Rabu, 29 September 2021
News & Nature

Menjemput Pulangnya Satwa Endemik dari Filipina

Minggu, 2 Agustus 2020

Repratriasi 91 satwa ini merupakan jumlah terbesar yang berhasil dilakukan

324c102b-17d0-4b21-bc62-b254e4c27dab.jpg
Gakkum KLHK

SEBANYAK 91 satwa endemik Indonesia yang terdiri dari reptil, mamalia, dan aves (burung) yang diselundupkan ke Filipina dijemput pulang untuk dibawa kembali ke habitatnya di Indonesia. Satwa-satwa tersebut diberangkatkan dari Davao, Filipina pada pukul 19.00 WIB, 27 Juli 2020 dan tiba tiga hari kemudian di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/7/2020).

Tim penjemput terdiri dari Direktur Jenderal Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani, Walikota Bitung Maximilian J. Lomban, dan Kepala BKSDA Sulut, Noel Layuk Allo.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Koleksi yang Melawan Hukum dan Merusak Kelestarian

_____________________________________________________________________

“Repratriasi atau pengembalian 91 satwa kali ini merupakan jumlah terbesar yang berhasil dilakukan, sekaligus menunjukkan bahwa komitmen dan konsistensi pemerintah dalam menyelamatkan kekayaan kehati Indonesia,” kata Rasio Ridho Sani.

Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa inisiasi repatriasi dilakukan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Indra Exploitasia Semiawan.

Indra yang juga Management Authority (MA) untuk CITES (Konvensi Internasional untuk Satwa Dilindung) di Indonesia mendapat informasi dari MA CITES Filipisan tentang satwa yang disita pada April 2019 yang memerlukan konfirmasi asal satwa.

“Dari hasil identifikasi jenis satwa, asal-usul satwa tersebut dari Indonesia wilayah timur antara lain walabi, kasuari dan julang papua,” kata Ridho.

Kemudian repatriasi dapat dilakukan menindaklanjuti Putusan Pengadilan Matic City pada 14 Oktober 2019 yang  memerintahkan Pemerintah Filipina untuk mengembalikan 134 satwa yang masih hidup kepada Pemerintah Indonesia.

Sesuai dengan Article VII of the Convention dan Resolusi CITES Conf. 17.8., dan setelah pertemuan bilateral antara MA CITES Indonesia dengan MA CITES Filipina, kedua pihak menyepakati untuk memulangkan satwa liar tersebut ke Indonesia.

Rasio Ridho Sani menambahkan bahwa keberhasilan repatriasi ini kerjasama banyak pihak seperti Ditjen KSDAE KLHK, Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan  RI di Jenewa, Manila, Davao serta Direktorat Astara, Kementerian Keuangan (Ditjen Bea Cukai), Kementerian Pertanian (Badan Karantina Hewan dan Direktorat kesehatan Hewan), Pemerintah Kota Bitung, dan Yayasan Masarang (PPS Tasikoki).

Halaman selanjutnya: Memburu kejahatan transnasional...

 

“Kami tidak akan berhenti mengejar pelaku kejahatan perburuan dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa. Kejahatan perdangan satwa ilegal ini merupakan kejahatan transnasional melibatkan aktor lintas negara. Untuk itu Berbagai kerja sama internasional kita lakukan, termasuk terkait dengan pemulangan satwa ini,” tegas Ridho.

Rasio Ridho Sani menegaskan bahwa pemerintah terus mempelajari berbagai modus operandi perdagangan illegal satwa ini. “Termasuk terus memonitor perdagangan melalui online. Kami juga telah bekerjasama dengan berbagai negara untuk menghentikan kejahatan transnasional seperti ini termasuk dengan pihak Interpol,” lanjutnya.

_____________________________________________________________________

BACA JUGA: Ceria Kukang Dilepas di Pararawen

_____________________________________________________________________

Dalam beberapa tahun ini sudah lebih dari 300 kasus kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa berhasil ditindak oleh KLHK. “Ancaman pelaku kejahatan ini adalah pidana penjara lima tahun,” tegas Rasio Ridho Sani, seraya mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung upaya penyelamatan satwa.

Satwa tersebut akan diobservasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Bitung, sampai siap untuk dilepasliarkan kembali ke alam. Selanjutnya Dirjen Gakkum dan Walikota Bitung meninjau Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki untuk proses pemulihan sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR