Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Mendorong Adopsi Iptek hingga Skala Usaha

Kamis, 16 Juli 2020

FORPRO Gelar Dialog Hilirisasi IPTEK Pengolahan Hasil Hutan “Saatnya Mitra Bicara”

dialog-hilirisasi-iptek-05.jpg
Puslitbang Hasil Hutan KLHK
Shajar Scarf memanfaatkan struktur anatomi kayu untuk pengembangan desain scarf

Bogor – FORPRO terus mendorong pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi untuk lebih dari sekadar pengakuan terhadap hasil-hasil riset. “Merupakan suatu kebanggaan bagi sebuah lembaga riset jika hasil karyanya diakui, diadopsi, dan diimplementasikan oleh para pihak,” kata Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Agus Justianto M.Sc, Selasa (14/7/2020).

Hal tersebut diungkapkan Kepala BLI saat pembukaan webinar Dialog Hilirisasi IPTEK Pengolahan Hasil Hutan bertajuk “Saatnya Mitra Bicara” yang digelar FORPRO. FORPRO sendiri merupakan bentuk branding dari Puslitbang Hasil Hutan dalam memperkenalkan produk-produk risetnya.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Tantangan Inovasi Pemanenan Hasil Hutan

_____________________________________________________________________

Dr. Agus memaparkan, bahwa dalam komersialisasi Iptek, peran mitra sangatlah penting. “Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut dalam skala usaha merupakan salah satu bukti Tingkat Kesiapterapan Teknologi yang tinggi,” jelasnya.

Dr. Agus Justianto MSc. 

Tema “Saatnya Mitra Bicara” dipilih guna menjaring berbagai harapan mitra dan calon pengguna agar ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kegiatan litbang yang dilaksanakan tepat sasaran dan mampu menjawab permasalahan yang dihadapi.

“Iptek tidak akan berarti maksimal, jika tidak diikuti dengan komersialisasi menjadi sebuah inovasi,” lanjutnya.

Dalam pertemuan ini, Agus menggarisbawahi pentingnya pemasaran produk iptek. “Marketing produk Iptek sangat penting dan dapat mendorong pengguna dan calon pengguna mengenal dan akhirnya mengadopsi Iptek yang ditawarkan” tukasnya.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Solusi Mikroba untuk Reklamasi Lahan Tambang

_____________________________________________________________________

Agus menegaskan bahwa keberhasilan marketing akan menjadikan sebuah hasil karya litbang berdaya guna dan mampu memberikan multiplier effect positif yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya dan peningkatan perekonomian masyarakat.

Pelaksana Tugas Kepala Puslitbang Hasil Hutan, Dr. Wening Sri Wulandari menyatakan FORPRO sengaja membuat tajuk dialog “Saatnya Mitra Bicara” didasari keinginan untuk banyak mendengar pengalaman mitra yang telah mengadopsi Iptek pengolahan hasil hutan.

“Kami ingin mendapatkan masukan, dan mendengar keinginan pengguna terhadap karya-karya P3HH ke depan,” ujar Wening.

Dr. Wening Sri Wulandari

 

Halaman berikutnya: Adopsi dan kontrak kerja...

 

Adopsi dan Kontrak Kerja

Dialog ini menghadirkan tiga mitra yang berbagi cerita dan pengalaman dalam mengadopsi Iptek pengolahan hasil hutan, yaitu Dede Sujana dari Inkubator Bisnis Teknologi Politeknik Manufaktur Bandung, Andi Taufik Husein dari PT Wijaya Sentosa, dan Dinda Aisyah dari Shajar Scarf.

“Beberapa di antara produk tenan IBT Polman Bandung membutuhkan hasil produk penelitian dari P3HH sebagai komponen pendukung, di antaranya asap cair bambu dan arang bambu,” kata Dede dalam paparannya.

IBT Polman memanfaatkan asap cair sebagai produk antiseptik handsanitizer, disinfektan, pupuk tanaman, fungisida dan treatment bambu. Sedangkan arang bambu dimanfaatkan sebagai bambu purifier dan block board.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Perekat Tanin vs Sick Building Syndrome

_____________________________________________________________________

Andi Taufik Husein dari PT Wijata Sentosa mengatakan bahwa penerapan Iptek P3HH merupakan peluang bagi semua stakeholder khususnya bidang kehutanan untuk memanfaatkan inovasi litbang Bogor dalam pengelolaan hutan lestari. Sampai dengan saat ini PT Wijaya Sentosa telah mengadopsi teknologi tree length logging, Faktor Exploitasi, Arkoba, Wesyano dan Algrowmek. 

Dinda Aisyah dari Shajar Scarf menyampaikan ketertarikannya pada motif-motif kehutanan dan berniat untuk mengaplikasikannya pada produk-produk yang sedang dikembangkan diataranya adalah scarf. Shajar Scarf telah memproduksi scarf dengan motif-motif tumbuhan kehutanan di antaranya Dryobalanops aromatica, Dipterocarpus littoralis, Eusideroxylon zwageri dan sebagainya.

 “Ke depannya kami akan memproduksi kerudung polos namun dengan tema warna sesuai khas dari suatu tumbuhan kehutanan serta lebih banyak lagi ragam motif berbasis tanaman kehutanan,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatangan kontrak kerja “Pemanfaatan Struktur Anatomi Kayu untuk Pengembangan Desain Scarf” dengan Shajar Scarf.

Kegiatan ini diikuti berbagai kalangan dari unsur lembaga pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dari berbagai daerah. “Kami berharap berharap dialog ini menjadi momentum untuk menggali potensi dan inisiasi sinergi dalam pengembangan jejaring pengolahan hasil hutan,” kata Wening.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR