jenis plastik dengan persentase 80% sedangkan sampah dari jenis kertas, kaca, besi persentasenya dibawah 2%.

Sampah  yang berada di area pantai dengan berbagai macam bentuk dan ukuran selain menjadi pemandangan yang tidak nyaman, juga memungkinkan menjadi pengganggu bagi satwa. Werner (2016) menyatakan, mayoritas laporan menyampaikan perjumpaan satwa laut bersama dengan sampah plastik. Dari hasil pengamatan pada sembilan lokasi sampling dapat diketahui bahwa sampah dari jenis plastik sangat mendominasi dengan persentase 53,03%.

Persentase sampah berdasarkan jenis secara berurutan adalah kaca 11,36%; Styrofoam 7,13%; karet 1,78; lain-lain (jaring, besi, kaleng) 26,7%. Hal yang menjadi perhatian adalah bahwa sampah plastik bersifat presisten atau dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Sampah laut yang dijumpai di Kepulauan Karimunjawa bersumber dari aktivitas manusia yang membuang sampah dan atau sampah dari tempat lain yang terbawa arus. Namun untuk menentukan sumber mana yang paling dominan menjadi penyebab penumpukan sampah di pantai di Kepulauan Karimunjawa memerlukan pendalaman lebih lanjut. (Susi Sumaryati)*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR