Menyusun Rencana Aksi Rehabilitasi Bersama

Jumat, 6 Maret 2020

Peneliti BP2TSTH ikuti training ‘Forest Reforestation and Rehabilitation; Community Participatory” dari Afoco’

picture1.jpg
BP2TSTH Kuok

Yangon – Peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengikuti pelatihan “Forest reforestation and rehabilitation: community participatory” yang diselenggarakan oleh Asian Forest Cooperation Organization (Afoco), di Regional Education and Training Center (RETC) AFoCO yang berbasis di Nmawbi Township, Yangon, Myanmar, 23-28 Februari lalu.

Kegiatan ini  melibatkan delapan negara ASEAN yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Myanmar dan Timor Timur. Peserta training ini mewakili praktisi kehutanan dari instansi pemerintah di negara-negara ASEAN baik dari aparat teknis pemerintahan maupun akademisi.

Indonesia diwakili oleh empat orang peneliti lingkup Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang salah satunya berasal dari Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan.  

Setelah dibuka oleh Direktur Jenderal Departemen Kehutanan Myanmar, Dr. Nyi Nyi Kyaw, pelatihan yang berlangsung lima hari digelar. Selain  pembelajaran di kelas, kunjungan lapangan, dan diakhiri paparan rencana aksi per negara peserta yang disusun dari hasil pembelajaran.

Pembelajaran di kelas diisi oleh instruktur yang berasal dari Korea Selatan koordinator Afoco, Myanmar, Indonesia dan Food Agriculture Organization (FAO).

Pembelajaran pertama di kelas diisi oleh Prof. Lee Yohan dari Yeungnam University, Korea Selatan. Lee menyampaikan mengenai keberhasilan program Saemaul Undong dalam merehabilitasi hutan di Korea Selatan.  Program Saemaul Undong dimulai sejak tahun 1970-an, bertujuan untuk menghutankan kembali hutan di Korea yang habis dibabat dan hancur karena perang.

“Program reforestasi ini mencapai keberhasilannya karena beberapa kunci keberhasilan: national leader, partisipasi masyarakat yang dari hati dan sangat menyeluruh, dan dedikasi tinggi dari petugas Saemaul Undong mulai dari level masyarakat hingga level pembuat kebijakan di pemerintahan,” paparnya.

“Prinsip dasar dari Saemaul Undong adalah diligence, self-help dan cooperation. Saemaul Undong mempromosikan edukasi, capacity building, environment improvement, income increase, creative power of human being (dynamic society),” katanya.

Dr. Thaung Naing Oo, Direktur Forest Research Institute, Forest Department, Myanmar menyampaikan pengalaman Myanmar dalam program reforestasi nasionalnya.

“Myanmar mengalami deforestasi sebesar 1,8% pada kurun waktu 2010-2015. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Myanmar melakukan pendekatan berupa membantu regenerasi alami, penanaman pengayaan dan pembangunan hutan tanaman” ujarnya.  Tanaman utama yang dikembangkan adalah jati (Tectona grandis) dan ironwood (Xylia xilocarpa).

Pembelajaran ini disambung oleh Dr. Maung Maung Than (RECOFTC) dengan topik “Forest rehabilitation program, community and livelihood improvement” yang juga memaparkan mengenai pengalaman Myanmar.

Pemateri berikutnya adalah Prof. Ahmad Maryudi dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Ia memaparkan topik “Forest/landscape restoration & community participation: environmental justice consideration”.

“Restorasi landscape di Indonesia sangat membutuhkan pendekatan yang community driven  atau community based forest. Masyarakat diharapkan memiliki perubahan perilaku dan menginvestasikan sumberdayanya serta kemampuan mengkalkulasikan keuntungan ekonomi dari ‘forest tenure’ yang diusahakannya,” katanya.

Hal yang cukup penting dan sedang menjadi perhatian dunia saat ini juga menjadi materi dalam pendidikan ini yaitu mengenai gender dan food security. Materi ini disampaikan oleh perwakilan dari FAO. Mauro Bottaro dan Emma Gibbs. Masing-masing menyampaikan materi mengenai “The value of gender responsive approaches in the forest sector” dan “Food security and nutrition.”

Kunjungan lapangan diarahkan ke perkebunan yang dikelola oleh pemerintah dan perkebunan jati yang dikelola oleh perusahaan swasta, EFD Group. Peserta diajak untuk melihat persemaian dan tegakan jati yang dikelola oleh pemerintah Myanmar dan private sektor nya.

Selain jati, persemaian yang dikelola oleh pemerintah juga memperbanyak ironwood (Xylia xylocarpa) yang merupakan kayu komersil populer selain jati di Myanmar.

Peserta juga dilatih untuk menyusun rencana aksi untuk mendapatkan pendanaan dari donor organisasi kehutanan internasional seperti Afoco. Setiap negara peserta diklat didorong untuk dapat menyusun satu action plan per negara yang nantinya akan dipresentasikan pada hari terakhir sebelum penutupan training.

Tim dari BLI menyampaikan action plan yang bertajuk “Improving land and forest rehabilitation through social forestry in Indonesia”.  “Sebagai bagian dari delegasi Indonesia, saya mengapresiasi pihak donatur organisasi kehutanan yang memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap upaya reforestasi global dan terima kasih untuk seluruh jajaran pihak KLHK yang telah memberi kesempatan menambah ilmu serta perluasan wawasan,” Eka Novriyanti S.Hut M.Si Ph.D, peneliti BP2TSTH Kuok yang mengikuti kegiatan tersebut.

Kepala BP2TSTH, Priyo Kusumedi S.Hut. MP menegaskan bahwa keikutsertaan peneliti Indonesia bukan sekadar reward. “Setelahnya diharapkan mempunyai networking baru dan peningkatan kapabilitas dalam penyusunan proposal dengan tema yang up to date disertai dengan inovasi sebagai solusi,” katanya.

Kegiatan ini akan dilakukan beberapa kali selama 2020 dengan tuan rumah negara-negara mitra Afoco. Kesempatan tersebut selayaknya dimanfaatkan sebagai sarana penunjang bagi peneliti dalam meniti karir guna memenuhi tuntutan hasil kerja minimum per kelas jabatannya. (EN)*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR