Rabu, 27 Oktober 2021
News & Nature

Pattunuang, Kandidat Primadona Sulsel

Selasa, 23 Maret 2021

Sanctuary Tarsius Fuscus, Via Ferrata, Sky Camp, dan Sky Walk menjadi Andalan

36adb5ba-64bc-4588-860b-46473f2083e9.jpg
TNBB

 

Oleh: Taufiq Ismail dan Ramli (PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung)

 


TAMAN Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki kekayaan alam berupa ekosistem karst yang sangat unik nan langka. Lanskap menawan dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. Panorama bukit kapur dengan beragam potensinya sangat potensial menjadi objek wisata alam

Pada Sabtu (20/3/2021), Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menggelar kawasan wisata baru, yaitu Kawasan Wisata Pattunuang, yang menyuguhkan panorama karst berpadu sungai yang mengalir sepanjang tahun.


 

BACA JUGA: Menyusuri Jejak Sang Penjaga Arwah...

 


"Kami telah melakukan pengembangan fasilitas wisata di Kawasan Wisata Pattunuang secara besar-besaran pada kurun waktu 2018 sampai 2020. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan pemasukan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” kata Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 

Fasilitas yang kami bangun di antaranya Sanctuary Tarsius Fuscus, Via Ferrata, Sky Camp, dan Sky Walk. Selain itu dibangun jembatan gantung menuju Via Ferrata. Termasuk membenahi area berkemah di Bisseang Labboro.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno menyampaikan apresiasi atas kinerja Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Saya salut dengan kinerja Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang mampu mengembangkan kawasan wisatanya melalui intervensi pembiayaan yang berasal dari SBSN. Semoga Kawasan Wisata Pattunuang mampu menjadi primadona masyarakat Sulawesi Selatan.” 

Menurut Dirjen KSDAE, apa yang dilakukan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraug ini adalah wujud kemandirian ekonomi yang tetap memerhatikan budaya-budaya setempat. Hal ini sejalan dengan nawacita Presiden Republik Indonesia untuk membangun Indonesia mulai dari pinggiran, karenanya ia berharap jika pengembangan Pattunuang juga menggandeng masyarakat sekitar dalam pengelolaannya ke depan.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen KSDAE memberikan sejumlah penghargaan kepada Kelompok masyarakat desa binaan, penggiat konservasi, mitra kerja serta champion konservasi untuk petugas taman nasional. 

Sedikitnya 100 undangan hadir pada peresmian kawasan wisata Pattunuang yang berlangsung di lokasi terbuka ini. Undangan yang berasal dari mitra taman nasional, pemerintah setempat, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Pelaksanaan peresmian kawasan wisata ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Panitia melakukan pengecekan suhu tubuh, menyiapkan sarana cuci tangan, dan hand sanitizer. Panitia acara juga selalu mengingatkan untuk selalu menjaga jarak.


 

BACA JUGA: Ratu Anggrek dari Sebangau

 


Fasilitas yang telah terbangun menjadi sarana mempermudah wisatawan menikmati alam Pattunuang. Bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat dengan primata terkecil di dunia, mereka bisa mengunjungi sanctuary. Mengenal lebih dekat dengan salah satu satwa endemik Sulawesi Selatan, Tarsius fuscus. Bagi penikmat petualang memanjat tebing Via Ferrata adalah jawabannya. 

Bagi instagramer, Pattunuang menyediakan beragam spot foto. Bisa bergaya di Bislab Suspension Bridge. Berpose di menara jalan trail dengan latar belakang karst tak kalah serunya. Jalan trail di sisi Sungai Pattunuang juga begitu menariknya. Pokoknya Pattunuang patutlah dikunjungi.

Dirjen KSDAE bersama rombongan juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan dan depo arsip Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kedua fasilitas ini berada di gedung Pusat Informasi Bantimurung. Gedung berlantai dua yang merupakan hibah dari JICS untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pusat informasi ini berada di Kawasan Wisata Bantimurung.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR