Jumat, 23 Oktober 2020
News & Nature

CA Mandor Dibersihkan dari Pertambangan Ilegal

Rabu, 2 September 2020

Penyidik Gakkum KLHK saat ini juga memanggil dan memeriksa para aktor intelektual pemodal dan cukong tambang ilegal di CA Mandor

cacover.jpg
Gakkum KLHK
Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum LHK, Sustyo Iriyono memberikan keterangan di lokasi Cagar Alam Mandor.

Pontianak – Sebanyak 400 penambang ilegal beserta 154 mesin dompeng atau mesin robin dikeluarkan dari area pertambangan tanpa izin (PETI) di Cagar Alam (CA) Mandor, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Operasi yang dilakukan Gakkum KLHK bersama aparat militer dan sipil yang dilakukan sejak 27 Agustus 2020 ini menyelamatkan kawasan seluas sekitar 700 hektare dari kerusakan lebih parah.

“Kawasan CA Mandor harus dibersihkan dari segala aktivitas illegal dan ekosistem yang sudah rusak harus dipulihkan. Pemulihan ini akan melibatkan masyarakat setempat,” kata Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di lokasi operasi Cagar Alam Mandor, Rabu (2/9/2020).

__________________________________________________________________________________________________

BACA JUGA: Tambang Ilegal Klapanunggal Disegel

__________________________________________________________________________________________________

Di lapangan, Gakkum KLHK bergerak bersama BKSDA Kalimantan Barat, Kodam XII/Tanjungpura, Brimob dan Korwas PPNS Polda Kalbar, Satpol PP Kab. Landak dan unsur Muspika Kec. Mandor. Sustyo menegaskan, pelaku dapat dikenakan pidana berlapis yaitu Pasal 89 Jo. Pasal 17 Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

 

 

“Di samping itu, para pelaku juga dapat dikenakan Pasal 19 ayat (1) UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan Pasal 98 Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar,” paparnya.

Selain itu, Penyidik Gakkum KLHK saat ini juga memanggil dan memeriksa para aktor intelektual pemodal dan cukong tambang ilegal di CA Mandor.  “Kami akan menjerat aktor intelektual tersebut dengan pidana berlapis serta mengembangkannya kepada para pelaku lain yang terlibat. Kejahatan lingkungan merupakan kejahatan luar biasa,” tegas Sustyo.

 

 

Sustyo menambahkan bahwa pihaknya tidak berhenti untuk melakukan penindakan seperti ini. ”Tahun 2014, kami pernah melakukan operasi serupa dan berhasil mengeluarkan sekitar 450 orang penambang ilegal, memusnahkan lebih dari 100 pondok penambang ilegal dan menghancurkan 60 set mesin dompeng, 1 buldoser, serta menangkap 7 penambang ilegal dan 2 WNA yang menjadi cukongnya.

Halaman selanjutnya: jangan ada minamata...

Halaman:  12

BAGIKAN

BERI KOMENTAR