Minggu, 6 Desember 2020
News & Nature

Puluhan Paruh Rangkong Gading Diperjualbelikan

Kamis, 12 November 2020

Barang bukti yang disita Ditjen Gakkum dan Kepolisian bernilai Rp 6,3 milyar

946287d7-e639-435f-8b8e-8b4e69472ae8.jpg

Banda Aceh -- Puluhan paruh rangkong atau enggang gading, sisik trenggiling dan tulang belulang harimau sumatera disita dalam sebuah operasi yang dilakukan tim Gabungan Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan Baintelkam Mabes Polri dan Polda Aceh. 

"Perdagangan satwa dilindungi adalah kejahatan luar biasa, melibatkan banyak aktor bahkan aktor antar negara, jaringan pelaku berlapis, dan bernilai ekonomi tinggi. Untuk hasil operasi di Aceh ini, berdasarkan kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi nilainya mencapai Rp 6,3 milyar." kata Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono di Banda Aceh, Selasa (10/11/2020).

Tim gabungan melakukan operasi pengamanan peredaran satwa dilindungi di Jalan Lintas Bireuen – Takengon, Aceh Tengah Prov. Aceh. Tim Operasi berhasil mengamankan dua pelaku, DA dan LH serta barang bukti 71 buah Paruh rangkong/enggang gading, 28 kg sisik trenggiling, kulit dan rulang belulang harimau sumatera.

 


BACA JUGA: Seribu Lebih Labi-Labi Moncong Babi Diamankan


 

Operasi diawali adanya informasi masyarakat terkait perdagangan satwa dilindungi di Kab. Bener Meriah. Atas Informasi awal tersebut, Tim melakukan operasi intelijen dan diperoleh informasi lokasi dan waktu transaksi jual beli bagian-bagian tubuh satwa dilindungi.

Selanjutnya tim opsgab melakukan operasi tangkap tangan di Jalan Lintas Bireuen – Takengon dan mengamankan DA dan LH yang berperan sebagai pemilik barang dan sopir, beserta 71 buah paruh rangkong/enggang gading, 28 kg sisik trenggiling, kulit dan tulang harimau sumatera, serta satu mobil yang digunakan untuk mengangkut barang bukti.

Pelaku dan barang bukti dibawa ke Mako Polda Aceh di Banda Aceh untuk dilakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut PPNS Gakkum LHK dan Penyidik Polda Aceh. Pelaku diduga melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukum pidana penjara maksimum 5 tahun dan dendam maksimum Rp 100 juta.

Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs. Wahyu Widada M.Phil, menyampaikan bahwa keberhasilan operasi ini berkat koordinasi dan kerjasama antara Polda Aceh, Mabes Polri dalam hal ini Baintelkam Polri dan Ditjen Gakkum LHK. "Kami berkomitmen dan mendukung upaya penegakan hukum kejahatan terhadap satwa dilindungi, karena kejahatan tersebut juga menjadi perhatian kami dalam penyelamatan sumber daya alam hayati khususnya di wilayah Aceh," ungkap Kapolda.

Kegiatan operasi ini merupakan komitmen KLHK dalam memberantas perdagangan dan perburuan satwa dilindungi. “PPNS Gakkum LHK bersama Penyidik Polda Aceh akan melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap para pelaku dan akan dikembangkan untuk mengungkap jaringan perdagangannya”, ungkap Kabalai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduward Hutapea. 

Sementara Dirjen Gakkum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa KLHK terus berkomitmen dalam penyelamatan tumbuhan dan satwa liar sebagai kekayaan sumber daya hayati, hilangnya sumberdaya hayati bukan hanya menimbulkan kerugian baik ekonomi maupaun ekologi bagi Indonesia, tapi juga menjadi kehilangan dan perhatian masyarakat dunia.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini telah dilakukan lebih dari 1.400 operasi penindakan terhadap kejahatan kehutanan dan kami juga telah membentuk Tim Intelijen dan Cyber Patrol untuk memetakan jaringan perdagangan ilegal TSL. Selain itu kami juga telah mengembangkan koordinasi dan kerjasama dengan Kepolisian RI dan Interpol karena kejahatan TSL juga merupakan kejahatan lintas negara, tutup Dirjen Gakkum LHK.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR