Selasa, 29 September 2020
News & Nature

Keselarasan Konservasi dan Membangun dengan Budaya

Rabu, 2 September 2020

Audiensi BKSDA Yogyakarta dengan Ketua DPRD Kabupaten Kulonprogo

kp3.jpg
BKSDA Yogyakarta

Yogyakarta -- Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang luar biasa. Seluruh pemangku kepentingan perlu mengenali pentingnya konservasi selaras dengan konsep Kulon Progo yaitu membangun dengan budaya.

Hal tersebut terungkap dalam audiensi Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Untung Suripto bersama tokoh masyarakat  Jatimulyo, Anom Sucondro dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kulon Progo, Akhid Nuryai, SE, Rabu (26/8/2020).

______________________________________________________________________________

BACA JUGA: Kolaborasi dalam Upaya Konservasi Satwa

______________________________________________________________________________

Audiensi dilaksanakan dalam rangka silaturahmi dan memperkenalkan Balai KSDA Yogyakarta sekaligus membahas mengenai potensi keragaman hayati satwa di kawasan Kulon Progo. Dalam kesempatan ini, M. Wahyudi menyampaikan mengenai keberadaan Suaka Margasatwa Sermo di Kabupaten Kulon Progo.

“Balai KSDA Yogyakarta mendapatkan mandat untuk menjaga dan mengelola kawasan konservasi yang adai di DIY, dan khusus di Kabupaten Kulon Progo kawasan konservasi yang dikelola Balai KSDA Yogyakarta adalah SM Sermo,” katanya.

Balai KSDA Yogyakarta, lanjut Wahyudi juga mendapatkan mandat untuk pelestarian satwa dan ekosistem di luar kawasan konservasi seperti monitoring keberadaan satwa liar di luar kawasan konservasi. “Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang luar biasa. Saat ini sedang proses pengusulan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Manoreh, yang melintasi Kabupaten Kulon Progo.”

Kulon Progo juga memiliki potensi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Karst Menoreh yang sedang berproses dan terdapat juga calon Area Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT), salah satunya kawasan Pesisir Trisik karena tempat mendarat penyu dan juga transit burung migran. “Selain itu upaya konservasi khususnya burung juga terdapat di Kelurahan Jatimulyo dengan Perdes-nya bisa dijadikan model yang bisa dicontoh oleh wilayah lain,” papar Wahyudi.

Halaman berikutnya: belum ada konsep melindungi...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR