Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Ahli Konservasi Indonesia Dijadikan Nama Tokek

Minggu, 31 Mei 2020

Masih ada kemungkinan bertambahnya spesies baru mengingat beberapa jenis herpetofauna masih unidentified dan sedang diteliti

img-20200523-wa0021.jpg
ppid.menlhk.go.id
Cyrtocactylus jatnai

Para peneliti internasional menemukan spesies endemik reptil baru jenis Gecko Cyrtodactylus atau dalam bahasa lokal dikenal dengan nama tokek di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Spesies tokek baru ini kemudian diberi nama Cyrtocactylus jatnai, sebagai penghargaan kepada ahli konservasi, ekologi dan primatologi dari Indonesia, Prof. Jatna Supriatna.

Para peneliti memuat penemuan spesies baru ini dalam jurnal TAPROBANICA Vol.09, No.1, Mei 2020. Laporan penelitian ini ditulis oleh A.A. Thasun Amarasinghe (Research Center for Climate Change Universitas Indonesia/RCCC UI), Awal Riyanto (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), Mumpuni (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), dan Lee L. Grismer (La Sierra University, California, AS).

Penamaan Cyrtocactylus jatnai yang diberikan, merupakan penghargaan kepada guru besar Universitas Indonesia kelahiran di Bali.  Prof. Jatna sendiri dikenal atas kontribusinya yang luar biasa bagi konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dan juga atas kebaikan serta dukungan yang diberikan selama kegiatan penelitian. 

________________________________________________________________

BACA JUGA: Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang

________________________________________________________________

Menurut para peneliti, sejak seratus tahun yang lalu, spesies tersebut dikenal sebagai Cyrtodactylus fumosus. Secara morfologi dan contoh dari beberapa daerah biogeografi lainnya, spesies ini menunjukkan kemiripan dengan Cyrtodactylus seribuatensis dari Pulau Seribuat di Malaysia bagian barat.

Namun berdasarkan pemeriksaan mendetail, ditemukan bahwa Cyrtodactylus dari Bali, setidaknya merupakan satu spesies yang berbeda.  Ciri morfologi yang membedakan, yaitu pada bagian sisiknya.

Selain menggunakan nama yang diambil dari nama seorang ahli dari Indonesia, berita gembira penemuan spesies endemik baru  di kawasan TNBB ini juga bertepatan dengan International Day for Biological Diversity atau Hari Keanekaragaman Hayati Dunia pada 22 Mei 2020.

"Masih terdapat kemungkinan bertambahnya spesies baru dari hasil kegiatan penelitian ini. Beberapa jenis herpetofauna masih unidentified dan sedang dalam penelitian mendetail oleh Tim Peneliti RCCC UI dan MZB," papar Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna di kantor Balai TNBB, Gilimanuk, Jumat (22/5/2020).

Agus menjelaskan, penemuan spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka kerjasama antara Balai TNBB dengan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia (Reseach Center for Climate Change Universitas Indonesia/RCCC UI).

Penelitian yang dilakukan ini berada dalam payung program Pelaksanaan Demonstrasi Proyek The Rainsforest Standard Protected Area Credit di Kawasan TNBB pada 2015 sampai dengan 2016.

Menjaga kelestarian

Temuan spesies baru tentunya menambah keanekaragaman hayati Kawasan TNBB. Sebelumnya tercatat terdapat 18 jenis mamalia, 205 jenis burung, 13 jenis reptil, 10 jenis amfibi, 67 jenis kupu-kupu dan lebih dari 120 jenis ikan.

Kekayaan keanekaragaman hayati ini juga didukung oleh keberadaan ekosistem yang cukup lengkap mulai dari ekosistem hutan hujan dataran rendah dengan 72 jenis pohon, ekosistem hutan musim dengan 66 jenis pohon, ekosistem savana dengan 55 jenis pohon, ekosistem mangrove dengan 18 jenis pohon, ekosistem hutan pantai dan ekosistem terumbu karang. 

________________________________________________________________

BACA JUGA: Cemara Sumatera di Gunung Singgalang

________________________________________________________________

Pengelolaan kawasan konservasi, papar Agus, dilakukan melalui strategi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, serta sinergitas dan dukungan dari masyarakat, lembaga adat, perguruan tinggi dan para pihak lainnya.

Hal inilah yang menjadi kekuatan bagi pengelola kawasan untuk menjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar di kawasan TNBB.

“Langkah ini sejalan dengan upaya mewujudkan visi untuk menjadi pusat keterwakilan keanekaragaman hayati Pulau Bali melalui pengelolaan yang berlandaskan keharmonisan hubungan alam, sosial dan budaya untuk kepentingan pemanfaatan berkelanjutan,” katanya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR