Kamis, 29 Oktober 2020
News & Nature

Identifikasi Riset Herbal ASEAN Perlu Didorong

Rabu, 7 Oktober 2020

Indonesia kembali menekankan pentingnya pengembangan dan pengelolaan hasil hutan pada forum 23rd AWG-FPD

7b057792-71c9-451f-a5f4-054c32c5d2ab.jpg
bli klhk

Indonesia menekankan pentingnya identifikasi riset Herbal Medicinal Plants (HMP) terkait pandemi Covid-19 dan harmonisasi standar untuk meningkatkan daya saing produk hasil hutan ASEAN dalam Plan of Action (POA) for ASEAN Cooperation in Forest Products Development.

Hal tersebut dipaparkan Dr. Wening Sri Wulandari,  Plt. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam  forum The Twenty Third Meeting of The Asean Working Group on Forest Products Development (23rd AWG-FPD), Selasa (6/10/2020).

 


BACA JUGA: Nanoselulosa untuk Uji Cepat Covid-19


 

AWG-FPD merupakan pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh ASEAN Senior Officials on Forestry (ASOF) untuk membahas kebijakan utama, program dan isu di bidang pengelolaan hasil hutan di wilayah ASEAN, yang mencakup herbal dan tumbuhan obat, pengembangan dan implementasi serta harmonisasi standar (perpanjangan ACCSQ), promosi perdagangan dan pemasaran produk hasil hutan dan Timber Certification Initiative (PATCI), serta pengembangan teknologi dan kerjasama hasil hutan. Pertemuan 23rd AWG-FPD digelar secara virtual pada Selasa (6/10) melalui aplikasi video conference bluejeans dengan Thailand Chairperson dan Vietnam selaku Vice Chair.

Pada pertemuan tersebut, Delegasi Indonesia dipimpin oleh Dr. Wening yang juga selaku selaku National Focal Point, Dr. Wening Sri Wulandari dengan anggota DELRI dari Pusat Litbang Hasil Hutan, Pusat Litbang Hutan, Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi, Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan dan Biro Kerjasama Luar Negeri

 


BACA JUGA: Mewujudkan Hutan Indonesia jadi Sumber Obat Dunia


 

Indonesia kembali menekankan pentingnya pengembangan dan pengelolaan hasil hutan dan menyampaikan update dan masukan antara lain tentang perkembangan hasil hutan bukan kayu. Informasi yang disampaikan termasuk penelitian dan pengembangan dan inisiatif konservasi Eurycoma longifolia (Pasak Bumi/Tongkat Ali); perkembangan ARKN FPD (ASEAN Regional Knowledge Network on Forest Products Development) website sebagai media penguatan jejaring antar lembaga riset dan promosi perdagangan ASEAN.

Selain itu dilaporkan pula mengenai Forest Law Enforcement, Governance and Trade-Voluntary Partnership Agreements (FLEGT-VPA), standar nasional antara lain melalui adopsi atau modifikasi standar ISO dan pertukaran informasi standar ISO dan IEC terbaru untuk harmonisasi; peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan integrated research.

 


BACA JUGA: Covid-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita


 

Hadir pada pertemuan ini perwakilan dari 9 negara anggota ASEAN yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Filipina. Pertemuan ini juga dihadiri perwakilan dari ASEAN Secretariat dan perwakilan dari EU-FLEGT yang turut mempresentasikan implementasi program EU-FLEGT di level regional Asia Tenggara. Pertemuan AWG-FPD ke 24 tahun 2021 akan dilaksanakan di Vietnam.



BAGIKAN

BERI KOMENTAR