Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

Ini Alat Pengukur Tinggi Gelombang Inovasi KLHK

Selasa, 5 Mei 2020

Didesain untuk mendapatkan data dinamika tinggi muka air laut dan suhu permukaan air laut secara berkelanjutan

img-20200505-wa0002.jpg
ppid.menlhk.go.id

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berhasil mengembangkan Alat Pengukur Tinggi Gelombang (APTG) dalam meningkatkan efektivitas rehabilitasi hutan mangrove.

Sekretaris Jenderal KLHK, Bambang Hendroyono menjelaskan, APTG merupakan alat yang didesain untuk mendapatkan data dinamika tinggi muka air laut dan suhu permukaan air laut secara berkelanjutan.

“Data tersebut menjadi penting dalam melakukan analisis perubahan iklim yang terjadi pada wilayah tertentu dengan merujuk pada studi literatur dan kebijakan yang telah ada,” kata Bambang Hendroyono di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

_____________________________________________________

Baca juga: KLHK Kembangkan Asap Cair Bahan Baku Disinfektan

_____________________________________________________

Uji coba APTG dilakukan Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan Hidup KLHK bekerja sama dengan tim Kelompok Kerja Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada November 2019.

“Hasil pengukuran dari APTG dapat digunakan untuk menghitung kerapatan mangrove dan dari hasil perhitungan tersebut dapat digunakan untuk mendukung dalam menentukan lokasi kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan pada hutan mangrove,” papar Bambang.

Kepala Pustek KLH, Gatot Soebiantoro menjelaskan bahwa kegiatan uji coba APTG ini bertujuan untuk mengukur gelombang pesisir yang datang dari arah laut dan juga gelombang pesisir yang telah melewati hutan mangrove, sehingga dapat diketahui efektifitas hutan mangrove dan kerapatan ideal untuk meredam gelombang pesisir.

"Pada kegiatan ujicoba, dua unit APTG dipasang di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada tanggal 27 – 30 November 2019. APTG 1 dipasang di luar hutan mangrove untuk mengukur gelombang pesisir yang datang dari laut. Sedangkan APTG 2 dipasang setelah hutan mangrove untuk mengukur gelombang pesisir yang telah melewati hutan mangrove," ujar Gatot.

_____________________________________________________

Baca juga: KoFCo Nursery, Koleksi Dipterokarpa Terlengkap

_____________________________________________________

Uji coba skala lapangan APTG ini dilakukan selama satu minggu, sehingga cukup didapat data yang dihasilkan. Dalam uji coba skala lapangan ini, APTG yang terpasang dapat berfungsi dengan baik.

Gatot menerangkan bahwa APTG ini akan menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan kawasan daerah pesisir dan pantai UPT yang bersangkutan, terutama untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan kegiatan rehabilitasi wilayah pesisir pantai.

“Sudah saatnya teknologi mengawal setiap kegiatan, termasuk menanam, breeding satwa, pemulihan pesisir dan pulau kecil serta pengelolaan kawasan hutan lainnya,” paparnya.

__________________________________________________

Baca juga: Pestisida Nabati Pengganti Pestisida Kimia

__________________________________________________

Data gelombang yang didapatkan dari APTG kemudian di analisa untuk menjadi acuan secara ilmiah kapan deteksi kondisi aman untuk melaut, kondisi gelombang yang baik untuk menanam, kondisi ombak yang sesuai untuk penyu naik ke darat dan bertelur serta manfaat lainnya dalam pengelolaan kawasan pesisir.

Setelah melalui proses uji coba alat, Pustek KLH akan mengadakan kegiatan replikasi pemasangan APTG di lokasi lain.

“Rencananya akan dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Pengendalian Perubahan Iklim, dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang memiliki kawasan laut,” kata Gatot.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR