Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Visi Besar dari Langkah Awal Kampung Taxus

Senin, 22 Maret 2021

Taxus memiliki nilai tambah yang besar, terutama dibidang farmakologi dan ekonomi

929c6953-437e-404d-bd8c-58c9a383b6fc.jpg

BERTEMPAT di kaki gunung Singgalang, tepatnya di kaki bukit Kumayan,  sekitar pukul delapan pagi, Jumat (19/3/2021) sekretariat Kelompok Tani Hutan (KTH) Taxus Singgalang didatangi banyak orang untuk memenuhi undangan melakukan penanaman bibit Taxus sumatera di areal calon kebun pangkas nantinya.

Penanaman ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Kepala BP2TSTH Kuok, BKSDA Sumatera Barat, BPDASHL Agam Kuantan,  Camat X Koto, Wali Nagari Pandai Sikek, Kerapatan Adat Nagari Pandai Sikek sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moril terhadap kegiatan tersebut. 

Kegiatan penanaman yang dilaksanakan di Nagari Pandai Sikek ini merupakan sebuah langkah awal dalam upaya konservasi jenis taxus di Ranah Minang.  Selain sebagai kebun pangkas, areal penanaman ini diharapkan akan menjadi sebuah objek wisata alam dalam skema  wisata edukasi dan sarana penelitian untuk jenis yang langka yang juga dilindungi ini.


 

BACA JUGA: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia

 


Sebelum kegiatan penanaman, dilakukan diskusi ataupun urung rembuk dalam rangka dukungan para pihak yang hadir. Segenap stakeholder yang hadir dalam kegiatan tersebut siap untuk bersinergi dalam upaya konservasi, pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan, dan pengembangan jenis ini di Nagari Pandai Sikek. Bentuk komitmen ini dinyatakan dalam pencanangan program  “Nagari Pandai Sikek Sebagai Kampung Taxus".

Wali Nagari Pandai Sikek, H. Harmen ST. Rajo Malano menyampaikan dukungannya sebagai perwakilan pemerintah di tengah masyarakat terhadap upaya pelestarian  T. sumatrana.  “Kami sebagai aparatur desa mendukung kegiatan KTH yang fokus dengan jenis taxus ini. Kita memiliki potensi, yang mana saat ini masyarakat di Nagari Pandai Sikek berjumlah 1661 KK, dengan penduduk sebanyak 5.604 jiwa, jika 1 orang menanam 1 taxus di lahan maka kedepannya akan terdapat sebanyak 5.604 taxus di pandai sikek. Dengan demikian Nagari pandai Sikek akan menjadi Nagari Taxus, dan ini sangat logis terwujud ” ujar Harmen.

Menimpali pernyataan tersebut, Refi Agustinur Halim,S.Pi., selaku juru bicara KTH Taxus Singgalang mengungkapkan beberapa program kerja KTH dalam mewujudkan mimpi bersama tersebut. “Saat ini KTH sedang menyiapkan sekitar 20.000 batang stek taxus untuk ditanam periode berikutnya baik didalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Jika rumah tangga yang ada di nagari ini turut serta, maka sudah akan terdapat populasi taxus sebanyak lima ribuan di luar kawasan hutan,” ungkap pria alumnus Universitas Andalas ini. 

Taxus Sumatera yang dikenal juga dengan cemara sumatera merupakan tumbuhan bermanfaat besar dengan nilai ekonomi yang tinggi karena kapasitas farmakologisnya. Namun secara alami taxus rentan terhadap kepunahan. Meskipun di negara-negara lain spesies Taxus telah dieksploitasi, di Indonesia jenis ini kurang dikenal sehingga pemanfaatannya belum maksimal.


 

BACA JUGA: Cemara Sumatera di Gunung Singgalang

 


Dalam upaya untuk tetap dapat memperoleh manfaatnya yang besar terutama bagi masyarakat kecil sekitar hutan namun kelestariannya tetap terjaga maka diperlukan domestikasi dan pengembangan produk herbal dari Taxus Sumatera ini.

Di sela-sela penanaman, Yozawardi, S. Hut, M. Si yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat menyatakan apresiasi instansi yang dipimpinnya atas upaya penyelamatan tanaman langka dan dilindungi ini. “Upaya konservasi T.sumatrana ini sejalan dengan visi Terwujudnya Sumatera Barat madani yang unggul dan berkelanjutan dan misi Meningkatkan nilai tambah dan produktifitas produk pertanian dan kehutanan. Seperti yang kita ketahui, taxus ini memiliki nilai tambah yang banyak terutama di bidang farmakologi dan ekonomi. Maka dengan terjaganya kelestarian taxus di singgalang akan merealisasikan visi dan misi di atas” jelasnya.

Priyo Kusumedi, S. Hut, M.P. selaku Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan menyampaikan mengenai beberapa kontribusi institusinya terhadap upaya kelitbangan dan pelestarian jenis langka yang dilindungi ini. “Hasil eksplorasi taxus yang dilakukan oleh Tim Peneliti BP2TSTH Kuok yang bekerja sama dengan BKSDA Sumbar dan Masyarakat Pandai Sikek telah memperkaya informasi dan temuan baru terkait potensi dan penyebaran taxus di pulau sumatera, khususnya di Sumatera Barat,” ucapnya. 

 “Kegiatan penanaman taxus hari ini yang juga bertepatan dengan rangkaian hari bakti rimbawan dirasa sangat pas dengan tema Hari Bakti Rimbawan ke-38 tahun 2021 yaitu Terus Berbakti di Tengah Pandemi Untuk Lingkungan dan Hutan Lestari. Maka semua yang kita lakukan hari ini merupakan langkah nyata dari sebuah kerja nyata untuk terus berbakti walaupun pandemi global tengah melanda yang keseluruhannya ditujukan untuk lingkungan dan kelestrarian hutan,” tambah pria yang memulai karir sebagai peneliti ini. 

“Kami dari litbang Kuok bahkan sudah membimbing KTH dalam pembuatan proposal kemitraan ke perusahaan BUMN untuk bermitra dengan KTH Taxus Singgalang. Upaya tersebut dilakukan untuk merealisasikan Pandai Sikek sebagai icon taxus melalui skema pemberdayaan masyarakat guna mengembangkan wisata ilmiah tanaman langka T.sumatrana sebagai bahan bioherbal dari aspek hulu hingga ke hilir," tutur Priyo. 

Beberapa informasi mengenai potensi pemanfaatan yang berhasil dihimpun, taxus memiliki kandungan senyawa aktif yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Jenis-jenis taxus di banyak negara telah dieksploitasi untuk menghasilkan senyawa paclitaxel yang dipasarkan dengan merek dagang Taxol. Eksploitasi yang berlebihan dan karakter alamiah taxus yang lambat perbanyakan alamiahnya menyebabkan kelangkaan jenis ini di alam.


 

BACA JUGA: Membangkit Pohon Andalas yang "Terendam"

 


Dalam upaya menjaga populasinya dialam, Appendix II CITES mencantumkannya kedalam daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.  Di Indonesia sendiri, T. sumaterana telah termasuk dalam daftar jenis tumbuhan yang dilindungi dalam Keputusan Menteri LHK no. P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018.

Peneliti Muda BP2TSTH Kuok, Dodi Frianto, SP, M.Si menegaskan mengenai pencapaian kolaborasinya dengan KTH. “Budidaya Taxus sumatrana yang dilakukan oleh KTH saat ini cukup berhasil, tanaman saat ini merupakan hasil perbanyakan dari 11 Pohon induk yang berada di Gunung Singgalang”. Ke depan kami bersama tim penelitian yang lain akan mengkoleksi taxus dari daerah lain untuk ditanam di Singgalang sebagai Kebun pangkasan, konservasi genetik, edukasi dan wisata ilmiah” ujar Dodi sembari menutup lubang tanam.

Konservasi Taxus sumatrana di Gunung Singgalang ini merupakan tanggung jawab semua pihak. Sinergitas yang ada hingga saat ini antara Dinas Kehutanan Sumatera Barat, BKSDA Sumatera Barat, BPDASHL Agam Kuantan, BP2TSTH Kuok, Pemerintah daerah dan Pemangku Adat yang ada di Nagari Pandai Sikek semata ditujukan sebagai upaya konservasi. Kekayaan plasma nutfah dari negara mega biodiversitas kedua terbesar di dunia ini merupakan aset terpenting dalam keragaman genetik yang senantiasa butuh perhatian tanpa batasan waktu. (DF)*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR