Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Seribu Lebih Labi-Labi Moncong Babi Diamankan

Rabu, 21 Oktober 2020

Peredaran Labi-Labi Moncong Babi berasal dari Timika Papua melalui jalur laut menggunakan kapal tradisional

5cfe04ca-3601-4204-942b-c15c7498ca25.jpg

MAKASSAR – Lebih dari seribu satwa dilindungi labi-labi moncong babi (carettochelys insculpta) diamankan tim Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Anoa Seksi Wilayah I Makassar, Balai  Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sulawesi bersama Polhut BBKSDA Sulsel di sebuah ruko di Makassar, Minggu (18/10/2020) malam.

Di dalam Ruko Pasar Baru jalan Kima Raya I No.1 Daya Kecamatan Biringkanaya tersebut, selain menangkpa tersangka berinisial LA, tim SPORC menyita 1.301 labi-labi moncong babi dalam keadaan hidup dan 32 ekor dalam keadaan mati. Pelaku LA diamankan di Markas Komando SPORC Brigade Anoa Maros bersama barang bukti 15 boks plastik, dan 2 unit telepon seluler.

 


BACA JUGA: Puluhan Jerat Harimau hingga Landak Dibongkar


 

Operasi berawal dari laporan intelijen Polhut BBKSDA Sulsel, dan ditindaklanjutiTim SPORC Brigade Anoa yang mengintai dan membuntuti adanya aktivitas LA. Tim mencurigai LA menyimpan dan memperniagakan labi-labi moncong babi, satwa yang dilindungi undang-undang. Tim kemudian menangkap LA, warga di Desa Kaca, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, dan menyita barang bukti yang disimpan di Ruko Pasar Baru Daya Makassar.

Tim SPORC Brigade Anoa sudah lama memantau peredaran Labi-Labi Moncong Babi berasal dari Timika Papua, menuju Kendari melalui jalur laut menggunakan kapal tradisional dibawa ke Pelabuhan Bajoe hingga dibawa ke Pasar Baru Daya Makassar. Kemudian Tim, bekerjasama dengan pemerhati lingkungan yang berpura-pura menjadi pembeli. Saat ini penyidik telah meningkatkan prosesnya ke tingkat penyelidikan. Pada Selasa (20/10/2020) dilakukan penahanan di Rutan Polda Sulsel selama 20 hari.

 


BACA JUGA: Menjemput Pulangnya Satwa Endemik dari Filipina


 

Tersangka dijerat Pasal 40, Ayat 2 dan/atau Ayat 4 jo Pasal 21 Ayat 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp. 100 juta.

"Kami mengapresiasi warga masyarakat yang turut berperan aktif mengamati, dan melaporkan perdagangan ilegal tumbuhan, dan satwa liar yang dilindungi berdasarkan peraturan di Indonesia ini," kata Kepala Balai Gakkum Sulawesi, Dodi Kurniawan.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR